Petani Tebu Diduga Diintimidasi Oknum Mengatasnamakan UGM, Minta Bagian 50 Persen 

Selasa, 06/05/2025 - 18:03
Puluhan warga Getas yang didampingi Forum Bela Negara (FBN) kembali mendatangi kampus UGM yang berada di desa Getas Kecamatan Kradenan pada Senin (5/5/2025) pagi.

Puluhan warga Getas yang didampingi Forum Bela Negara (FBN) kembali mendatangi kampus UGM yang berada di desa Getas Kecamatan Kradenan pada Senin (5/5/2025) pagi.

Blora, Klikwarta.com - Polemik antara pihak Universitas Gajah Mada (UGM) dengan warga Desa Getas Kecamatan Kradenan, Blora, masih berlanjut. Kali dipicu penyemprotan lahan tebu milik warga yang dilakukan oleh pihak UGM pada Jumat, 2 Mei 2025.

Puluhan warga Getas yang didampingi Forum Bela Negara (FBN) kembali mendatangi kampus UGM yang berada di desa Getas Kecamatan Kradenan pada Senin (5/5/2025) pagi.

Warga mempertanyakan alasan pihak UGM kembali melakukan penyemprotan lahan tebu milik warga yang berada di dukuh Jliru desa Tlogo tuwung Kecamatan Randublatung.

Salah seorang warga Getas Sukirman mengatakan, lahan tebu milik warga dukun Jliru Desa Tlogo tuwung Kecamatan Randublatung di petak 38 telah disemprot oleh oknum yang mengaku dari pihak UGM.

"Sekarang tebunya menguning dan kemungkinan akan mati," ujar Sukirman.

Selain penyemprotan lahan tebu, salah satu warga bernama Sutrisno juga didatangi 4 oknum yang mengatasnamakan dari UGM. Mereka meminta agar lahan yang dikerjakan oleh warga untuk bisa dibagi dengan pihak UGM dengan sistem 50% warga 50% pihak UGM.

"Saya didatangi oleh oknum yang mengatasnamakan dari UGM mereka meminta agar lahan yang saya kerjakan diminta 50% agar dikelola pihak UGM. Namun saat saya tanyakan surat tugasnya mereka tidak membawa. Hal itulah yang membuat kami bersama warga yang lain merasa kami dalam tekanan sehingga kami kembali mendatangi UGM," ujar Sutrisno.

Sementara itu, Soetriyono, Koordinator Nasional Forum Bela Negara Republik Indonesia, yang mendampingi warga mengecam tindakan yang dilakukan oleh pihak UGM terhadap tanaman tebu warga.

"Kami ingin duduk bersama UGM kita adu data yang ada, sebenarnya lahan ini milik siapa. Tolong jangan semena-mena dengan rakyat kecil. Mereka hanya bertani untuk mencari makan," ucapnya.

Ia meminta agar kehadiran UGM bisa membawa kesejahteraan masyarakat Getas bukan sebaliknya.

"Jika tidak ada titik temu, kami akan lakukan langkah hukum sesuai aturan yang berlaku," tandasnya.

Pihak UGM saat dikonfirmasi terkait aksi warga yang menggeruduk kampus UGM masih belum bisa memberikan penjelasan.

"Kami hanya petugas lapangan sehingga kami tidak memiliki kewenangan untuk menjawab ke publik," ujar salah seorang petugas dari UGM.

Diketahui polemik ini muncul setelah pihak UGM mengklaim bahwa mereka memiliki kewenangan untuk mengelola 10.800 hektar lahan KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) yang berada di desa Getas dan sekitarnya. Yang mengharuskan warga harus membongkar bangunan dan mematikan tanaman tebu yang berada di lahan yang mereka akui. 

Pewarta: Fajar

Tags

Berita Terkait