Dari Kuli Panggul hingga Pemilik Travel Umrah, Perjalanan Hidup Agus Sungkowo Mencari Rida Ilahi

Senin, 19/05/2025 - 18:33
Sumber : Zaidan Fakhir

Sumber : Zaidan Fakhir

Oleh : Zaidan Fakhir Heryani

Klikwarta.com - Dalam hiruk pikuk dunia usaha yang semakin kompetitif, nama PT. Al-Hazmi Wisata Imani muncul sebagai salah satu biro perjalanan umrah yang dikenal karena integritas dan sentuhan spiritual dalam pelayanannya. Di balik nama besar itu, berdiri seorang pria sederhana dengan kisah hidup yang luar biasa: Agus Sungkowo.

Bukan anak konglomerat, bukan pula lulusan luar negeri. Agus adalah pria yang ditempa langsung oleh kerasnya hidup, sejak kecil hingga kini menjadi pengusaha sukses. Perjalanannya membuktikan bahwa keikhlasan, kerja keras, dan membangun relasi yang baik mampu membuka jalan bagi siapa pun yang berani berjuang. Agus Sungkowo lahir dalam kondisi keluarga yang sangat terbatas. Kedua orang tuanya mencintainya, namun keterbatasan ekonomi memaksa mereka untuk menitipkan Agus kepada keluarga M. Ishak, seorang tukang servis sofa yang tinggal di pinggiran kota Jakarta.

“Orang tua kandung saya bukan membuang, tapi menyelamatkan saya,” ujar Agus dengan tenang. “Saya beruntung karena keluarga Pak Ishak memperlakukan saya seperti anak sendiri.” Di keluarga barunya, Agus hidup dalam kesederhanaan. Ia diajarkan untuk bekerja sejak kecil, menghargai makanan, dan tidak malu dengan pekerjaan apa pun yang halal.

Masa kecil Agus diisi dengan berbagai pekerjaan berat. Ia berjualan kantong plastik di pasar, menjadi kuli panggul, dan bahkan pernah menjadi tukang koran. Semua ia lakukan demi membantu kebutuhan keluarga. Ketika remaja, ia sempat menjadi penyiar radio lokal, dan berlanjut sebagai kernet angkutan umum untuk menambah pemasukan harian.

“Saya terbiasa bangun pagi sekali, bantu Ibu masak, lalu berangkat jualan atau bantu di pasar. Capek itu biasa, tapi saya percaya Allah lihat perjuangan saya,” kenangnya. Meski sibuk bekerja, Agus tetap aktif di pengajian dan majelis-majelis. Di situlah ia mulai membangun relasi spiritual yang kelak sangat penting dalam hidupnya.

Perjalanan hidup Agus mulai berubah ketika ia bertemu seorang wanita yang kini menjadi istrinya. Perempuan itu bukan hanya pasangan hidup, tapi juga menjadi jembatan menuju takdir baru: melanjutkan usaha keluarga mertuanya di bidang pabrik kerupuk rumahan.

“Waktu itu saya sama sekali tidak paham soal bisnis makanan. Tapi saya pelajari. Saya belajar dari nol lagi, ikut produksi, distribusi, semua dijalani,” katanya.

Berkat kegigihannya, bisnis pabrik kerupuk yang semula kecil berkembang menjadi pemasok ke berbagai toko dan pasar di Bogor dan Depok. Namun hati Agus terpanggil untuk sesuatu yang lebih mulia.

Setelah cukup stabil di bisnis makanan, Agus mulai merintis usaha travel umrah yang telah lama ia impikan. Ia ingin membantu lebih banyak orang mewujudkan impian suci: beribadah ke Tanah Suci. Dengan relasi yang ia bangun selama bertahun-tahun, dari para habib, pejabat, guru, hingga kenalan dari pengajian, lahirlah PT. Al-Hazmi Wisata Imani, biro travel umrah yang mengutamakan kejujuran dan pelayanan rohani.

“Bagi saya, memberangkatkan orang umrah bukan sekadar bisnis, tapi amanah. Saya ingin para jamaah merasa tenang, nyaman, dan ibadahnya diterima Allah,” ujar Agus dengan yakin.

Kini, perusahaannya telah memberangkatkan ribuan jamaah ke Mekkah dan Madinah, dengan testimoni positif yang terus mengalir.

Kesuksesan tidak membuat Agus lupa diri. Ia tahu betul, hidupnya adalah hasil dari banyak tangan yang membantunya. Maka, ketika mampu, ia memberangkatkan keluarga kandung dan keluarga angkatnya serta para guru dan habib yang pernah membimbingnya ke Tanah Suci.

“Ini bentuk rasa terima kasih saya. Tanpa mereka, saya mungkin tidak berdiri di sini hari ini,” katanya sambil menahan haru.

Kini, selain menjalankan bisnis, Agus aktif menjadi pembicara motivasi dan mentor bagi pemuda-pemuda yang ingin memulai usaha. Ia mengajarkan pentingnya relasi, akhlak, dan keberanian untuk mulai dari bawah.

“Saya ini cuma orang biasa. Tapi saya percaya, kalau kita serius, sabar, dan jujur, Allah pasti bukakan jalan,” ujarnya.

Kisah hidup Agus Sungkowo adalah gambaran nyata bahwa takdir bisa diperjuangkan. Bahwa tak harus lahir dari keluarga kaya untuk bisa sukses. Dan bahwa keberhasilan sejati adalah saat kita mampu mengangkat orang lain bersama dalam perjalanan menuju kebaikan.

“Rezeki bukan soal jumlah, tapi keberkahan,” tutup Agus. “Dan keberkahan itu datang ketika kita bersyukur, berbagi, dan tidak menyerah.”

Tags

Berita Terkait