Dirwan Geleng Kepala Dengar Keterangan Gusnan di Depan Majelis Hakim

Sidang Kasus Dirwan Mahmud di Pengadilan Negeri Tipikor Bengkulu, Kamis (18/10). 
Sidang Kasus Dirwan Mahmud di Pengadilan Negeri Tipikor Bengkulu, Kamis (18/10). 

Klikwarta.com - Sidang lanjutan kasus suap dalam OTT KPK 15 Mei 2018 lalu dengan terdakwa Dirwan Mahmud, Hendrati dan Nursilawati, digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Bengkulu, Kamis (18/10). 

Sidang menghadirkan empat orang saksi ini cukup menarik karena salah satu saksi yang dihadirkan adalah pelaksana tugas Bupati Bengkulu Selatan Gusnan Mulyadi. 

Pantauan media, saat sidang Gusnan dicecar JPU KPK dengan berbagai pertanyaan, dimulai dari awal mulanya Gusnan dan Dirwan Mahmud mencalonkan diri sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Bengkulu Selatan. 

Dalam cerita singkat Gusnan, saat pencalonan didukung beberapa partai pengusung dan mendaftar ke KPU Bengkulu Selatan. Setelah itu, Gusnan menyampaikan adanya keterlibatan Juhari alias Jukak dalam proses pemenangan di Pilkada Bengkulu Selatan itu.

Dari keterangan Gusnan juga terkuak adanya pertemuan di Rumah Makan Riung Bandung di Kota Manna pada tahun 2015 silam. Pertemuan itu membahas peran Juhari sebagai tim sukses dan kontribusi Dirwan Mahmud ketika nantinya terpilih sebagai Bupati Bengkulu Selatan.

Gusnan membenarkan bahwa ada janji dari Dirwan Mahmud kepada Juhari, ketika nanti terpilih akan diberikan kesempatan mengerjakan proyek di Bengkulu Selatan. Selain itu, Juhari juga dijanjikan akan dibantu duduk di DPRD Bengkulu Selatan.

Penjelasan Gusnan Mulyadi di persidangan itu sempat membuat Dirwan Mahmud geleng-geleng kepala, hingga akhirnya pengacara Dirwan Mahmud menyampaikan keberatan kepada Majelis Hakim. 

"Maaf yang mulia, pertanyaan JPU ini sudah mengarahkan," kata Saiful Anwar, pengacara Dirwan Mahmud.

Juhari alias Jukak seperti diketahui adalah pelaku pemberi suap kepada Dirwan Mahmud yang diberikan melalui istrinya, Hendrati saat terjadi OTT KPK. 

Majelis Hakim PN Tipikor Bengkulu sebelumnya telah menjatuhkan vonis bersalah kepada Juhari alias Jukak dengan hukuman 3 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan.

Dari fakta persidangan sebelumnya, peran Juhari telah terbukti sebagai salah satu tim pemenangan Dirwan Mahmud dan Gusnan Mulyadi saat keduanya menjadi pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Bengkulu Selatan pilkada 2015 lalu. Karena perannya itu, Juhari kemudian menagih janji kepada Dirwan Mahmud untuk berikan pekerjaan berupa proyek di lingkungan Pemda Bengkulu Selatan.

Namun demikian, Juhari harus tetap menyetorkan sejumlah fee atas proyek yang dikerjakan. Hingga pada 15 Mei 2018, KPK mencokok Juhari saat memberikan suap kepada Dirwan Mahmud melalui perantara keponakannya yakni Nursilawati yang kemudian diberikan kepada istri muda Dirwan Mahmud Hendrati. (JS)

Related News