JHON TARCO: Hujan Bulan Juni

Selasa, 24/07/2018 - 17:56
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Muhammad Bisri Mustofa

Sekian lama tak hujan, kini ia kembali dengan buru-buru, di sore hari. Mengusap semua rerumputan lewat daring-daring histogeni, membasuh perdu pohon Jamuju di seberang teras. Percikkannya sesekali terbawa angin, menerpa rona pipiku; mengalir beriring tetes air mata sepersatu.


Kuperhatikan, awan kelam yang sedari tadi enggan lepas dari tatapku, menyemburat tersedu. Kukira ia memang terbiasa begitu, namun setelah kucermati, ternyata ada rasa simpati mengoyak kiasnya kala ini.


"Hai, Nimbus! Ada apa denganmu? Sedari tadi kau di situ sedang temanmu sudah lama berlalu. Aku curiga, apa kau memang bermaksud bersimpati padaku, atau justru mengolok-olokku?!" kataku dengan lantang.


Sepatah kata yang keluar dari mulutnya hanya membuatku makin sebal. Mengoceh dengan air liur bertumpahan. Tidak sopan.


"Nimbus!!? Enyahlah kau pergi. Sudah kubilang kalau aku sedang menangis, jangan pernah kau hadir bawakan diorama rindu. Selalu saja begitu. Andai saja aku bisa menangkapmu, akan kusekap dan kukubur kau dalam-dalam. Pergilah Nimbus!!"


Di sekeliling teras rumah, genangan makin tinggi meruak. Sampai-sampai aku tak sadar, bunga pemberian Jhon yang kutanam di sisi anggrek siam, membeku kedinginan. Segera kuangkat pot bunga malang itu.


Allamanda Cathartica, bunga yang selalu mengingatkanku pada Jhon Tarco; lebih kusanjung sebagai bunga Tarco, tumbuh bersemi dengan subur seiring bergantinya musim panas kali ini. Ia selalu membuatku tenang saat sedang gundah. Apalagi kian hari kelopaknya kian bertambah; makin cinta pula aku denganmu, Jhon.


Tapi kemana kau saat ini. Aku sudah hampir sebelas bulan menunggu. Janjimu juni ini kau kembali. Berarti tinggal hitungan hari lagi keputusanku padamu akan berakhir. Berpindah haluan, atau tetap samar.


Kau tidak tau rasanya jadi aku. Adik-adikku semuanya sudah menikah. Dan aku sebagai bungsu, terlampau setia menunggu hadirmu kembali. Kemana sebenarnya kau pergi. Pesan-pesanmu yang kau tulis pada selembar kertas kala itu, sudah rapuh berayap. Dan ini penghujung bulan yang kau tetapkan akan datang menemuiku; menikahi dengan jati diri, tanpa tersiar tanda-tanda kenyataan.


Ayolah Jhon. Aku sudah malu. Hampir setiap saat aku menangis di hadapan Nimbus, dan kau tidak tahu rasanya. Begitupun dengan Tarco yang kau tanamkan rasa cinta padanya. Memang semakin hari ia semakin subur dan tumbuh cantik. Namun aku, si pemiliknya; kian layu dan kalut. Mukaku pucat pasi. Lihat! Tepat seperti kehadiran Nimbus yang tak aku harapkan kedatangannya.


Sekali lagi persepsiku tentangmu, Jhon; kau jahat.


. . .


Sudah hampir satu jam aku menangis. Dan tak ada satupun yang peduli padaku. Kecuali Nimbus dan Tarco yang hanya terbiasa membisu; selamanya. Mungkin jika lain hal yang kutangisi, mereka takkan tinggal diam mematung, melambai-lambai seperti itu. Hanya kepadamulah asaku terbenam saat ini Jhon.


Kau tidak pernah tahu bukan? Umurku yang sudah berada di seperempat abad ini, telah empat kali menolak kehadiran seseorang yang sudah jelas asal-usulnya, jelas tujuannya, etikad baiknya menemui keluargaku. Namun aku hanya mengingatmu. Jelas menjaga seasa janji yang pernah kita ucapkan kala itu. Karna apa? Karna Cuma aku yang tau bahwa menunggu adalah satu simbolisme kesetiaan Jhon. Lain cerita jika sudah melampaui batas perjanjian. Mungkin aku akan meninggalkanmu dan melupakan niat tersirat dalam suratmu. Dan jelas, menangisimu kali ini bukan sebuah kerancuan yang kuikat pada benang merah; menunggu, melainkan sebuah pilihan.


Orang tuaku sudah begitu risau melihatku begini. Menolak orang kelima, jelas akan membuatnya marah dan kecewa. Seperti sebelum-sebelumnya. Bukan karena aku ini tidak laku atau cantik dimata lelaki lainnya, tapi coba kau dengar, kau lihat orang di sekelilingku Jhon. Mereka hampir setiap hari mencibirku. Membicarakan akal sehatku menunggumu. Menunggu seseorang yang tak mereka kenal dan itu kamu.


Cukup mengingatkan saja, pertamakali kita bertemu; kau hanya berani mengantarkanku di depan pagar rumah dan tak sampai menatap wajah ayahku. Dua tahun pacaran dan kita hanya saling mengenal satu sama lain, namun tidak dengan keluargaku, keluargamu. Ayolah! Ayahku selalu menolak kehadiran namamu dibenaknya Jhon. Ia jelas akan menamparmu jika tidak akan pernah datang ke rumah. Karna apa?, jelas karna kau tak punya nyali meninggalkanku sendirian menunggu setahun yang tlah lalu, hanya dengan janji berkalimat,


“Tunggu aku, Nina. Dalam waktu setahun, izinkan aku menyiapkan segalanya. Pernikahan kita hanya butuh waktu berbicara. Usah satu dekade, setahun saja cukup. Aku sedang mengejar karir dan pekerjaanku. Dan kurasa semuanya akan siap, ketika Juni mendatang kau masih setia menungguku…”. Jelas aku mengingatnya dan kutanam dalam hati bahwa komitmen itu nyata mencintai. Namun, kau tidak tahu surat yang kau tulis tersebut hanya menyisakan beberapa penggalan saja karna tlah dimakan rayap; “Tunggu aku…pernikahan kita…juni…kau…setia menungguku,” menjadi seperti sebuah kalimat Tanya, bukan?


Jika kau tetap tidak datang, orangtuaku telah menyiapkan alarmnya akhir bulan nanti. Good luck Jhon. Semoga kau sedang dalam perjalan menuju kemari.

. . .

“Bagaimana, Nina. Apakah pangeranmu benar-benar akan datang akhir bulan ini?” pertanyaan yang jelas sangat membosankan bagiku yang sudah terlalu sering dilontarkan ayah akhir-akhir ini. Aku masih tetap tegar meski dalam hati pertanyaan itu ingin aku sanggah. Tapi aku tak punya senjata untuk menjawab kepastian.


“Begini, Nina. Jika dalam dua-tiga hari ini dia tidak benar-benar menemuimu, maka ayah akan mengambil keputusan lain yang tidak bisa kamu abaikan kali ini.” Ayah mulai berbicara dingin, dan benar adanya, tabiat yang tidak bisa kami tanggalkan ketika ia sudah seperti itu.


“Ayah akan menikahkanmu dengan anak dari sahabat ayah. Dia seorang pengusaha muda yang sudah terkesas sukses. Kuharap kamu tidak mengecewakan ayah, Nina.”  Aku tetap tak memberikan jawaban. Setiap jawaban yang keluar dari mulutku, tetap saja nama Jhon yang terus keluar. Ayah sudah muak dengan nama itu.


Aku segera masuk ke dalam kamar. Mencoba mencari keberadaanmu melalui segala jenis aplikasi sosmed, tanpa terkecuali nomor kontak teman-temanmu. Kau memang benar mengujiku kiranya. Tidak ada nomor telpon, tidak ada pin BBM, tidak ada satu akunpun kutemui dengan nama tenarmu. Bahkan nomor teman-temanmu yang tersimpan dalam buku telponku, semuanya sudah tidak aktif.


Tunggu dulu!, Aku baru ingat. Email yang kau tulis di buku Bimbel, apakah masih aktif kau gunakan, Jhon. Segera kuperiksa semua lembaran buku yang sudah lama tak kubuka, seingatku, kau menuliskannya. Ya, sebelum ujian Bimbel.


KETEMU. 


Segera kubuka emailku yang sudah lama tak kupakai. Mudah-mudahan ada titik terang dari sebuah klausa penantian ini.


Ada kotak masuk.

Dari: [email protected]

Kepada: [email protected]

Tanggal: 2 mei 2018 12:21


“Nina, tanggal 27 aku pulang ke Nomaria. Aku segera membawa kedua orangtua untuk menemuimu. Tunggu aku ya, sayang.”

. . .

Kulihat rumah begitu ramai dari biasanya. Ada apa ini? Ayah sedang berbincang-bincang dengan seseorang yang sangat asing bagiku. Atau jangan-jangan. Akupun segera berlari menuju pintu belakang. Menguntit dari dalam kamar Septa, sekaligus menguping pembicaraan yang sudang sangat serius itu.


“Bagaimana kalau tanggal 28, nanti?” samar-samar terdengar dari mulut orang yang sebaya di depan ayah.


“Menurutku kapan saja tanggalnya bukan jadi masalah, bung. Yang jadi pertanyaan, mengapa tak kau bawa sekalian anakmu kemari, hahaha?” gelak ayah sambil menepuk bahu sang tamu.


Ya, pasti orang itu sahabat ayah yang beliau katakan sedari kemarin.


“Jadi begini, Fal. Anakku sekarang sedang bergegas pulang dari Davinci, Itali. Ya, sekedar mengurus urusan bisnis yang sedang ia kerjakan saat ini. Sekitar satu hari lah kiranya dia sampai. Makanya untuk sekarang dia tidak ikut langsung untuk melamar anakmu. Namun dia berjanji untuk segera memberi kejutan kepada kita.” Jawaban percaya dirinya memicu senyum bagi ayah dan ibuku.


Hah?! Melamar? Mengapa ayah begitu kejam tanpa memberi tahu terlebih dahulu padaku soal ini. Sudah berapa kali kuutarakan keberatanku dengan sikap seperti itu. Tapi harus bagaimana lagi. Hari ini sudah tanggal 26 dan kau tak kunjung datang.


. . .


Aku benar-benar tak bias mengelak. Kali ini aku menyerah. Seluruh tamu undangan begitu saja datang tanpa sepengetahuanku. Berbagai sudut rumah penuh ruah tak terhitung siapa dan berapa jumlahnya. Tim rias terus mendandani. Dan yang paling payah adalah bagian make up. Dia terus saja memoles-moles pipiku dari air yang mengalir, agar rona berbagai macam bedak tak pudar dari bilasannya. Air mata keletihan. Air mata putus asa.


“Sudahlah, Non. Memang begitu nuansanya hari pernikahan. Haru, senang atau bahagia dan segala macam lainnya campur aduk dalam kenangan., eh akal maksudnya.” Kata salah satu penata rias.


“Sudah-sudah jangan menangis terus. Jika begini kapan selesainya?!” wanita yang menaruh bedak di pipiku mulai dongkol.


Tak berselang lama kemudian, datang ibu dengan buru-buru.


“Nina, sudah siap, Nak? Mempelai pria segera sampai kemari. Ayo, Nak. Bergegas, usap air matamu. Calon suamimu tak ingin melihat kau terpaksa menikahinya.” Sambil mengajakku berdiri, ibu memelukku sejenak.


Aku segera turun, dituntun ibu yang menguatkanku, aku harap ini keputusan tepat.


Ada banyak pasang mata menatapku kagum. Dengan kecantikan yang sempurna, dibalut gaun indah, menjulur sepanjang penantianku pada Jhon Tarco yang tak tau kemana rimbanya.

Namun di sebrang sana kulihat ada keramaian yang tak kalah heboh. Di luar pintu rumah tampak ayah menyambut tamu yang mungkin kiranya adalah keluarga mempelai pria. Ada sesuatu yang menaruh perhatian padaku. Wajah sayu seperti berkabung. Ya, itu orang yang dua hari lalu bercakap-cakap dengan ayah. Ia memberikan secarik kertas sambil berbisik-bisik di telinga ayah. Suratkah?.


Segera kugeser pandanganku kearah berlainan. Tak ada seorangpun yang kulihat selain orang yang mirip dengan wajah Jhon. Ah! Ataukah itu kamu Jhon?! Ingin rasanya aku berteriak memanggilnya, pun menghampirinya. Tapi aku justru takut kalaulah hanya sebuah fatamorgana. Jadi lebih baik kuurungkan hingga sampai benar nyatanya bahwa ia bukanlah Jhon.


Ayah segera menuntunku ke arah tempat resepsi, ruang depan. Aku terus menundukkan kepala. Tak ingin kulihat rasanya pria yang ada di hadapku. Sesampainya di singgasana, dan BrrruKkkkk…. Tak kusadari selanjutnya.


. . .

Ibu segera mengoleskan minyak angin di hidungku. Ya. Selesai sudah kiranya apa yang tak pernah kusaksikan.


“Nina.. Nina, kau sudah sadar, Nak? Syukurlah. Acaranya sudah selesai, Nak. Kenapa kau tak sadarkan diri? Suamimu cemas sedari tadi menunggumu.” Kata-kata lembut yang terlontar dari mulut ibu segera mebuatku beranjak bangkit.


“Itu suamimu. Sedang menunggumu di depan pintu kamar,”


Aku bangun dan melihat bahwa itu benar-benar Jhon. Aku segera menghampirinya. Kudekap ia erat-erat sambil menumpahkan segala kekesalanku, air mata yang selama ini masih kubendung untuk segera kulampiaskan padamu, Jhon.


“Mengapa kau tega sekali, Jhon! Tanpa kabar, tanpa komunikasi dan kali ini kau datang memberi secerca kejutan padaku…Huuuuhu” aku terisak sambil memukul-mukul bahunya dengan ringan. Tak kutatap mata itu dengan tajam. Aku hanya butuh sandaran. Ya, sandaran yang selama ini kunanti. Trimakasih kau sudah menepati janjimu Jhon.


“Nina, Nina, hei Nina. Lihat aku. Aku bukan, Jhon. Aku Redy, adiknya Jhon. Jhon tidak kemari, Nina. Dia tidak akan pernah kemari. Ada sepucuk surat darinya,”


“Maaf, Jhon sudah tiada Nina. Pesawat yang ia tumpangi mengalami gagal mesin dan mengalami tabrakan yang dahsyat dan sampai saat ini, pihak penerbangan sedang mencari keberadaannya. Namun sudah dipastikan bahwa tidak ada satupun yang ada di dalam pesawat selamat. Aku saudara kembar Jhon, Nina. Dan surat ini, surat yang ia berikan padaku melalui pesan email yang kuperkiraan ia tulis di dalam pesawat terbang.”  Kata-kata yang tak pernah ingin kudengar.


“Jhon telah tiada!? Maksudmu?

"Ya, Nina. Itulah kenyataannya."

"Tidak. Jhon pasti kemari. Dia sudah berjanji padaku. Tidak mungkin apa yang kamu katakan tentangnya." kali ini aku menangis histeris. Cinta yang selama ini tertanam hanya tumbuh menghasilkan ketiadaan. Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Kau kemana Jhon. Kau sudah berjanji akan datang menemuiku dengan jati dirimu sendiri, bukan orang lain. Bukan adikmu, Jhon.

"Nina, semua ini di luar kehendak manusia. Tuhan tlah berencana lebih baik dari perkiraan kita. Yang tiada mungkin ayahmu batalkan, sekalipun niat tulusnya adalah menjodohkanmu. Tapi kamu tidak pernah tahu, bukan? Ternyata selama ini ayahmu berteman baik dengan ayahnya Jhon. Dan tentang kecelakaan ini, siapa yang menginginkannya? Setidaknya Jhon sudah menepati janjinya akan menikahimu, Nina." ibu menyemangatiku.

Benar adanya. Timbul kekuatan yang terucap dari bibir sakti itu, bahwa kau sudah benar-benar menepati janjimu. Lalu sekarang, janjiku untuk setia menunggu; pun sudah tertunaikan.


. . .

"Nina. Aku tidak pernah takut sekalipun maut menjemput. Cintaku semata-mata tulus padamu. Tidak tanpa waktu. Aku hanya menguji sampai mana kau seia menunggu... Kali ini Tuhan menjemputku lebih dulu. Maaf, kutitipkan cinta ini pada Redy, adikku.

Kalimat yang tertulis pada email bernamakan JHON TARCO itu, membuatku lebih siap menjawab cercaan dari Nimbus. Ya, tidak ada lagi tangisan yang membuntuti kehadirannya. Bilamana Nambus datang sebagai hujan, ia lebih berarti jika kukaitkan dengan kehadiranmu Jhon. 

Tags

Related News

loading...