Ketika Mahasiswa Harus Memilih Antara Kuliah atau Bekerja

Minggu, 18/05/2025 - 19:16
Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

Oleh : Tegar Putra Syah Soyana

Klikwarta.com - Pagi itu di Kota Jakarta, matahari belum naik tinggi ketika aku duduk diam di pinggir ranjang. Layar ponsel menampilkan saldo rekening yang nyaris beku: tak bergerak sejak dua minggu terakhir. Di luar kamar, suara ibu terdengar pelan, sedang mencatat pengeluaran harian di buku kecilnya.

Ayah sudah satu tahun tidak bekerja karena di PHK oleh perusahaanya dengan alasan efesiensi pegawai saat tahun covid kemarin dan saat ini masih menunggu kabar dari perusahaan yang dia lamar, duduk di meja makan sambil mengaduk kopi tanpa gula. Kontrakan kami kecil, tapi cukup hangat meski sering kali kehangatan itu tercampur rasa cemas.

Aku sudah kuliah hampir dua tahun. Tapi semester ini berbeda. Setelah banyak pertimbangan, perhitungan, dan diam-diam menangis malam hari, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Cuti kuliah selama satu tahun penuh.

Keputusan itu tidak datang tiba-tiba. Ini bukan soal kehilangan semangat belajar. Ini karena kenyataan finansial yang tak bisa ditunda lagi. Uang jajan kuliah yang makin hari makin sedikit. Kebutuhan rumah mendesak. Dan aku tahu, jika hanya duduk di bangku kuliah, aku akan merasa bersalah terus-menerus. Bukan hanya pada diriku, tapi pada keluarga.

Aku mulai bekerja di sebuah kedai jus yang sedang naik daun di kota. Shift panjang dari siang sampai malam, berdiri berjam-jam di balik meja saji, meracik pesanan, membersihkan meja, menerima komplain pelanggan yang kadang marah karena jus alpukatnya kurang gula. Gaji pertama masuk dan aku merasa lega, walau jumlahnya tidak besar. Tapi cukup untuk beli beras, bayar listrik, dan kirim uang sedikit ke ibu.

Tapi semakin lama, aku merasa tercekik. Biaya hidup naik, dan gaji tetap. Aku hitung kembali: tidak cukup untuk bantu keluarga sekaligus menabung untuk kebutuhan kuliah tahun depan. Maka aku resign. Berat memang, tapi aku tak bisa terus bertahan hanya demi rasa aman yang semu.

Aku berpindah ke sebuah pusat perbelanjaan. Retail terbesar saat ini. Sistemnya lebih tertata. Atasan lebih tegas tapi adil. Di sini, untuk pertama kalinya aku merasa sedikit bernapas. Gaji yang lebih stabil, jam kerja yang teratur, dan lingkungan yang memberi rasa profesional. Suatu malam, setelah gaji cair, aku belikan ibu obat dan makanan kesukaannya. Kami makan bersama, dan dia menatapku dengan mata yang sedikit berkaca.

"Alhamdulillah ya, tahun ini ibu merasa lega. Terima kasih ya Bang, kamu udah bantu keluarga ini" katanya.

Kata-kata itu bukan pujian. Itu kekuatan. Sejak malam itu, setiap kali ingin menyerah, aku ingat kalimat bunda.

Tiga bulan bekerja di sana, aku mulai berpikir lebih jauh. Gaji cukup, tapi belum bisa menabung signifikan. Kalau aku ingin benar-benar kembali ke kuliah, aku butuh lebih. Bukan hanya untuk bayar SPP, tapi juga biaya transportasi, fotokopi, dan kadang makan siang di kampus. Maka aku kembali mencari.

Akhirnya aku diterima di sebuah perusahaan produksi daging. Perusahaan yang dari luar terlihat biasa saja, tapi di dalamnya aku menemukan banyak harapan. Gajinya jauh lebih memadai. Yang lebih penting, atasan memperlakukan kami seperti manusia. Ada hari ketika kami bekerja lembur, dan beliau datang membawa makanan ringan untuk semua karyawan. Hal-hal kecil seperti itu membuat perbedaan besar.

Di tempat ini, aku mulai menyusun ulang mimpiku. Kuliah bukan mimpi yang padam, hanya ditunda sejenak. Di sela-sela pekerjaan, aku mulai menabung lebih serius. Aku kumpulkan informasi soal prosedur kembali kuliah, urus surat cuti, dan hubungi dosen pembimbing untuk menyampaikan niatku. Ada yang kaget, tapi sebagian besar mendukung. Mereka tahu, aku tidak menghilang begitu saja.

Meski begitu, bukan berarti semuanya mudah. Ada malam-malam ketika aku membuka Instagram dan melihat teman-teman angkatan mulai posting foto kerja kelompok, seminar, dan sedang magang di media-media besar. Mereka seolah sedang hidup versi ideal dari masa muda. Sedangkan aku? Pagi kerja, malam hitung pengeluaran. Di waktu istirahat, duduk di mushola kantor sambil mikir “Cukup nggak bulan ini buat kirim uang ke rumah dan tetap simpan sedikit buat kuliah?”.

Tapi kemudian aku ingat lagi, “ini bukan lomba. Hidup tidak datang dengan garis start yang sama untuk semua orang. Aku mungkin harus jalan lebih lambat, tapi tidak berarti aku kalah”.

Di Indonesia, banyak mahasiswa yang harus memilih seperti aku. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan tingginya angka pemuda usia produktif yang tidak melanjutkan pendidikan karena alasan ekonomi. Di balik angka itu ada cerita-cerita seperti punyaku tentang mimpi yang harus ditekuk dulu agar bisa terus makan dan hidup.

Aku sering bertanya-tanya “kenapa pendidikan tinggi masih terasa seperti kemewahan? Bukankah seharusnya itu jadi jalan keluar dari kemiskinan?”. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu ada jawabannya sekarang. Yang aku tahu, aku harus terus berjalan.

Saat ini, aku belum kembali ke kampus. Tapi tabungan sudah cukup untuk membayar semester depan. Aku mulai mempersiapkan diri kembali menjadi mahasiswa. Tapi kali ini berbeda. Aku tidak lagi datang ke kelas hanya karena kewajiban. Aku datang karena aku tahu rasanya bertahan hidup di luar sana.

Aku menulis ini untuk siapa pun yang pernah merasa tertinggal, merasa terpaksa memilih antara kuliah atau bekerja. Kamu tidak sendiri. Perjuanganmu nyata. Dan rasa lelahmu tidak sia-sia.

Aku masih bermimpi. Tapi sekarang, aku bekerja untuk mewujudkannya. Setiap langkah kecil yang kuambil bukan menjauhkan, tapi justru mendekatkan.

Tags

Berita Terkait