Halaqah Jombang Bedah Qanun Asasi, NU Diminta Kembali Jadi Kabar Gembira Bangsa

Jumat, 28/08/2026 - 23:43
Forum Halaqah Pemikiran di Pondok Pesantren Al-Utsmany, Tambakberas, Jombang

Forum Halaqah Pemikiran di Pondok Pesantren Al-Utsmany, Tambakberas, Jombang

klikwarta.com, Surabaya - Dinamika internal NU dan peran kebangsaannya kembali dibedah tuntas. Forum Halaqah Pemikiran di Pondok Pesantren Al-Utsmany, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026) malam, mengajak seluruh Nahdliyin kembali ke ruh awal pendirian organisasi: Qanun Asasi.

Digelar di tengah "riuh" Muktamar ke-35, diskusi kultural ini menghadirkan Sekjen DPP Partai Golkar M. Sarmuji, bersama Pengasuh Ponpes Al-Utsmany KH Fathullah Malik dan KH Ubaidillah.

M. Sarmuji dalam paparannya menegaskan, warga NU struktural maupun kultural wajib menggali ulang raison d'être, NU melalui Qanun Asasi karya Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy'ari. 

Ia mengutip QS. Al-Ahzab : 45-46 yang jadi mukadimah kitab tersebut. NU harus menjadi kabar gembira bagi masyarakat dan bangsa, bukan justru memicu perpecahan.

"Hadratussyaikh menghendaki NU hadir seperti seruan Allah kepada Nabi yang menjadi mubashshiran wa nadhiran_ — menjadi kabar gembira, pengingat, penyeru di jalan Allah, sekaligus pelita kehidupan," ujar pria yang akrab dipanggil Cak Sar didampingi anggota DPRD Jatim Hadi Setiawan, Jairi Irawan, dan Sumardi.

Sarmuji kemudian menyoroti fenomena belakangan, mulai dari perebutan konsesi tambang hingga perselisihan antar-elit. 

"Gak usah gegeran, tapi ger-geran. Tidak ada yang perlu diperebutkan, Ridha Allah itu sangat luas dan tidak terbatas. Aneh jika organisasi lain dapat kelola tambang bisa memperlebar manfaat, tapi di NU justru jadi alat bertengkar. Ini tandanya kita perlu belajar keikhlasan lagi," selorohnya yang disambut tawa peserta.

Menjawab itu, KH Fathullah Malik menegaskan pesan Qanun Asasi, NU adalah Darussalam, negeri yang damai dan perekat keberagaman bangsa. 

Maka, selaku pengurus NU harus meneladani akhlak kiai pesantren

"Berkhidmat di NU itu ibarat bersedekah. Tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Tidak perlu berharap imbalan seketika, semata-mata mencari ridha Allah," tutur KH Fathullah.

Halaqah yang berlangsung interaktif ini juga menyentuh tantangan zaman. Para peserta membahas bagaimana menjaga tradisi asketisme dan sanad keilmuan pesantren di tengah gempuran digitalisasi dan kecerdasan buatan.

Kesimpulannya: keunggulan pesantren ada pada hubungan batin antara santri dan kiai. Dimensi spiritual ini tidak bisa digantikan teknologi atau transfer ilmu tanpa kedalaman jiwa.

Forum ditutup dengan pesan agar pengurus struktural NU mau mendengar suara kultural dari pesantren. Tujuannya satu: agar NU tetap konsisten menjadi penerang dan pembawa kedamaian bagi seluruh umat.

 

Berita Terkait