Pentingnya Daya Kritis Dalam Menanggapi Berita Hoax

Rabu, 12/07/2023 - 19:34
Ilustrasi berita hoax (Sumber: pixabay)
Ilustrasi berita hoax (Sumber: pixabay)

Oleh : Melati Gita Permatasari 

Klikwarta.com - Berita hoax sekarang ini sedang marak tersebar di berbagai media baik itu media cetak maupun media online. Mirisnya, kebanyakan dari masyarakat kurang peduli dengan adanya hal tersebut. Kebanyakan dari masyarakat bisa dengan mudah mempercayai berita hoax dan tak segan-segan untuk menyebarluaskan kepada khalayak. Salah satu wujud penerapannya yakni berupa fitur filter. Sebagai contoh, di Instagram dapat menyaring konten dengan tema tertentu supaya ditampilkan lebih sedikit. Dengan cara ini, konten-konten bertema tidak pantas atau mengganggu dapat diminimalisir kemunculannya. Beberapa situs juga dilengkapi fitur untuk menyaring kata kunci tertentu. Dengan memanfaatkan fitur-fitur tersebut, kemungkinan mengonsumsi berita “sampah” akan semakin kecil.

Arti hoax adalah kabar, informasi, berita palsu atau bohong. Hoax merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Dengan kata lain, arti hoax juga bisa didefinisikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Ciri penyebaran berita hoax yakni, menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan atau pemujaan.
Salah satu cara yang tepat bagi masyarakat dalam menyaring informasi hoax di media sosial adalah dengan menjalankan literasi media. Literasi media adalah seperangkat perspektif yang kita gunakan secara aktif saat mengakses media massa untuk menginterpretasikan pesan yang kita hadapi. Literasi media berhubungan dengan bagaimana khalayak dapat mengambil kontrol atas media. Dan merupakan skill untuk menilai makna dalam setiap jenis pesan, mengorganisasikan makna itu sehingga berguna, dan kemudian membangun pesan untuk disampaikan kepada orang lain.

Contoh berita hoax salah satunya yaiut Berita Hoaks Ratna Sarumpaet, ini pernah viral pada tahun 2018. Berita ini masuk dalam peringkat pertama yang paling banyak dibicarakan oleh masyarakat. Hoaks yang disampaikan dalam berita adalah penganiayaan Ratna Sarumpaet. Berita ini menampilkan bukti sebuah foto yang memperlihatkan wajah Ratna Sarumpaet seperti memar dan bengkak. Awalnya hoaks ini disebarkan melalui Facebook yang diunggah pada 2 Oktober 2018.

Setelah itu berita juga sempat tersebar dengan cepat di Twitter. Bahkan beberapa tokoh politik juga menanggapi dan membenarkan adanya penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet tanpa verifikasi kebenaran kasus tersebut. Lalu, setelah mendapat banyak perhatian dari masyarakat, polisi menyelidiki berita yang beredar tersebut. Setelah diselidiki maka didapatkan hasil bahwa berita tersebut adalah hoaks. Wajah bengkak yang terjadi pada Ratna Sarumpaet merupakan efek dari operasi bukan sebuah penganiayaan.

Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif diharapkan selalu lahir dari pola pikir di masyarakat. Masyarakat harus mampu melihat fakta yang ada dalam berita, apakah sudah memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan disebutkan, serta memahami tujuan yang asli  dan mendasar. Dengan begitu masyarakat mampu membangun sikap kritis saat menerima pesan hoax dan selektif ketika menerima pesan maupun berita.

Sikap kritis harus dibangun dalam diri sehingga menjadi  langkah positif agar masyarakat tidak terpengaruh maupun terprovokasi dengan segala berita yang memuat postingan yang mengandung kebencian maupun menyudutkan kelompok tertentu. Masyarakat harus lebih teliti dalam menerima berita hoax dan menjadikan diri mereka sebagai salah satu penggerak dalam menanggulangi berita hoax. Kita perlu menyeleksi hal apa saja yang penting dan perlu untuk dipublikasikan. Merubah kebiasaan pada diri sendiri dengan cara lebih bijak dalam menerima informasi kemudian menyebarkan kebiasaan baik tersebut kepada lingkungan kita.
 

Tags

Related News