Dilewati Dua Sesar, Ini Pesan Legislator Rasiyo Buat Warga Surabaya

Selasa, 15/09/2026 - 05:36
Anggota Komisi E DPRD Jatim, Rasiyo

Anggota Komisi E DPRD Jatim, Rasiyo

klikwarta.com, Jawa Timur - Kondisi geologi Surabaya kembali disorot. Kota Pahlawan ternyata dilintasi dua patahan aktif, yakni Sesar Surabaya dan Sesar Waru. 

Untuk mengantisipasi potensi pergerakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Kota Surabaya mulai memasang alat pemantauan khusus di sejumlah titik.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Rasiyo, mengapresiasi langkah BPBD Surabaya tersebut. Menurutnya, kehadiran alat pemantau dan sistem peringatan dini penting untuk menjaga keselamatan warga.

"BPBD sudah melakukan itu, makanya masyarakat harus memperhatikan. Misalnya untuk menjaga keamanan kita semuanya, jadi ada sirine yang dilakukan oleh BPBD untuk mengatasi itu semuanya," kata Rasiyo, Senin (14/9/2026).

Rasiyo meminta warga tidak panik berlebihan dengan adanya pemasangan alat dan sirine tersebut. Baginya, itu bagian dari upaya mitigasi bencana yang sifatnya rutin.

"Tidak usah risau karena itu bencana alam. Yang penting kita siapkan sistemnya, siapkan informasinya, dan masyarakat tahu harus berbuat apa saat ada peringatan," ujarnya.

Data kebencanaan menunjukkan Surabaya dilalui Sesar Surabaya yang membentang dari arah barat ke timur, dan Sesar Waru yang memotong wilayah selatan kota. 

Dua patahan ini termasuk sesar aktif yang berpotensi memicu gempa jika ada pergeseran. Meski begitu, hingga kini belum ada tanda-tanda aktivitas signifikan yang membahayakan.

Karena itu BPBD memilih jalur pencegahan. Pemasangan alat pemantau bertujuan merekam setiap aktivitas mikro di sepanjang patahan. Sementara sirine disiapkan sebagai sistem peringatan dini jika sewaktu-waktu terjadi gempa yang berpotensi merusak.

Rasiyo mendorong BPBD tidak hanya memasang alat, tapi juga menguatkan edukasi ke masyarakat. Ia menilai pemahaman warga tentang mitigasi gempa masih minim.

"Alat sudah ada, sirine sudah ada. Sekarang tugas kita memastikan masyarakat paham. Kapan harus keluar rumah, titik kumpulnya di mana, jalur evakuasinya lewat mana. Itu yang harus terus dilatih," tegas politikus asal Surabaya ini.

Ia juga meminta Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran khusus untuk simulasi kebencanaan secara berkala di sekolah, kantor, dan permukiman padat.

"Kalau masyarakat sudah terbiasa dengan sirine dan tahu prosedurnya, maka ketika terjadi apa-apa kita tidak gagap. Mitigasi itu kuncinya di kesiapan, bukan di ketakutan," pungkasnya.

Tags

Berita Terkait