Hilangnya Makna Kursi Prioritas

Senin, 19/05/2025 - 20:19
Gambar Ilustrasi keadaan gerbong kereta sedang ramai. Foto: pexels/Ethan Sees

Gambar Ilustrasi keadaan gerbong kereta sedang ramai. Foto: pexels/Ethan Sees

Oleh : Nabila Afifah Utami (Mahasiswa Penerbitan Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta)

 

Klikwarta.com - Dua orang lansia berdiri di gerbong kereta yang ramai, sambil menggenggam erat tiang besi untuk menjaga keseimbangan dirinya. Seharusnya mereka duduk dan mendapatkan hak prioritas, namun mereka memilih diam. Tidak satu pun penumpang muda di kursi prioritas sadar akan hal itu.

Kejadian seperti itu bukanlah hal baru untuk pengguna transportasi umum, khususnya kereta. Seolah lansia, ibu hamil, atau penyandang disabilitas bukan lagi prioritas. Ironis, padahal etika dalam transportasi umum seharusnya menjadi cerminan kepedulian bersama.

Dikutip dari Commuterline.id, bahwa rata-rata volume pengguna sebanyak 1.005.546 orang per harinya. Angka ini mencerminkan betapa padatnya aktivitas di dalam gerbong, kepadatan ini selalu terjadi pada jam sibuk seperti jam pergi dan pulang kerja.

Hal itu membuat suasana di gerbong seperti "medan bertahan hidup", dengan penumpang yang fokus pada kenyamanan sendiri, sehingga kesadaran untuk memprioritaskan lansia dan penumpang lain yang membutuhkan sering kali terabaikan.

“Hal ini memang sering terjadi, banyak dari mereka yang sadar namun tetap abai kecuali, kalau sudah ditegur oleh petugas,” jelas David, penumpang kereta, ketika diwawancarai pada Sabtu.

Menurut David, banyak orang sebenarnya sudah tahu aturannya, mana kursi prioritas dan siapa yang berhak. Tapi tahu saja tidak cukup. Kesadaran etika dalam transportasi umum, bahkan di ruang publik lainnya, masih sangat kurang.

Mirisnya saya pernah menjadi bagian dari mereka, menjadi penumpang yang lebih memilih kenyaman pribadi dengan berpura-pura tidur tanpa melihat sekitar. Rasanya malu saat saat melihat Kakek yang berdiri, seolah ditampar oleh kenyataan bahwa saya terlalu egois Tanpa pikir panjang, saya berdiri dan mempersilakan beliau duduk. Ia tersenyum kecil dan mengangguk pelan, seperti mengucapkan terima kasih.

Sejak saat itu, saya menjadi lebih peka terhadap sekitar. Saya mulai memahami bahwa kebaikan tidak harus menunggu permintaan. Kadang, cukup dengan kepekaan dan niat tulus untuk peduli, kita bisa membuat hari seseorang menjadi lebih ringan.

Sayangnya, tidak semua orang berpikir sama dengan saya. Banyak yang masih menganggap etika dalam transportasi umum sepele. Padahal di ruang publik etika menjadi suatu hal yang sangat penting, dan etika tidak selalu berbentuk aturan tertulis. Ia tumbuh dari suatu kebiasaan dan kesadaran.

 

Masih banyak penumpang yang memilih diam. Mereka memilih sibuk dengan ponselnya dan pura-pura tertidur. Meskipun mereka tahu ada yang berdiri da lebih membutuhkan tempat duduk, tapi mereka mengabaikannya.

“Itu memang sudah jadi trik umum,” ujar David, yang mengaku pernah melakukan hal serupa karena malas berdiri di perjalanan panjang. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran sosial masih menjadi PR besar dalam penggunaan transportasi umum.

Etika itu menular, saya pernah berdiri saat melihat ibu-ibu masuk, dan tindakan itu diikuti oleh penumpang lainnya. Maka saya percaya etika itu menular. Kalau satu orang peduli yang lain bisa ikut. Tindakan kecil itu menghasilkan suatu hal yang positif, dari satu kursi yang saya berikan jadi tumbuh kepekaan orang lain yang menjadikan kenyaman banyak banyak orang.

Maka penting untuk menyadari bahwa etika bukan tanggung jawab orang lain saja. Kita semua punya peran dalam menciptakan lingkungan transportasi yang nyaman dan manusiawi. Dimulai dari hal sederhana dengan memperhatikan sekitar, mengalah saat perlu, dan menghargai hak orang yang lebih membutuhkan.

Kita tidak pernah tahu bagaimana perjuangan seseorang untuk tiba sampai ke dalam kereta. Mungkin seorang ada yang merasa nyeri kaki, mungkin ada seorang ibu hamil yang lelah, dan perjuangan seorang disabilitas yang sampai di dalam kereta. Tapi satu hal yang pasti, mereka semua membutuhkan kesadaraan dan kebaikan dari sesama penumpang.

Jika setiap orang sadar bahwa bahwa transportasi umum bukanlah ruang individu, tentu saja etika sudah menjadi suatu kebiasaan bukanlah suatu paksaan. Para pengguna transportasi umum akan saling menjaga dan menghargai satu sama lain, dan para penumpang prioritas akan merasa aman saat menggunakan transportasi umum.

Pendidikan etika harus dimulai sejak dini. Tapi lebih dari itu, teladan nyata di ruang publik adalah pelajaran paling efektif. Anak-anak yang melihat orang tuanya memberi kursi kepada lansia akan tumbuh dengan pemahaman bahwa itu adalah hal yang benar dan wajar dilakukan.

Etika transportasi umum adalah cerminan cara kita hidup di ruang publik. Bila kita membiasakan diri untuk peduli satu sama lain, maka kita sedang membentuk budaya kota yang tidak hanya sibuk, tetapi juga beradab dan penuh empati.

Kita semua akan menua. Suatu hari, mungkin kitalah yang berdiri lemah di gerbong, berharap ada yang memberi tempat duduk. Maka mulailah peduli dengan tanpa menunggu hari itu. Bayangkan, betapa hangatnya hati seseorang yang disambut dengan kebaikan kecil itu di tengah keramaian.

Mulai hari ini, tingkatkan rasa peduli kita dengan melihat sekitar, berdirilah jika perlu sebagai manusia yang sadar akan sesama. Kursi prioritas bukan sekedar aturan, melainkan wujud penghormatan terhadap mereka yang lebih memerlukan, maka di sanalah etika menemukan makna.

Tags

Berita Terkait