Dua perempuan yang sedang bertengkar. Photo by Freepik
Oleh : Adinda Putri Farhana (Politeknik Negeri Jakarta, Program Studi Jurnalistik)
Klikwarta.com - Dia tidak memukulku, tidak membentakku, tetapi sejak saat itu aku merasa harus menjaga jarak karena kalimat yang ia lontarkan lebih tajam dari tajamnya pisau.
Luka Diantara Tawa
Kami sudah berteman lebih dari dua tahun. Dia tahu semua tentangku, sifat asliku yang tak pernah aku tunjukkan ke banyak orang. Tapi pada hari itu, dia melontarkan sebuah kalimat yang membuat dadaku sakit seperti diremas dengan kencang sekali. Di tengah obrolan yang menyenangkan, ia berkata “Emang ada yang mau sama kamu?” Semua tertawa, selain aku.
Aku tak mengerti kenapa kalimat itu menusuk hatiku begitu dalam. Mungkin karena pada saat itu aku sedang mempertanyakan diriku sendiri apakah aku layak untuk dicintai? Dia tahu dengan jelas kondisiku, tapi tetap saja, dia melemparkan kalimat itu seperti candaan ringan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Padahal bagiku, itu bukan lelucon, itu penghinaan halus yang dibungkus tawa.
Aku tidak langsung memberi tahu bahwa aku tersinggung. Aku hanya diam menyimpan luka itu sendiri. Tapi sejak hari itu, aku mulai merasa tak nyaman disampingnya. Aku mulai menjauh, bukan karena aku marah, tapi karena aku merasa kalua kita sudah tidak sejalan. Rasanya seperti membuka diri lalu dikhianati oleh seseorang yang paling kita percayai.
Etika dalam pertemanan harus tahu mana luka yang bias dibicarakan, dan mana yang cukup didekap dalam diam. Tidak semua hal bisa dijadikan bahan candaan, meski pertemanan kita sudah lama. Karena pada akhirnya, bukan kedekatan yang mentukaan kepekaan, tapi rasa horman.
Diam Bukan Berarti Baik-Baik Saja
Setelah kejadia itu, aku tetap mengiyakan semua ajakan dia. Aku tetap bersikap seperti biasanya, aku tetap tersenyum setiap ia melontarkan candaan, tetap menjawab pesannya, tetap mendengarkan ceritanya. Tapi dalam diriku, ada jarak yang mulai tumbuh. Aku sudah tidak se-terbuka dulu. Setiap kali aku ingin bercerita tentang keresahanku, terputar kembali kejadian bagaimana ia memperlakukanku seperti badut.
Diamku bukan karena aku baik-baik saja, justru sebaliknya. Aku masih menghargai pertemanan ini, tapi aku juga belajar menghargai diriku sendiri. Dan kadang satu-satunya cara untuk melindungi diri sendiri adalah dengan menjaga jarak dari mereka yang tidak tahu kapan harus berhenti.
Aku tahu dia tidak berniat jahat, tapitidak semua luka datang dari niat buruk. Kadang, luka datag dari ketidaksadaran. Dan luka tetaplah luka, aku tidak perlu permintaan maaf yang dramatis. Aku hanya ingin dia tahu bahwa kalimatnya menyakitiku, mungkin dengan tahu itu dia akan lebih hati-hati ke orang lain. Tidak semua orang akan diam saja sepertiku, mungkin orang lain akan menjauh lebih cepat jika diperlakukan seperti itu.
YouGov Indonesia (2023) menunjukkan bahwa 42% orang pernah menjauh dari teman dekat karena merasa tidak dihargai secara emosional. Pelanggaran etika kecil seperti membocorkan rahasia, menyindir hal pribadi, atau meremehkan perasaan kerap dianggap sepele, padahal efeknya bisa memutus hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Etika Dalam Pertemanan Merupakan Perisai Kepercayaan
Kita sering berpikir etika itu hanya penting di tempat kerja, di ruang publik, atau dengan orang asing. Padahal, justru dalam pertemanan, ruang yang paling dekat adalah etika yang seharusnya dijaga dengan lebih hati-hati. Karena di sanalah semua hal lebih terbuka, lebih rentan, lebih mudah dilukai.
Aku tidak marah karena dia membuat kesalahan. Aku marah karena dia tak mengaggap bahwa itu masalah. Itu hal yang paling menyakitkan, saat orang yang kamu percaya tidak melihat apa yang kamu rasa. Padahal, aku selalu berusaha mengerti dirinya. Aku menyaring kata-kataku, memilih waktu yang tepat untuk berbicara, tidak pernah membuka aibnya ke orang lain. Tapi ternyata, itu bukan sesuatu yang dia lakukan juga untukku.
Etika itu bukan hal besar. Etika tumbuh dari kebiasaan kecil seperti tidak membicarakan teman di belakangnya, tidak memojokkan mereka di depan umum, tidak menjadikan masalah pribadi sebagai bahan lelucon. Etika adalah bentuk penghargaan yang paling mendasar.
Menurut The Conversation Indonesia (2022), salah satu kesalahan umum dalam relasi sosial adalah invalidasi emosional, yaitu ketika seseorang mengabaikan atau menyepelekan perasaan orang lain. Dan yang paling ironis, ini sering terjadi dalam hubungan yang sangat dekat, seperti sahabat atau pasangan.
Aku ingin punya sahabat yang paham bahwa kedekatan bukan berarti bisa melewati semua batas. Tapi juga sahabat yang tahu kapan harus menahan diri, kapan harus bertanya dengan lembut, dan kapan harus diam. Karena tak semua hal bisa ditertawakan, dan tak semua luka ingin dilihat.
Seperti Kaca Pecah yang Tidak Bisa Menyatu Kembali
Waktu telah berlalu. Dia pernah meminta maaf, meski dengan cara yang ringan. Katanya, “Kalau kamu marah soal itu, sorry ya.” Aku tersenyum, tapi aku tahu, maaf seperti itu tak mengobati apa pun. Bukan karena aku pendendam, tapi karena aku tahu, sesuatu dalam diriku sudah berubah.
Aku tidak membenci dia. Aku masih mendoakan yang baik untuknya. Tapi aku juga belajar bahwa tidak semua hubungan harus kembali seperti semula. Kadang, kita menjauh bukan karena tak sayang, tapi karena kita ingin menjaga hati diri sendiri.
Dari semua ini, aku belajar bahwa etika adalah komponen penting yang menahan hubungan agar tak runtuh. Sekali ia pecah, kepercayaan tidak akan kembali seperti semula. Mungkin bisa direkatkan, tapi tak akan lagi sekuat sebelumnya.
Kini, aku lebih berhati-hati dalam berteman. Aku mencari orang-orang yang tak hanya baik, tapi juga dapat mengerti dan menghargai diriku. Yang tak hanya bisa bercanda, tapi juga bisa membaca situasi. Yang tahu bahwa aku bukan manusia kuat setiap hari, dan tahu kapan harus menahan komentar meski dia merasa dekat.
Etika dalam pertemanan itu penting. Bahkan sangat penting. Ia bukan batas, tapi ruang aman. Dan aku bersyukur pernah terluka, karena dari luka itu aku belajar menjaga diriku sendiri. Aku tetap percaya pada pertemanan. Tapi kali ini, aku akan memilih lebih hati-hati siapa yang boleh masuk ke ruang paling rapuh dalam diriku.








