Kumpulan Puisi Karya Muhammad Bisri Mustofa

Minggu, 27/05/2018 - 05:19
ilustrasi (Net)
ilustrasi (Net)

DITANAH ANARKI

Hati menggebu, berdebar, hilang arah
Jiwaku dis
isi, ditanah air asing

Memeras keringat memacu peluh,

Di jendela angan
Berdiriku
peratapi

Di cabang widuri
Memandang sangsaka
bertiang bambu
Berkibar tak
kembang
Menjulang tak terbang
Ada lelah di tiang kemajuan

Ada janji tak pernah tepat terucap lisan
Makmur dan sejahtera bagi rakyat hanya bias semata

Aku “asing” ditanah air ku
Artikulasi tak berisi
Bendera berkibar tanpa tiang

Ucap di balik segelas kopi
Tak mengantarkanku
pada kemerdekaan

Merdeka itu bebas
Dan bebas itu berkarya

Dirgahayu 71 Indonesia-ku

Taba Saling, Bengkulu. 17 Agustus 2016

-------------------------------------------------------------------------------------------

Bida-dari Dunia

Di tikam kecantikan
Sayap  'bidadari’ dunia
Lentik balutan sutra pada "rusuknya
Jeruji aurat menerpa tiada henti

Ku tunjuk satu
Mewakilkan ketaqwaan, pengabdian

balutan kasih sempurna
Antara Mahabbah Rabb

Dan ruas rusuk-ku

Bengkulu, 02 Februari 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Termenung Aku

Di bawah alam sadar

Ijinkan hening keluh hati
Supaya duka luka

Tiada memecah sunyi malam
Menggelegar hambar kebenak sang rahman

 

Cerita bisu
Tiada benar-benar tahu, Aku
Hati bersenada
Naskah luka

Terlihat tiada tanya

Bengkulu, 06 Februari 2017 ·

-------------------------------------------------------------------------------------------

Lelahku

Bolehkah beristirahat

Memangku dagu di bahu tegar

Sudikah mendongeng

Masa muda-Mu kekar membatu

Maukah menebar bibit  mimpi

Di benakku rapuh, gusar

Maukah

Maukah, ayah???

Bengkulu, 18 Maret 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Balada Insomnia I

Taukah?

Jatuh cinta jadikan dewasa
Mengalun merebak di telinga

Menuntun hati kokoh mandiri

Bisa apa?
Ketika hati terketuk
cinta

Menjalar  nadi mendarah daging

Tanpa cinta

Tak mengenal rasa
Salah cinta, bisa apa?

Hidup tidur di kegelapan

Membuat tak nyaman
Terbelalak mentari

Tak jua jatuh hati

Sukar,
Tak berdaya,
Juga monoton

Hadir cinta hati nyaman

Pun segalanya

Di kegelapan memandang dan berjalan,
Di
bawah terik tersisih bernaung

Bak embun di tengah gurun

Sekian terjemahan
Cinta mampu membaca hati

Bengkulu, 07 April 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Hakekat Cinta Suci

Bawa aku jatuh cinta lagi,
Pada siapapun
Yang mencintai tuhannya

Kepada siapa saja
Yang menduakan Cintaku
demi rabbi

Atau jauhkan aku

Demi seutas mahabbah maha rahman

Bengkulu, 21 April 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Maaf Tuhan, Aku Sedang Sibuk I

Tuhan,

Meninggalkan mu siang malam

Bukan niat melalaikan
Cukup bagiku

Melihatmu dari sisi manapun

Yang ku mau

Sejauh ini

Tak sedikit menemukan

Kecintaan abadi pada dunia
Sampai tertuju padamu
Sampai nasehat
tiba kepadaku

Semesta

Tergambar Sempurna mu
Bisikan tauhid yang usang

Hadir pada duniawi

Semena-mena mencintai
 

Semua jadi ruh

Sujud mengagungkan mu

 Tuhan,

Hambakan aku
Jadi jalan keridhaan mu

Bengkulu, 24 April 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Samar

Rapuh kelopak mawar
Di
dera ombak deras
Lembut belai embun
Menyibak relung hati

Menahan diri di terpa senja
Sang mawar b
ersua menyambutku

Bersama mahkota esok

Tenang hamparan samudera
Camar bernyanyi
Hambar menyikapi sepi

Dingin angin menepis
Lekang hening, hadir memapah sayu

Sepi
Sunyi
Berteman intonasi pagi

Derup sayu mentari

Bengkulu, 29 Mei 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Kelana

Tapaki jalan hidup
Akrab bumi denganku


Ada logat yang tak ku lupa
Pada siang, malam berganti

Ahhh, ku duga
Dia menganulir kenyamanan,
Rasa terbangun, benak belaka
Diam,
Bisikan kedigdayaan fana


Andai rupa ku rubah,

Bagai burung terbang bebas
Arungi laut lepas
Susuri langit tanpa pamit

 

Dengan pongah

Kepak sayap mengibas badai,
Menyapu
, menyapa dunia

Lewat dan istirahat

Bukan karna aku khalifah alam
Bergerak
Berbisik
Dan
Melupa

Argajaya, 05 juli 2017, AuRora

-------------------------------------------------------------------------------------------

Kontribusi  Alus

Sejak meninggi sang surya
Ia membelaiku

Mendekap hangat

Sekat dinding atmosfire
Lantang menyapu bulir sayapku

Enggan luput
Malu menatap terik

Ia mulai turun setengah hasta
Melirik tumpah rasa

Menjulang curam di bibir pantai
Ikat janji esok hari

Berbisik

Enggan tinggal sendiri
Di
jamah waktu,

Di rengkuh malang gulita

Ku balas tatap-nya
"Yang menemani;

Bukan menggantikanmu"

Rona rembulan walimu
Anyam mimpi hingga kembali


Usah risau,

Meski bersimpang
Ingat janji ku,

"Kita seumur, tertatih di buaian
Kau menimang semat kasihmu
Berujar halus tak
ku lupa"

 

Sudahlah
Takan pergi tanpamu
Bermimpi sendiri,

Menjaga halusinasi

Tak sedetik waktu
Mencegah maju

Kau tau
"Aku ingin
hidup seribu tahun lagi"

Bengkulu, 26  Juli 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Lentera Di tepi Malam

 

Tiada sapa

Malam  takut rembulan cemburu

Di sela pekat kabut, meronta, malu,

Ragu berujar waktu
 

Malam diam melangkah
Cahaya henti di pembaringan

 

Gusar,

Kalut sampai larut
Embun membalut lembut
Lentera  menyerangai
Pada jiwa khidmat

Tersirat


Angin hembuskan rindu
Mesra mengoyak luka
Kelabuhi rasa sampai bias
Anyam kemesraan

 

Bengkulu, 31 Juli 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Di Atas Hutan Mangrove
 

Berdua melirik alam
Tersemai menjulang semampai

Hias rantai rawa, tepian dangkal


Sambut biduk lalu lalang

Memecah riak ombak sungai

Ku tulis, memandang
Rimbun semilir daun melambai


Tersenyum mencibir
Cemburu malu kutanya padanya

Kutatap celah langit

Rimbunan pohon bakau

Enggan aku pulang

Kampung Bahari, 06 Agustus 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Jiwa Para Veteran

 

Gersang  menepi selepas purnama

Jiwa-jiwa kuat di restui tuhannya

Sontak gemuruh

“Ingin hidup seratus tahun lagi

Meminta tuhan

Melalui kapas-kapas doa

Kenang merdeka tanpa duka

Bengkulu, 13 Oktober 2017

“Selamat hari veteran: mengenang jasa para veteran doa terbaik untuk pahlawan Indonesia”

-------------------------------------------------------------------------------------------

Cumbui Aku


Cumbui aku lewat duka
Lewat lepuh luka
Lewat gelap gulita

 Lewat dingin gemetar
Cumbui aku sesukamu fatamorgana

 

Aku takut hilang waktu
Aku takut
sepi
Aku,...arghhhh

 

Tak ku genggam
Ku sentuh
Merangkul mu
Tapi

Rasa yang ku utarakan tak bicara cara

 

Ku kutip tahun lalu

Lipat lembar baru
Ku tutup bingkai harap bersamamu

 

Monalisa,
Ku berpuisi
dengan nurani
Sampaikan fatamorgana
Utarakan cinta padamu

 

Bengkulu, 22 Agustus 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Daku Duka Dunia

Daku tersenyum sinis
Melihat hampar metamorfosa
Alam, insan, kekerasan

Abu tebal menguntit udara segar
Asam sulfat mengais pilu

Polusi, debu merongrong ruh

Perlahan
Daku terusir oleh
mu… Juga dia


Satu persatu  

Plastik, Sampah, polusi
Mendaging pada alam
Akrab semesta terlantar tanpa ampun,
Daku menanamkan duka

Untuk cucu-cucu terCinta

Tapak Paderi, 27 Agustus 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Selaput Sastra

Dini hari
Tidur bermimpi
Meredam lelah
Membungkam gelisah

Telisik secerca prosa
Yang menyajikan cinta

Lampiaskan nafsu bijaksana
Menggelora di celah kata-kata

Metafora tersaji
Di batas mimpi

Menuang ide
Rima menjadi mimpi
Klausa menjadi mimpi
Lalu,

Ku tulis absurd

Ataukah,?

Diam, hening mengendap

Bengkulu , 04 September 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Metafora Semesta

Halusinasi

Tatap lukis alam
Menderai di
atas kalbu nirmala-nya
Terkikis lahan hujat

Memandang langit

Lafas Khas tulisan Kalam

Cipta Tuhan bernaung ilham

Sungguh,

Jiwa tentram tertanam fasih
Bawa hamba

Cinta, memuja, membaca
Muhabbah
maha rahman

Tiada luka hamba
Tiada kira Patuh bertakwa....

Bengkulu, 07 September 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Dera Hujan Dirumah Dosen

Mulai khawatir

Duduk di sini di tepi garasi

Pandang langit alam
Menggelegarkan halilintar
Berteduh diri dari kuyup
Menunggu terbukanya pintu itu

Aku terusik
Suara nyaring bising
Sedang waktu
terus menyusut

Ku coba rebah di tepian kolam
Ku
lihat ikan kegirangan
Air curah mengalir

Buat seisi kolam segar terpana

Satu jam kami berpangku dagu
Di
garasi rumah singgah menunggu
Ya, belum juga terbuka

Gelisah ku pandang awan
Kian gelap hujan merangkak

Tak ada tanda akan terbukanya pintu
Masih menunggu
Ada harap tak terlewat
Dari seorang yang
di damba

Bengkulu, 09 september 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Tak Dapat Tidur

Tak dapat tidur malam ini

Bersarung kain tak nyenyak
Di
sapa deraipun terusik

Nyamuk hinggap kesana kemari
Tanpa risau hati menyakiti
Sedang ku enggan menemani
Ia makin tak tau diri

Ku tarik kain tertutup sekujur tubuh
Melilit kantuk menggapai subuh
Namun daya selemah resah
Tak tertahan melawan gundah
Nyamukpun riang membuatku
keluh

Aku bergegas bangun telusuri gelap
Sembari meradang dendam
Ku
cari denging sesumbarnya
Tepiskan telapak dengan beringas
Akhirnya, terbayarkan caraku mendengkur

Bengkulu,10 September 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Risau

Tiada bintang malam
Memandang sepi menyakiti

Semakin pekat
Tersandar dinding sejarah
Tuang penat

Tak tau kepada siapa mengadu

Aku rindu teman cerita
Letih berpetualang
Perjuangkan selembar diploma
Sibuk mengukur garis cita~cita

 

Bertiga, kita saling mengadu rasa
Menuang retorika
Mencaci definisi hidup
, luka

Sesekali

Ingin ku depak bosan dari kamar malamku

Bersamamu kawan

Tentang sastra, tata bahasa
Linguistik,  jurnalistik
Tentang kisah semalam
Kala aku sendiri tanpa kalian

Terbayang renggang
Di
tengah kota
Di sudut hingar-bingar tersisih sepi
Tiada hari tuk menepi bersamamu lagi, kawan

Malam Bermimpi
Halusinasi kasar
Tertatih beriringan

Cerita komplikasi
Tentang
semesta

Tentang orang malam kesepian

Bengkulu, 13 september 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Pelabuhan lama
 

Tempat kapal Inggris berlabuh
Tinggal lumut-karang tumbuh
Pasir kian menjulang dangkal

Sengkal jala menjulang
Pemancing asik mengumpan harap
Bermain dengan ikan kecil

Camar mendayu-dayu

Mengintari pelabuhan tua
Tak lagi di jamah perahu raya
Tinggal sisa cerita leluhur masa

Berharap tak terkikis waktu
Anak tau cerita ibu
Berdua di tepi paderi bersua

Tapak Paderi, 14 September 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Seribu Tanya

Pasir bergeming
Panas gusar
Daun rebah
Tanah menguap

Berjalan
Merangkak
Berbincang

Bergumam

Tatap tengadah
Dengan raut pinga
Tak bergeming

Laksana luruh perang

Bertanya dalam singkat
"
Aku menemukan Tuhan?"

Bengkulu, 18 september 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Dawai-dawai Laut

Duduk di atas biduk
Terombang-ambing angin laut
Berlayar hanyut


Tiada camar lalu lalang

Yaa,

Hanya aku dan senja


Muak terperangah
Enggan tatap kembali

Susuri gang di laut kekang
Lepas samudera

 
Tiada pohon tumbang
Semai pencakar langit,

Polusi, limbah sampah yang gerah
dan tak ada yang aku bayangkan

 

Tak lagi terlihat
Titik kecil laut menyangkal
Membelaku dengan satu alasan
Darat tak lagi bersahabat


Laut, ombak berdebur nyaring
Membawa ku di tengah karam karang
Ikan, udang melihatku berderai

Pongah
Ramah seirama

Bengkulu 29 september 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Senja I

Lagi-lagi ku temukan ia, sayang...
Camar dan gelombang
Sayap Tuhan yang tak bimbang
Alam, cinta, separuh karya semesta


Ada bayang jingga di ukir senja
Melambai mahsyur mentari tenggelam
Aku, menemukanmu lagi, sayang...

Bengkulu 02 Oktober

-------------------------------------------------------------------------------------------

Purnama di Langit-langit Kelu

Masih ingin ku pandang sampai pagi
Caya-Mu redup di terpa bayang
Sampai waktu hadir
ku terpejam
Dawai awan merentang kelam

Meski lusa tak purnama
Malam hilang ku tunggu
Kau tetap
lah rentetan rindu-Ku

Bengkulu, 05 Oktober 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Oktober Kasmaran

Jatuh cinta
Aku direngkuh asa

 

Musim hujan gusar
Rentetan rintik mencerca

Aku diam
Takut tersinggung hapus langkah-ku

Ku biarkan ia lewat di halaman rumah
Melompati pagar-pagar bambu
Gemericik bersaing denting waktu

Ku intip di balik kaca basah berembun
Teduh runduk di bawah mentari
Sibak berujar pada siang
Ia malu bergelut dengan musim

Sedang aku, gamang di resap dingin

Aku tertawa
Oktober hadir menuntun dewasa
Asmara jatuh hati pada hawa
Bayang senyum mu lewat
Berhalusinasi

Diam, menunggu hujan kembali merdu

Hati berandai lihai
Dawai bersua, bernyanyi
Aku merah layu tak pandai merayu

Tangan tersekap dibalik rindu

Mulai gusar ku melangkah
Tuhan memberi berkah
Di
sela doa
Aku sempatkan meminta restu...

15 Oktober 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Senjakala

Ku duduk di sini
Berdua dengan
mu menanti
Senja akan pergi

Bersetubuh pada bumi

Ingin ku dulang lautan
Agar tak lagi menghalang
Senja yang kian karam

Menikmati jingga
Yang pudar di terpa biru lautan

20 Oktober 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Balada Ratu Samban

Beberapa kali melintasimu
Kau jemu layu

Santai, nongkrong, main wifi dan lalu lalang
Kisah haru dariku berlabuh
Kian keras di bawah teras langit
Abu-abu warnamu sembilu
Berdebu dan lesu

Prasangka ku begitu menggebu
Tak lagi bersandar
Dan menyisakan sapa biasa

Apa aku, mulai jatuh hati pada ratu lainnya?

Ratu Samban Bengkulu, 27 Oktober 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Bayang Malam

Aku tak tahu siapa tuan

Hanya saja tuan melirik tajam

Kesana kemari tuan menguntit

Aku bertanya tuan diam tak karuan

Aku berlari dan diam tuan setia 

Tuan,

Silahkan duluan!!  tuan segan

Tuan siapa? tanyaku, Timpalnya kaku

Baik jika tak ada jawaban dari tuan

Kita,

Antara lentera malam yang curiga

Kalau begitu padamkan saja cahayanya

Pettth..,

Ia makin kuasa

Bengkulu, 28 Oktober 2018-02-27

-------------------------------------------------------------------------------------------

Tak Mau Tua

Metafora Berujar pada fajar
Pohon di
sekeliling rengkuh
Mentari sebentar lagi terbit
Merekah sumringah

Susuri jejak trotoar
Saksi pejalan kaki terlupakan

Alih rupiah tak elak
Hingar-bingar layar petuah

Alih fungsi pasar dadakan

Warna langit sedikit abu
Kian rindu pada ibu

Menyandera asap, mendera sesap

Penyapu jalan sedikit mendikte
Marah pada dedaunan gugur
Tukang parkir mangkir
Mobil berjajar di
trotoar kami

Siswa-siswi lari mengejar bel
Alih-alih ria
Tanya pada tetua bijaksana

Guru-guru kelu
Bosan memberi ilmu

Apa daya saku tak mau

08 November 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Senjang

Sudut luka
Mulai akrab pada malam
Sendiri rebah
,

Tatap langit-langit kamar
Bersua pada rindu
Dulu

Sudut sepi
Luka lama mendera
Hati tumpah sayu
Darah di
sela arteri
Henti berdenyut beku
Tersedu mengingatmu
Pilu
, hening
Kaku menemaniku

Berbisik dawaikan larik
Parau mendayu
Sigap menahan lelap
Menepis doa terucap

Mimpi manis kalap
Ingkar

Pagi menyapa duka
Embun melepas fajar
Aku tetaplah kawan lukamu
Tertatih

Membekas

08 November 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Menderap Pertiwi

Kita lupa
Pada minoritas di
atas kertas
Yang berdaya membela negara

Karna anak cucunya

Kita lupa pada waktu

Mereka,
Yang mengais sampah

Menyapu jalanan
Jajakan koran di bibir harap
Mengamen, berjibaku pada siang
Adalah minoritas yang berjuang

Bukan berkolusi
Lewat berkas bisu
Atau kuasa jas abu-abu,,

Bukanlah kita
Intelek berdalih resparasi bangsa
Demi kepentingan perut

Kita, adalah mereka yang lapar
Tanpa peduli
pada pertiwi

Sampai kapan kita setia
Pada janji berbangsa
, sila keempat
Pada Tuhan yang adil bijaksana

Jiwa-jiwa pahlawan
Terlupa politisasi jangka rentan

Sampai kapan?
Kita bebas
Berdemokrasi,,

 

Sampai layukah Indonesia???

(12 November Masa Milenial)

-------------------------------------------------------------------------------------------

Kala Sendiri

Langkah gontai lunglai
Kesah terberai
Mata-mata tawakal
Tak menyuruhku diam
Bibir-bibir
mungil
Menyayat telinga

Timur fajar
Hingga barat senja
Serak menjagal malam

Angin sanggah sepoy nyamanku

 

Kelu panas mentari
Di
dera badai nirwana
Aku ingin di persanda
Oleh jiwa-jiwa khidmat


Agar pongah tak lagi gemulai
Walau riak badai melandai

18 November 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

"Aku Bukan Aku" Kata Buku

Buku-buku di sampingku meronta
Bosan terus ku dikte
Ku peluk mesra
kala rebah
Menggeliat ingin lepas di bibir pantai
Kamuflase pada rindu
Berujar pada senja sore

Aku bersikukuh, dekap tak mau lepas

Satu kata menyiangiku seharian
Satu paragraf pertama aku lunglai gelisah
Satu lembar kemudian
, berderai jadi puing

"Oh,
Andai
tiada facebook
Aku kian manja kau baca
Coba tak ada wa
, bbm, line, pun lain
Aku sendu menanti mu kembali "

Katanya dalam bait

"Kapanpun kawan

Aku tulus memberi jalan,
Menitah sampai senja,
Merangkul hingga renta,
Bahkan bertengger di nisan mu

Aku malu-malu mendekapmu mesra
Percaya
kan aksara yang tumpul gurauan
Ajarkan hening
Bijaksana layaknya padi itu
Isyarat batu yang tabah

Umur jadi ukur,

Kita berjarak satu hasta, saj
Curhatmu tentang ku pada arloji

Bengkulu, 03 Desember 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Tuhan Dirinya Sendiri

Suatu ketika

Aku duduk menatap langit

Tak ada Tuhan,

Memandang laut lepas

Tak ada Tuhan,

Sampai di tengah-tengah gurun

Tak ada Tuhan.

Ku putuskan sekali lagi melihat hutan di negeriku...

Wahh!!

Ku lihat banyak sekali manusia

Menjadi  Tuhan untuk dirinya sendiri

Merambah hutan,

Mendirikan tambang,

Bakar buka lahan,

Menggunduli ke-esaan manusia

12 Desember 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Rotasi Waktu

Berjalan aku di sumbu waktu
Rentan

Enggan pergi dari ruang lingkar

Berkumpul
Kita diam di atas jejak
Monoton

Kaku mengeja siang malam

Berunding
Kaku dalam makna
Lamban

Terpejam di luar zona

Berputar dalam jangka
Tak sungkan mendera peluang

Bengkulu, 18 Desember 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Ayah

Bagaimana

Jika kita bicara tentang besi tua
Berkarat, renta, lusuh, tak kokoh sediakala

Besi tua
Mengarat di dera hujan panas
Tampak urat keringat
Bisu jadi abu
Kekar jadi lesu
Tangguh, seketika layu

Siang malam harap senyap
Tanpa lapar di
pundak besi tua

Mengejar nafas di bilik bambu
Diluar, umur membabu

Renta, lenyap ia kunyah
Senyum pilu menatap raut wajah sayu
Selembar baju membalut lelah
Besi tua bersua pada dunia

Keriput di balut senja
Malam begitu mempesona
Siang
bak ranum mawar

Dialah Ayah tercinta sibesi tua dari surga

19 Desember 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Siapa Kita?

Namamu begitu asing

Siapa?
Apa kita pernah bertemu di
padang gersang
Hingga tiada lagi sapa terulang

Siapa?
Atau
perjumpaan di tepi samudera waktu itu
Sampai begitu akrab tak saling rindu

Seingatku,
Tiada temu dan jumpa yang paling mesra
Sampai kita saling melupa
Kecuali,
Perkenalan kita maya
, dua-tiga tahun lalu

Mungkin.
Kau sudah jadi namaku yang samar

Bengkulu, 21 Desember 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Pantai Kualo

Begini;
Biar ku ceritakan kiriman dari sebrang

Untuk ikan-ikan di lautan
 

Aku berjalan mengintari tepian sungai
Sisi lain tepian samudera
Tak ku
temukan seroja, pecahan kerang

Liat saja
Ya, seonggok kesombongan
Dari sampah limpahan limbah batu bara

Lalu, segala sudut
Tak ku temukan permata-permata zambrut
Di
balik tapak ku temui
Tumpukan sampah masih basah
Enggan di papah jari-jari mungil

Tunggu dulu, ahh!!!

Apa mungkin muntahan paus
Menepi
di pantai usang

Lihat saja, jangankan kepiting
Kerikil pantai patah hilang menyeruak
Apalagi harapan!!?

(Marahku dalam hati)

Bengkulu, 28 Desember 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Antarkan Aku Pulang Kawan;

Ada seberkas bisu

Saling serang dalam diam

Yang hilang kepercayaan

Lenyap berhadap-hadapan

Derap lembah curam,

Sekat hulu-hilir diwala yang usang

Jalan landai terlena pada niscaya

''Bawa aku pulang''

Bengkulu, 07 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Sajak Sejuk

Sedikit manusia

Memandang cemburu

Karya Tuhan lebih teduh dari doa
Hiasan di setiap zikir
Dari manapun memujinya,

Ooh, Tuhan segala unsur!

Yang mati kau sentuh cinta
Apalagi yang senantiasa bercumbu
pada nafas;


Kata-kataku sedikit rancu memuji
Desah nafas berat merabu
Muhabbah darimu,
Manusia
yang mulia


Hidup fajar mati senja,

Rindu memimpikan-Mu kala petang

Bengkulu, 11 Januari 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Haruskah Iqra

''Iqra' biismi rabbikal-ladzii khalaq
Bacalah,

Dengan nama Tuhanmu yang menjadikan.,

Ku temukan dalam bait ayat
Sedang Muhammad,

Bersimbuh bertahun-tahun mencari
Di gua Hira yang sesak dan pengap

''Khalaqa-insaana min 'alaq
Menjadikan manusia dari segumpal darah.

Kisah penciptaan manusia
Adam,

Bersimbuh kelakar juangkan anak-cucunya
Di Surga penuh goda

''Iqra' warabbukal akram
Bacalah, dan Tuhan-mu Yang Maha Pemurah.

Setiap waktu keluh berdoa
Muhammad
, Adam menangis rintih
Di Dunia fana dan sia-sia

Memohon keselamatan hambanya

''Al-ladzii 'allama bil qalam
Yang mengajar dengan qalam.

Aku, sekali lagi, aku....
Jadikan rahmat bagi kaum Muhammad

Bengkulu, 11 Januari 2017

-------------------------------------------------------------------------------------------

Senja Memohonkan Dikau

Aku pernah cinta denganmu
Walau tertatih,
Hadirmu jadikan
ku lebih dewasa
Walau akhirnya pisah di reruntuhan hujan
Engkau bisikkan sayup-sayup mimpiku

Di persimpangan ini, tiadapun dikau
Aku sekarat merangkak

Daun gugur, ranting patah tak tumbuh

Kita hilang arah
Sekalipun tidak

Menggugurkanmu dalam doaku

Sampai kapanpun dinda
Sampai tua berujar
tanpamu
Sampai renta memejam
Ku mau, nisanku berdampingan

13 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Budi Ajarkan Budi

Budi?!

Kemari

Bapak ajarkan abjad

Supaya tidak bejat

Nanti

Mati

Budi

Kesini

Ibu ajarkan bilangan

Agar selalu penyayang

Nanti Sampai mati...

 

Ayah.

Budi faham

Abjad tunas makna

Menjadi diri bijaksana

Bungkam kesah

 

Ibu.

Budi mengerti

Bilangan simbol perlawanan

Mematri nisan

Kembali Abadi

 

*Mengenang wafatnya guru Budi akibat penganiayaan siswanya

13 Februari 2018

------------------------------------------------------------------------------------------

Gurauan Waktu

Sesak
Dada berdegub kencang
Hilang ruang

Tanya ku tak usai
''
Sial menguap lenyap?''
Pincang ''seiring waktu berjalan''

Haruskah ku sayat nadi
Lepas melas, jadi seonggok daging busuk
Yang jadi penutup kebohongan

Muak bicara pelan
Bijaksana pada puan
Bosan berdiri paling depan

Getir,
Saksi keadilan ingin beda rasa
Mati,
terkesan beda cara

Peratapi bendera

Tak rupa kasta membelenggu
Amarah di nista tuhan tanpa asa

Tak satupun manusia ku temui

Dalam keadaan berserah diri
Kecuali yang ku pandang di sebrang sawahnya

Ia terus berkaca pada parit
Ketika ku
tanya demikian
Ia melempar kesan

15 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Balada Semalam Sayang

Ingin ku nikmati mungil tubuh mu
Selangkangan bunga kamboja
Lekuk dada
, rambut-rambut tipis berdawai

Leher indah, rona pipi

Menggelinjang tersengat

Oh, dewi ratus maha anggun
Telanjang
Mu indah membelai mataku

Oh, dupa teduh bernaungi resah
Ku cumbu dikau sampai pagi,
Ku rengkuh mesra sampai senja

Dewangga jadi saksi semalam
Mencabikmu desah
Seduh bercampur dengan peluh

Dewiku
Anggun penawar jiwa sepi
Tak hengkang mata memandang
Biar saja kau kangkang

Sampai subuh terlena

Di bayang-bayang madu nirwana

Bengkulu, 17 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Pagi o Denny J.A

Pandang ku melayang pada nama asing
Tak ku kenal
,
Katanya ia pelopor pujangga baru
Pujangganya kata-kata
Merenggut setengah hasta lahirnya sastra
Denny JA

Orang baru yang sok tau
Pandai menata berudu
Karya bias
, syair tabu
Kata bias
, bait lugu
Ketimbang syairku, ia lebih berani
Maklum lahirnya lebih dulu
dariku

Kata beliau
Sastra sistem komunikasi rasa,
Tau kias ia anggap keras

Diksi ia anggap fiksi
Metafora ia anggap jenaka semata
Sedangkan awampun tau
Puisi punya
retorika

Tak membeli kata jadi politik asa

Bengkulu, 22 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Tak Se-ego Namamu
 

Bukan sesekali mendekapmu dalam diam;
Doaku, mendekapmu
Langkahku, mendekapmu

Gawaiku, mendekapmu


Kau terlalu cepat menyimpulkan asa;
Hadirku, tiada guna
Sapaku, tiada guna
Senyumku, tiada guna

Lalu, bagaimana bebas terbang tinggi;
Jika sayap kau kepakkan batas prasangka

22 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Menggadai Kasih

Satu malam pekat
Awan kelam
, angin tak bersahabat
Ku rangkai pilu

Hilang kelang membisu

Berai.
Sakit tiada kira

Mata berbinar
Enyah menyapamu

 

Tak pandai ku tahan rindu, menggebu
Bersua memandangmu gulita
Di
reruntuhan hujan
Berteduh
pada emperan kasih

Tiba-tiba asa menyeruak
Sepanjang jalan melintas pulang
Ku sekat tanpa batas
Kau
peluk erat
Saat jemari saling silang menggenggam

Tabu,
Tiada
kau titipkan seroja lama
Kita saling ingkar merajut janji
Patah rayu lekas menghujam

Hasrat jemawa
Tiada daya ku seduh jua

Semesra dulu
Kala membelai wajah sayu

Dingin membalut keras lidahku

Kau seroja lupa kasih sayang
Di
hamparan malaka membentang
Hilangan dayung, berenang
Menuju tepi Ilhammu

Bengkulu, 22 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Tanpa Rindu

Malam rindu
Kau indah terlihat

Ku usap fotomu yang tinggal satu,
Bawa kemanapun pergi sesap dalam raga

Bayang mu disini
Sebagai sapa penghibur lara
Raba mengusap luka

Meski kau gadai cinta
Iklas senyum pahit menunggu
Tanpa akad, tiadalah menggenggam mu

Satu pinta, titipkan kasih
Jaga utuh pada lubuk hati
Jangan pula kau gadaikan namaku
Meski tiada kuasa
bersedia

Cukup senja kita lewati
Hujan menghapus luka
Teruntai dalam setangkai rasa
Tiadapun dikau,
Aku hanya bangau yang sesat
Sepanjang tepian selat

24 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Malantang

Haruskah lisan ku kunci rapat
Diam tiada sapa
Ataukah mata ku lipat

Lekas lenyap, hilang

 

Begitu membelenggu
Hilang arah memandang
Ku hempas di kelang
Tersapu rindu

Pulang kembali
Angin mendera ku
Enyah,
Sesap tiada jalan tertuju

Terpaku di persimpangan
Menunggu,
Waktu tak kunjung senja

Bosan fajar lama menghujam
Kaku diwala men
uduhku

Bagai gugur daun
Sepanjang musim satu tahun
Menunggu di
ranting-ranting patah
Menjegal hujan resah
Tumbuh
, patah tunas baru

Dikosane mantan, 24 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Lika Liku

Aku
Orang asing di
sudut bisu
Tak kenal dunia baru
Keluar rumah tanpa baju
Merangkak
, kaku

Bersemedi di bawah kaki langit
Menengadah tanpa arah
Kadang bersimpuh pada tanah

Menapaki jalan sulit

Aku
Asing tertatih gundah
Tak tau diri siapa Tuhan
Acuh mengeluh rapuh
Lupa kodrat insan

25 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

NuN

Dalam sendiri ku fakirkan ruh
Memuji
Memadu
Pohonkan seraut dosa
Agar sesa
p
Hilang
Kelang dalam jemari ilahi

Di bawah langit malam
Maraung
Terngiang
Memudar lirih dalam bayang
Merayu
Mendekap
Sekap mahabahmu yang bisu

25 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Horizon Kaki Langit
 

Abdulah,

Anak tak di peranakkan
Di
tinggal mati ibu,
Tak tau siapa bapak

Mengais sampah di jalanan
Kadang jadi babu,
Hidup melunta-lunta

Sesekali ia mampir kemasjid
Mengadu pada ledeng, lepas dahaga
Tak jarang bersimpuh teduh di
emperan
Mengucap sekelebat harap
Pada Tuhan yang tak ia kenal

Suatu kala

Ia mampir kembali
Mendongak ke
dalam jendela
Tangan menjulur mengait lirih
Mata awas badan gemetar lara

Taunya ia jatuh cinta pada asyifa
Segera ia mendekap sekap
Memeluk erat
wasiat tuhan
Niat hati mengenal rahman

Setelah itu, timbul pertanyaan;
"Apakah mencuri Qur'an di
dalam masjid,

Tidak timbul hukum apa-apa, di antara ganjaran apa-apa?"
Manusia biasa apa jika Tuhan mau apa?
Jadilah maka jadilah,
Matilah maka matilah
Di
sana, yang kaya hanya tertawa
Sedang aku yang jatuh cinta
Menangis fakir dalam
fakir

Bengkulu, 26 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Mencintaimu Setengah Windu

Januari lekas pergi
Menanti kemesraan akal
Di
hari ketujuh belas

Lusa,

Setengah windu terpatri
Lantas lingkar tanggal

Memelas setia

Pada cinta fana
Tak perlu bijaksana
Pada diri birahi
Usah sumpah suci
Lalu aku gegas merana
Seraya kandaskan cinta

Kau janjikan seroja,
Ku pungut lekas layu
Kau ikrarkan setia,
Ku genggam lantas pilu
Lalu rindu selama purnama
Bias saja bagai tanpa sua??

17 Februari 2014 - 28 Januari 2018

-Nostalgia-

" Antara malaka dan sunda kelana,
Aku menitip rindu pada merpati bisu
Sampaikah padamu sayup doaku?
Atau, sudah kau lipat jadi ASA

29 Januari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Sajak Orang Susah I

Terik menyengat ubun-ubun
Manusia hilir mudik berhamburan
Aku tergopoh melas
Meminta tolong rakyat kansas

Taunya,
Bantu tak ikhlas, bangsat!
Buat otak makin rusak saja
Tercecer bagai puing kelana
Lari
Aku bergumam teraniaya..."

05 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Sajak Orang Susah II

 

Ingin sekali ku sepak
Mulutmu sial dan bau

Ku sumpal dangkal otak dan fikiran

 

Lagi-lagi, bangsat!!
Aku kena tipu muslihat
Padahal baru semalam tobat
Minta ampun melas
pada ilahi

Mohon menjauh, sayang
Tak kau lihat apa?!
Ubun-ubunku tersengat mentari

Setengah hari minta-minta pada manusia

Oh, sial sekali,!
Berdoa seharian penuh
Cukup berharga
ketimbang menggosok buntut keledai
Apalagi minta tekken prosedurisasi bangkai

Ah, atau mulutku saja yang ku jejal
Supaya mereka terhormati
Tidak tersinggung begini

05 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Detra

Bunga seroja

Di tepian jenggala

Harum merbak menghujam nurani

Kaku mendekap bumi

Tuhan memelukmu erat

Walau kita sekarat menatap

Jangan tumbuh lagi seroja ku

Cukup dikau

Mekar di taman royyan

* Mengenang tragedi pembunuhan siswi SMAN 04 Bengkulu

(Umi Detra; Oktober 1998-Februari 2018)

-------------------------------------------------------------------------------------------

Ke-(a)Dilan~jutkan

Kepada Rakyat Pekerja Indonesia

Ingin saya katakan

Bahwa kepada nasib kalianlah

Munir selalu gelisah dalam hidupnya

Itu pula yang dia bawa hingga ke liang lahat!

Pada keresahan anak-anakmu

Cucu-cucumu yang lugu,

Cicit-cicitmu yang lucu,

Namun kegalauan cemas kuyu

Bahkan aku yang tak kenal kamu,

Membelenggu rasa itu

Moga kau damai

Untuk lekas semayam disisi-NYA

Namamu, namaku, adalah nama Tuhan

Indah tiada keadilan

Rapuh terpendam bisu

Selama-nya

Fenomena film Dilan_Munir In Memoriam 1965-2004

06 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Bila Nanti Aku Tak Sempat

Aku merestuimu seperti restu Tuhan
Sesempat hantar doa mawadah
Lekas akad dari maha rahman
Terpatri suci idah yang indah

Selamat bahagia, sayang

Senja mu berdua adalah anugerah
Sepanjang fajar men
itah kesah
Berjalanlah dengan cinta yang tabah
Saling meniti kasih-sayang beriringan,

*Pernikahan adik angkat (Dyan Febriani) yang tak sempat ku datangi

07 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Harusnya Aku Malu

Suatu ketika
Kala aku lupa
Jangan sapa
Pukul dengan cinta

Bukankah ikhlas?
Temu tawa
Pisah diantara bahagia
Masing-masing
Lepas mengembara

10 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

HENING

...........R
..............I
................N
.............D
...........U
I..........
L............
A............
H.........

H.a.m.b.a

13 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

SAJAK KEYBOARD

(Diatas CTRL+C)

Di atas zarah

Bilangan tak terhitung

Metafora CTRL

Cipta makna

Lembar terhimpun

Pada kertas kosong

Fayakun!!

Ratu Samban, 15 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Kabur Dari Kubur

Ku ziarahi makam-makam imam
Di
bawah terang bulan
Malam sunyi
Mencari nama wali

Di atas rumput basah
Membaca ukiran
Pada nisan-nisan tua
Mengusap daki tebal mengatup

Ada yang alpa dari nama-nama esa
Derita semayam di
sisi merua
Tersedu pilu
Sendiri dalam mati

Lain sisi
Tergelap dalam peti
Tanah memeluk erat
Pada mayat-mayat sekarat
Tlah lama menanti waktu

Sangkakala merdeka

Mereka,
Meminta Munkar-Nakir
Memohon terlunta-lunta
Menjerit pilu

Bebas kembali fana
Bersujud tilawah mendekap nama
Dari yang maha cipta
Setiap hari tanpa jelak

Tanpa asih
Ilah acuh gemuruh
Mencaci maki umur
Fulan fasik tak peduli
kala hidup

Lalu
Nikmat manakah yang kau pilih

Ruh membalut rangka kau sia-sia
Atau
Tinggal belulang tak berdaya
kau minta-minta

Bengkulu, 16 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Setengah Windu Terakhir

Bersama senyap harap
Aku meminta Tuhan
Memberi arah kaki melekap
Di
setengah windu terakhir
Membatin

Syairku terlalu elegi
Terlampau cemas tanpa alas

Bimbang hilang
Kabar terkubur mati

Terbentur angka senja

Setiaku takut luka
Sirna di
rengkuh ayumu
Hilang pada titik tumpul
Di
cerca waktu
Mengeja ku dalam bayang hilang

Oh, Alif Lam Ha
Aku mengeja ke-esaan cintamu
Pada jengah kesendirian
Terlalu fakir mendekapmu
Kaku

17 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Gelisah

Cinta yang main-main

Atau aku yang main-main?

Simpan bayangmu di malam kelam

Lepas mendekap

Pada sekatup doa yang masih samar

Ikat kuat seruas janji

Lalu,

Kenapa skenario pertemuan

Selalu sepahit ini?

17 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Dibalik Tirai Kampus
 

Menanti kehadiran luka
Tercecer lembar kalkir
Terparkir, sayup-sayup

Hujan februari
Meniti kesenduan
Tak kunjung lekas
Membuai karsa

Esa, menatapku kaku
Sedang eka,
lamban membuai

(Terbelenggu-Waktu)

19 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Iba Diakhir Zaman

Demi masa
Tiba sebagai hamba
Camar menyeru duduk bersila
Membatin pada esa

Demi masa
Pada akhir zaman
Hamba di
cela keadaan
Terlunta-lunta memohon

Dalam diam kesenyapan

Dunia yang fana, rapuh
Resah makin goyah

Di akhir salam,
Tuhan menyapa prasangkaku
"Akulah Zaman itu.
Maka, jangan kau mencela"

23 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Menatap Keras Pantai Berkas

Lelaki seorang diri
Menatap tajam sebrang lautan
Nampaknya kurang percaya diri
Sampai angin menerpa keningnya

Sebilah pancing ia tancapkan di tepian
Setengah 4 sebelum tergelincir senja di pantai berkas
Bergegas menggelinjang tajam , lagi

Pada awan-awan kelam menyeringai
Ia mengeja arloji berkarat
Tiada beban terpasang

Di lepas penat

Dan, aku,
Sulung yang sedang bingung
Ingin lepas bersama sesap pantai

Muntahkan buih harap
Lalu senyap di
pelukan senja

27 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

D.P.O

Pertanggal 20
Bimbang di pojok bilik papan; Mirip lapas

Diam merenung, berandai

Suatu saat namaku terungkap
Dari daftar pencarian orang

Menyerah dengan ikhlas
Di
benam lapas nan keras
Sekawanan anjing liar seleksi alam

Aku,

Tak punya kuasa akan takdir
Tersangka
, korban teraniaya
Terkurung rangka halusinasi

Tak ikhlas hartanya hilang sia-sia

27 Februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Layang-layang, Sayang

Terbang saja,
Jangan putus
Terbang bebas,
Jangan lepas
Terbang tinggi,
Jangan pergi

Biar ku tarik ulur hati
Supaya kau tak lepas bebas
Ku pegang erat dengan tali
Agar kau tetap kembali

Terbang saja sayang,
Jangan lekas pergi
Terbang tinggi sayang,
Lekas kau kembali

Tinggi-tinggi kau terbenam awan
Jangan tinggi tak kembali
Tinggi-tinggi ku ulur tali
Supaya kau tak lupa diri

Putus
Terombang-ambing lautan angin
Dan tak kembali, lalu
Jatuh tersangkut pada dahan yang tak pasti

27 februari 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

“Hilang Arah”

Sesalku pernah genap dalam esa

Sesumbar

Jalani hari di belantara samudera

Tanpa arah kemana berlayar

Aku pulang dengan sendu

Yang tak habis di hempas badai

Bahtera yang terkoyak

Terombang-ambing antara selat kekecewaan

10 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

“Anak Malam”

Tawa di tangguhkan

Mimpi-mimpi sirna

Riak riuh di redam

Pusaran waktu bias

 

Pada malamnya cerita

Kami mendongengkan kesenyapan

Tatap kelamnya alam

Telusuri mimpi-mimpi mati

 

Domain sastra

Yang lahir dari malam kembar

Di lukis manusia lugu

Doktrin karsa

Tumbuh di kemaluan pujangga

Bersenggama pada sepi

 

Satu-persatu kami diam

Di kubur waktu

Dan hidup seribu tahun lagi

 

14 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Aku Hilang Arah

Asing

Sekelilingku

Menelan nyaman lautan bias

 

Jenuh menggerutu

Diam di rengkuh sepi

Khilaf pada jiwa-jiwa jengah

Gelisah di sudut layar kaca

Pada alur keresahan

Di dera rapuh

 

Ia acuh mendekapku

Seterusnya begitu

Luka sujud menganga

Hingga kota menanti kekasih baru

 

21 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Melodi Dermaga

 

Di bawah pohon kamboja

Pada redup rembulan

Sebrang selat jenggalu

Dalam kesepian imaji

 

Aku diam di rengkuh sepi

Pandang sayu cahaya lentera

Pantulan pelabuhan malam

Di cibir debur ombak

 

Lama tak bersua pada sepi

Aku lupa arti hening

Kesenduan sabit cahaya langit

Ingin rintik menyapa

 

Mengendap-endap padaku bisu

Pasak dilema malam

Dalam bayang kejenuhan

Mencapai klimaks-nya

 

Ini,

Malam minggu sunyi

Tanpa tawa ibu Habil

Di getir tanah rantau

 

Dermaga Pulau Baii, 24 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Tangga Kampus

 

Not satu

Not dua

Namun, Bukan do re mi

 

Aku jenuh

Menghitung satu-persatu tangga kampus

Taman bermain tetua yang tangguh

 

"Sudah bulan berapa ini?"

"Baru bulan tiga"

 

26 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Pagi-ku

 

Merah rona di tengah fajar

Haus memandangmu,

Kaktus di sebrang demikian

Ratapnya melas meminta basuhkan embun

 

Pada duri-duri kasih yang hilang

Memohonkan doa kepadaku

Sendiri terkulai

Walau bias

 

26 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Kongsi Kematian

Mati, Kubur

Mati, Kubur

Mati, Kubur

 

Mati

Tiada lahan

Bongkar makam

Kubur

 

Mati

Tiada biaya

Gali samping rumah

Kubur

 

Mati

Tiada jamaah

Imam bayaran

Kubur

 

Mati

Lahan sengketa

Bongkar makam

Kubur

 

Padang Betuah, 27 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Departemen Mimpi

Mendakilah tinggi-tinggi

Kau liat sebrang kilimanjaro

Salju terbentang lugas

Di selaput muka bumi

 

Mendakilah jangan gentar

Katamu angkasa itu cuma sejengkal?

Coba daki muka bumi yang polos ini

Percaya atau tidak

Nilaimu pada mimpi masih sebatas jari

 

27 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Domisili Malas

Pagi

Dera hujan gerimis

Menjeda aktivis

Berbincang sebuah alasan untuk menang

 

Babu waktu

Berputar di lingkar jamah

Mengeja dentingnya

Terkulai layu, sayu, dan cundang

 

Kita kaku

Karna waktu hanya 24 jam

Sedang, alasan untuk belajar

Tak pernah demikian

 

28 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Balada Hamba

 

Tetua yang bijaksana

Pandu aku tua dengan sederhana

Rasa syukur meledak-ledak

Penuh cita, cipta, dan cinta

Maupun ketangguhan menghadapi rinduku

Kepadamu, jua kasihmu al-Mahi

 

27 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Dilema Penyair Buta

 

Di manapun sepi

Aku hanyalah sayap patahmu

 

Hambar ingin kembali

Berdiri pada pasak bumi

Yang meninggikanku

 

Aku bias di terpa fanatik

Menghujam sayup-sayup senda

Pada bait hujan nan rindang

 

Kata-kataku adalah kegelisahan

Yang semi berkarat

Lumpuh

 

Sastra tak lagi menghiburku

Sajak rinduku melebur jadi kaku

Sepatah kata mulai kelam ku rangkai

Bait yang dulu menyatu

Kini mulai hilang seiring selera zaman

 

Atau aku yang mulai tua..?

 

30 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Janji Sejoli

 

"Kala mencintaiku adalah seni bernafasmu,

Jangan nafikkan kerinduan

Cukup engkau, Tuhan yang tau

Semesta, ku lipat rapat-rapat

 

Andai itu derita,

Maka letakkanlah janji terpatri

Walau rantai ilusi mengekang

Lambat laun terberai ikhlas

 

Percayalah,

Ini janji yang keseratus kalinya

Aku menghargai kesetianmu,

Sayangku

 

31 Maret 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Aku Sendiri di Padang Senja

 

Rasanya;

Seperti memulai dari awal,

Ku lipat lembar yang sama

Dari debu menjadi debu

Sayat sembilu menjadi kalbu

 

Berdaptasi, menyatu pada bumi

 

06 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Alunan Subuh

 

Aku tersadar

Alunan takbir subuh

Cara bersandarku

Pada hari

 

Satu syukur tersungkur

Nikmat terjerat

Memuja asma-mu ya rahman

 

Aku terjamah

Puing-puing hidayah

Yang tiada henti singgah pada hati

 

Sedetikpun nafas

Ku hempas dalam doa

 

07 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Diantara Luka

 

Sayang,

Cinta berhenti pada angan

Bilapun aku tau

Tiada ku lukis semesta kepadamu

 

Semua hilang perlahan

Jangan kembali hadirkan kenang

Manusia lemah sepertiku

Hanya mengendap pada suatu waktu;

Berlatih tertatih

 

07 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

''Tiada Ujar''

 

Aku menemukannya

Pada kota kerdil nan asing

Semua ramah meninggalkan

Tiadapun terkecuali, dikau

 

Sampai suatu ketika aku melihat-Nya

Menyapa

Menepi

Menebar senyum

 

Tuhan

 

Tiadapun engkau

Aku hanyalah ranting rapuh

Tanpa sapamu kala itu

Aku luruh di rebah keluh

 

Setiap diksi ku persembahkan

Adalah kekuatanku merayu

Walau kadangkala tabu

Inilah kedayaanku memuji

 

Sampai tidak nyawa bersanding

Aku masih tetap orang kerdil

Yang hanya membual

Hingga membuatmu kesal

 

Di mana musim menunggu

Meranggas merapuh berganti

Yang terus berulang

Suatu saat henti

 

Kala tatih bijaksana

'Bersabarlah kekasihku’

Seperti halnya aku

Bersabar jadi hambamu

 

08 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

"Untuk Bapak Dirumah"

 

Bapak,

Ku jual empat tahun waktuku

Untuk sebuah skenario,

Seperti sia-sia halnya

 

Ijinkan satu-dua tahun lagi

Untuk ku persembahkan seribu windu padamu

Terniang semesta

Menyapa nama keluarga

 

Bapak,

Ku senyerukan sebuah mimpi

Kurangkai melalui sejumput kesabaran

Benar nyata

Berputar di padang senja

 

Bapak,

Jangan menyerah sebelum aku kalah

Tengah ku rangkai jadi sutra

Agar kau indah di sisi rahman

Bagai permata-permata zamrud

 

9 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

"Herman Suryadi"

 

Dari skedar kata-kata,

Aku belajar membaca darimu

Diksi,

Meletakkan pada tegar jemari

Bersua lugas pada semesta bias

Ku serukan di atas pusara maestro

Engkau hadirkan rindu kami

Tanpa batas waktu

"Selamanya"

 

11 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

"Ya Rabb, Aku sedang Sibuk II"

 

Maaf, Tuhan

Pukul berapa ini, aku tak tau

Aku jenuh luruh

Kita mulai berjarak dalam sujud

 

Maaf, Tuhan

Waktu tak cukup bermediasi padamu

Aku sedang sibuk, jengah

Merangkak pada semesta

 

Maaf, Tuhan

Waktu tak sampai merindukanmu

Dalam jejakku pada fatamorgana

Kita sedang berjarak

 

Terlampau singkat dan padat sekat dunia

 

12 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

"Kita Kawan Bersamaan"

 

Kala tak sepadan

Lepaslah penatmu, penatku

Jangan lepas rasa sayang ini

Sebagai imbas pada hati yang luka

 

Kita kawan

Bukan pengikut yang baik

Bukan pemimpin yang baik

Kita kawan

 

Aku datang padamu membuka rasa

Untuk belajar mencintai

Aku menutup hati lainnya

Agar tegar menghadapi

 

Sejalan beriringan

Bukan sejalan bertentangan

Sejalan searah

Bukan mencari celah

 

Kututup mata kala jengah

Mendengarmu gelisah

Diam mereda marah

Bersua rindu yang sudah

 

Andai bosan berbicaralah

Diam tersenyum pada waktu

Menyatukan kita pada masa

Sebagai insan di rundung rindu

Sampai kepada tua yang damai

 

14 april 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Sepanjang Pemakaman

 

Akupun tertunduk menyesali firasat

Yang tak serta merta ku rasakan selama ini.

Seperti halnya fajar yang memberiku permintaan pada subuh

Atau pertanyaan yang seketika menghilang ditelan senja

Semuanya menjadi bias dan hilang

 

Ya,

Sekarang hanya bunga kamboja di sepanjang tanah kuburan

Yang segera menjawab pertanyaan dari kekhawatiranku selama ini

 

14 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Sebuah Penebusan Dosa

 

Jatuh aku terjerembab kaku

Lemah terkulai dikamar peraduan

Menginjak setengah abad dibumi pekat

Kini tinggal tulang penantian

 

Format metafora mengeja pada dinding

Waktu berdenting mengawasi sisa bersua

Satu persatu nafas melantunkan zikir

Dua malaikat merayap dipangkuanku

 

Aku lupa janji sakit yang mejamah

Aku lupa janji syukur yang tersisa

Mata sayu, telinga layu, uban berguguran

Gelisah melemahkan jemariku

 

Oh, Tuhan Muhammad

Izinkan aku menyulam kafanku

Beri daku waktu

Melirik taman firdaus

 

14 April 2018

 

"Sesekali, pergilah kerumah sakit atau  pemakaman. Kita tak tahu kemana akan berlabuh, kecuali setelah mati"

-------------------------------------------------------------------------------------------

 

Sajak Ibunda

 

Bersajak aku memuji

Karunia keesaanmu

Berpijak dibumi pertiwi

Berjelaga disepanjang danau

 

Butir embun berpeluh menerpa

Wajah ayu kemenakan pertiwi

Kala kelabu menyingkap senja

Hidup mati disisi tetua

 

Indonesia,

Tiada fatwa pun sengketa

Kita berdiri dipetuah yang sama

Lahir dari takbir semesta

 

17 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

merapi merbabu, dari kejauhan

ku sematkan asa,

rindu yang tak sampai padamu

titip semayam dalam doa

patah terlena diberai waktu, menunggu

 

" Tak Semestinya"

 

Kita paling depan menyambut fajar

Membelai mesra semesta

Mengantarkannya kepangkuan segara

Tanpa lasah berujar

 

Kita paling peka menyangga luka

Anak-anak lena sepanjang jalan

Budi Utomo hingga Depati Payung Negara

Menjajakan lesapan masa depan

 

Mengais-ngais sisa makan

Mondar-mandir minta receh

Lantas kita usir enggan

Dengan geram mengoceh

 

Senyum lara diretas masa

Sepantasnyakah jangat berkeringat

Pada pundak kecil mereka

Tetes peluh melawat

 

Kita sosial peduli sesama

Bukan, sok sial pergi menghina

 

18 April '18

-------------------------------------------------------------------------------------------

Akuilah Aku-Ilah

 

akuilah aku ilah

tertatih aku letih

menegur tegar namamu

 

akuilah aku ilah

tertegun aku bangun

medekap bekap cintamu

 

akuilah aku ilah

terlunta aku langkah

menyembah tabah semu

 

21 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Kemuning Bangkahulu''

 

Mercusuar dicecar rembulan

Bangkal ditepian jenggala

Aku diantara derau laut malaka

Menanti

 

-------------------------------------------------------------------------------------------

Pahlawan Devisaku

 

kita serba salah

jadi tenaga kerja Indonesia

bukannya jadi pahlawan

malah jadi kambing hitam

 

lama kita berinvestasi

lama juga kita dijajah

padahal, kita sendiri membangun

berdiri diatas kedaulatan

 

lama kita berdevisa

tersudut dimata petinggi negara

padahal, kita menebar nilai sosial

bersatu mengurangi pengangguran

 

bukan sebaliknya

membalikan kedaulatan

ketangan dingin yang asing

 

Bengkulu 26 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Surat Terbuka

(untuk yang taat mencintaiku)

 

ku sampaikan surat terbuka untukmu

wahai kekasih Allah

wahai kekasih Muhammad

wahai kekasih ku yang senantiasa bersabar

 

tiadapun selat selat yang kita lalui

bukit bukit gambut menghalang

serta merta hati kalut menanti

aku disini mendoakanmu tegar, sayang

 

usah dengar desir angin sampaikan kabar

usah kau sekap badai mendera

rasaku tetap bernafas pada cintamu

yang sedetikpun patuh mengalir pada nadiku

 

wahai yang terkasih

sampaikan salamku pada hatimu

cinta yang tak kau tampik jadi abu

yang selalu kau agung agungkan pada Tuhan

sekalipun aku,

doa munajat yang kau lipat dalam taklik

 

aku sebagai sahaya,

memintamu

menebusku jadi hamba

 

Bengkulu, 27 April 2018

Bahasa yang sama sekali tak ku mengerti

adalah bahasa waktu

 

tik tok tik tok

(itu bukan waktu)

kring kring kring

(bukan jua)

tek tek tek

(lebih mirip dengan terompah)

 

kutatap gugur pohon mahoni

(ya itu memang waktu)

kupandang raut keriput

(benar waktu)

kulihat uban

(waktu)

 

sedang bahasa

sebagai media

penggugur dosa

tepat pada beranda

yang kutulis kata-kata

 

kalibrasi pada lantai-lantai taman

ku temukan lesu tanpa gairah

diam seolah kalah

beradu gugur dedaunan

diam diredam

mawar kutatap mala

tandas berderu

 

aku menyingkir satu hasta didepannya

lantas ia bergumam kaku

"aku mawar mala,

hanya ingin kau guyur"

 

Lelaki berkuda

Membawa teras bendera

Tepat berdiri ditengah simentri

Teguh tegak menanti pagi

 

Ratu Samban,

Pantas kau tak pernah kusam

Sedang pangeranmu tiada takut usang

Tegap menghadap timur

Menanti terbit mentari fajar

 

-------------------------------------------------------------------------------------------

Kekasihku Yang Lain

 

sesekali aku mengunjungi kediamanmu

rona jingga ditepian berkas-jenggalu

 

ada ombak bergulung riak

memecah penat kerinduan

rimbun awan kelam menyeruak

mengusap manja kenangan

 

cukup dua diantara kita

berangkat lebih cepat pada sepi

lusa, kita bersua diwaktu yang sama

jangan lupa kembali..

 

30 April 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Malabero

 

langit disebrang terlihat bagai tembikar

ombak bersahabat nyiur melambai

sapa seolah mengajakku kencan

pusaran semesta mendurmakan elegi

berbisik pada biduk pembaringan

 

nun jauh dimata

engkau dekat dihati

senja kelana

engkau dikenang mati

 

30 April 2018

 

-------------------------------------------------------------------------------------------

Terus Terang

 

Kala malam menghantar muhabbah

Lakar yang kurangkai

Seketika lebur...

Ibtidah...

Tersemat dayung asaku

Jadi sampan padamu berlayar...

Selepas badai sampai

Kau tiba menjelma

Jadi muhibku sepanjang pesisir...

 

Terberai sedu

Lantas terang

 

Bengkulu, 03 Mei 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Pasca-Sarjana

 

Bawa aku

Hanyut kelautan sepi

Pada hening

Ku lihat fiksi

 

Tatap terjal liku jalan

Sama sebelumnya

Berbaur di persimpangan

Berkhayal, lena rengkuh diwala

 

Kota ramah menderu

Enyah mesra menampikku

Aku, terkulai jadi sahaya

Budak saudagar kaya

 

Seuntai fatah

Merebah kuasa pongah

Bodoh tak terarah

 

Tiadalah daya ku strata satu

Ilmu tak bias berdusta

Walau parokial

Kita tetap hamba

 

Bengkulu, 07 mei 2018

-------------------------------------------------------------------------------------------

Pada Suatu Waktu

 

Tatap langit

Laut lepuh

Di terpa ombak

Mendekap rengkuh asa

 

Kaku raga

Nafas tak sampai

Ikat berkelakar

Ku lempar pada badai

 

Lusa aku kemari

Patri gelombang

Satu jadi abu

Ablasi

Hanyut dan kalut....

 

Bengkulu, 05 mei 2018

 

Tags

Related News

loading...