Tangis Rohingnya (Net)
Bila melihat beberapa orang tua tapak menangis, karena takut tidak pernah mendengar kabar dari anak-anak mereka lagi. Ada yang tersenyum pada prospek kehidupan yang membaik, meski tidak pernah mendengar kabar dari orang yang mereka cintai. "Di mana saja lebih baik, daripada kehidupan diluar kamp,” kata seorang ibu.
Klikwarta.com - Berbagai pertanyaan dan pikiran yang berkecamuk melihat kondisi tragis yang terjadi menimpa kaum wanita Rohingya. Pertanyaannya, kemana anak-anak ini dibawa, dan oleh siapa? Dengan melakukan penyamaran sebagai orang asing yang baru tiba di Bangladesh, tim investigasi berangkat untuk melihat apakah kami bisa mendapatkan akses ke anak-anak korban seks.
Hanya 48 jam, setelah meminta pemilik hotel dan pondok pantai kecil - tempat yang terkenal untuk menawarkan kamar untuk seks - tim menemukan nomor telepon mucikari lokal. Dengan sepengetahuan polisi setempat, tim meminta kepada mucikari, agar menyediakan gadis-gadis muda yang tersedia untuk orang asing, khususnya gadis-gadis Rohingya.
Sang Muncikari bertanya, "Kami memiliki gadis-gadis muda, banyak. Tapi mengapa Anda menginginkan Rohingya? Mereka adalah yang paling kotor", katanya.
Dari penyelidikan yang berulang dilakukan tim, dalam hierarki pelacuran di Cox's Bazar, gadis Rohingya dianggap paling tidak diinginkan dan yang paling murah tersedia.
Apakah Ini Pembersihan Etnis?
Pengungsi Rohingya dipaksa melakukan pekerjaan seks. Perempuan Rohingya di Bangladesh menghadapi 'pelacuran paksa. Tim sempat ditawari gadis beiia oleh berbagai mucikari yang berbeda, beroperasi sebagai bagian dari jaringan. Selama negosiasi tim penyamaran tetap menekankan kalau tim ingin bermalam bersama gadis-gadis itu segera, karena kami tidak ingin menciptakan permintaan.
Ironisnya, foto-foto para gadis yang berbeda-beda mulai berdatangan, dan diberi tahu kalau mereka berusia antara 13 dan 17 Tahun. Jumlah gadis yang tersedia dan skala jaringan sangat mencolok. Jika tidak cocok, masih banyak foto gadis lainnya.
Juga diperoleh informasi, banyak gadis tinggal bersama keluarga mucikari. Ketika mereka tidak bersama klien, mereka sering memasak atau membersihkan. "Kami tidak menjaga gadis-gadis itu untuk jangka panjang. Sebagian besar pria Bangladesh datang untuk mereka. Mereka bosan setelah beberapa saat. Gadis-gadis muda menyebabkan lebih banyak keributan, jadi kami menyingkirkan mereka," jelas seorang muncikari.
Dengan pencatatan dan pengawasan yang dilakukan, tin investigasi mempresentasikan bukti kepada polisi setempat. Sebuah tim kecil ditugaskan untuk melakukan operasi sengatan. Mucikari langsung diidentifikasi oleh polisi.
"Aku kenal dia. Kami sangat mengenalnya," kata salah satu petugas polisi. Mungkin seorang informan, atau penjahat yang dikenal, tidak jelas apa maksudnya.
Dalam persiapan menyengat itu, tim sempat memanggil germo tersebut, dan meminta dua gadis yang kami lihat di foto itu dikirim ke hotel terkemuka di Cox's Bazar pada pukul 20:00 waktu setempat. Orang asing yang menyamar menyamar sebagai klien, anggota Yayasan Sentinel, menunggu di luar hotel dengan seorang penerjemah. Petugas polisi yang menyamar ada diareal parkiran, menunggu sang penyelundup tiba.
Saat pukul 20.00 waktu setempat, tim yang mengaku klien serentak menelepon para germo. Mucikari ingin klien datang saja kehotel, tentu saja tim menolak. Sebagai gantinya, si germo mengirim supir untuk mengantarkan dua anak perempuan dari foto yang pernah tim lihat.
Usai uang diberikan, tim bertanya, "Jika malam ini bagus, bisakah kita mendapatkan lebih banyak?" Sopir itu mengangguk setuju. Uang tunai ditangan, polisi masuk. Pengemudi ditangkap. Para anak-anak itu dititipkan pada penitipan anak profesional dan pakar perdagangan membantu merawat anak-anak perempuan tersebut.
Salah seorang gadis menolak untuk pergi ke tempat penampungan. Sementara yang lainnya mengatakan bahwa mereka masih berusia 15 tahun, untuk pergi ke perawatan sosial.
(Disarikan oleh Benny Hakim Benardie)








