Foto Istimewa
Oleh : Miftah Dwi Kharunia
Klikwarta.com - Kehilangan seseorang membuat manusia mengerti bahwa rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Namun, hal itu juga mengajarkan bahwa Tuhan selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan. Ayah, begitulah anak perempuan itu memanggilnya. Ayah menjadi pria pertama yang ia kenal, sekaligus menjadi pria pertama yang ia cintai. Bersama Kakak dan Ibu, ia sungguh menjalani kehidupan bahagia laksana kisah negeri dongeng.
Pelukan hangat guna menenangkan tangisnya, kecup manja yang terkadang membuatnya geli, hingga jemari kekarnya yang selalu ada untuk menggelitiki tubuh mungil anak perempuan itu tak pernah luput mengiringi setiap langkah awal kehidupannya.
Kenangan masa kecil mulai menyapanya, ketika banyak permainan yang dilakukan bersama Ayah. Terkadang juga bercerita kisah perjuangan Kakek pada masa kemerdekaan, hingga cerita mitos yang sering kali membuatnya takut.
Dan ketika hari libur, Ayah selalu mengajak ia dan Kakak berlatih olahraga bulu tangkis. Tak heran jika Ayah melakukan itu, karena ia adalah juara bulu tangkis di kampung halamannya.
Ia juga ingat saat pertama kali diajari naik sepeda oleh Ayah, lututnya berdarah karena berkali-kali terjatuh di lapangan yang berpasir. Namun katanya, “Princess ngga boleh nangis, anak Ayah hebat!”.
Ayah adalah orang yang selalu bersamanya, mendukungnya dengan tulus dan penuh sabar. Ayah mengajarkannya untuk bisa mandiri dan belajar bekerja keras, namun tetap memanjakan anak perempuannya itu.
Seiring berjalannya waktu ia tumbuh, Ayah semakin gigih mencari nafkah demi memenuhi segala kebutuhan serta keinginannya. Ia masih ingat, bagaimana Ayah selalu menyiapkan sebungkus permen yupi untuk menyambutnya selepas kerja.
Dalam larutnya malam, Ayah pun selalu membawa seribu cerita unik yang siap mengantar tidurnya. Meskipun telah banyak waktu tersita untuk pekerjaan, namun Ayah tak pernah tampakkan keluh itu dihadapan anak-anak dan istrinya.
Hingga tiba saatnya semua berubah. Tak pernah ada manusia yang ingin sakit. Begitupun ia, Kakak, dan Ibunya, seperti mendapat tamparan keras bertubi-tubi ketika melihat Ayah ambruk di ranjang rumah sakit.
Bagaimana bisa ia berhenti membenci rokok, jika kepulangan Ayahnya disebabkan oleh benda berisi daun-daun tembakau itu. Sakit hati rasanya mengingat empat hari lamanya Ayah hanya terbujur kaku tanpa bisa ia menjenguknya setiap hari.
Seandainya waktu bisa dikendalikan, ia ingin selalu absen sekolah demi menjaga Ayah di rumah sakit. Tidak apa jika Ibu nantinya akan memarahi, asal bisa ia peluk Ayah di sisa hidupnya.
Namun, Tuhan akhirnya memiliki rencana yang lebih indah untuknya. Tuhan ingin mengambil Ayah dari peluknya, Kakak, dan Ibu begitu cepat. Tak kuat rasanya ia berhenti menangisi kepergian Ayah.
Saat napas Ayah berhenti di mesin pendeteksi jantung, ia berlari mendekapnya, mencoba menggoyangkan tubuhnya dan berharap bahwa Ayah masih hidup. Kemudian Kakak menarik anak perempuan itu ke dalam pelukan, memberi pengertian bahwa Ayah telah meninggal dunia.
Tak lama dokter dan perawat datang, memastikan denyut nadi Ayah dengan alat pacu jantung. Sebanyak empat kali alat tersebut ditempelkan di dada Ayah, namun nihil. Alat tersebut tidak memberikan reaksi sedikitpun terhadap Ayah.
Ketika itu dunia terasa hancur baginya. Tak ada yang merasa kuat ketika baru saja ditinggal orang tersayang, terlebih adalah orang tua sendiri. Ditambah sesak ketika melihat Ibu hanya menatap kosong ke arah jenazah Ayah.
Aku, Kakak, dan Ibu perlahan mencoba ikhlas. Berjanji selalu berpegang tangan meneruskan jalan kehidupan walau kini tanpa Ayah. Ia dan Kakak juga berusaha untuk menjadi teman terbaik bagi Ibu.
Kini, ia tumbuh menjadi wanita mandiri seperti pinta Ayahnya dulu. Kesuksesan memang bukan soal mudah, ketika tiba masanya ia harus mewujudkan impian tanpa sosok Ayah di sisi.
Menjadi seorang jurnalis dan penulis hanya bagian angan-angan yang mudah ketika ia targetkan di masa sekolah dulu. Namun, ia salah jika angan itu butuh ribuan motivasi dan usaha demi mewujudkannya.
Ayah, ketika menulis ini ia merasa tidak bahagia. Ia justru menangis sembari tidur di sebelah Ibu. Mengingat kembali semua nasihat dari Ayah dan Ibu yang kelak menjadi bekal perjalanan impiannya.
Namun, rasanya saat ia coba mewujudkan impian, hanya orang asing yang men-support selain Kakak dan Ibu. Mereka datang dengan berbagai cara dan karakteristik. Meskipun ada yang tidak baik, tapi ia harus lebih lapang dada menerimanya.
Permintaan maaf ia haturkan karena terlalu merindukan Ayah, sesak rasanya hanya bisa menatap Ayah lewat bingkai foto, dan ketika hanya guratan senyumnya yang terlihat di sana. Walau kini raga tak lagi di sisi, dan tidak lagi berpijak pada bumi yang sama, hanya doa satu-satunya alat komunikasi dengannya.
Ia percaya di suatu tempat sana, doa dan harapan tulus akan selalu sampai padanya melalui Tuhan.
Percayalah bahwa ungkapan, “Cinta pertama seorang anak perempuan adalah Ayahnya” nyata adanya. Ayah, tetap tersenyum di pangkuan-Nya. Semoga kelak engkau dan anak perempuan ini dapat dipertemukan kembali di Surga-Nya.








