Foto : Freepik
Oleh : Nariza Riskantia Haya
Klikwarta.com - Aku cuma diam dan enggak melawan apa pun, karena waktu itu aku merasa paling rendah jadi enggak membalas dan cuma bisa diam,”
Dalam kehidupan sosial, kita sering menganggap pertemanan sebagai lingkungan yang aman dan seru. Tapi bagaimana jika justru dengan lingkup itu kita disakiti, disalahkan, atau diabaikan?. Banyak konflik pertemanan yang sebenarnya bukan soal kesalahpahaman semata, melainkan soal sikap etika yang terlupakan atau bahkan tidak disadari.
Etika dalam kehidupan bukan cuma soal benar atau salah. Tetapi soal bagaimana kita memperlakukan sesama dengan hormat dan bertanggung jawab. Hubungan sederhananya ada di dalam pertemanan.
Belum lama ini saya melihat satu kelompok yang terlihat kompak. Mereka duduk bersama dan asyik berbicara satu sama lain. Tapi, ada satu teman yang diabaikan. Dia hanya diam dan selalu mengangguk-anggukan kepala. Mungkin dia seorang pendengar atau memang belum punya topik.
Namun, tidak lama dia mulai diminta mengambil barang, membeli makanan, dan bahkan membersihkan makanan teman-temannya. Saya merasa kasihan dan ingin membantu, tetapi saya harus segera pergi.
Lidah Berbicara, Luka Ikut Terbuka
Saya jadi teringat dengan kelakuan saya. Di sisi lain, sayalah yang memulai pertengkaran dan berakhir dijauhi teman-teman. Tahun 2017 sewaktu kelas 1 SMP, beberapa teman perempuan berkumpul di kelas.
Mereka saling berbagi kisah kehilangan sosok yang dicintai. Dari luar kelas mereka terlihat serius mendengarkan. Saya datang untuk ikut bergabung. Namun tanpa sadar, saya mengatakan kalimat yang tidak pantas untuk situasi kala itu.
“Kenapa nangis sih? Kan kalian masih punya orang tua, cuma Kakek Nenek meninggal kalian segitunya,” ujar saya usai mendengar keseluruhan cerita.
Mereka terkejut mendengar perkataan yang saya lontarkan. Salah satu teman langsung berdiri dan berkata jika saya tidak tahu apa yang mereka rasakan. Sejak hari itu, pertemanan dengan mereka mulai canggung.
Saya sadar jika kalimat yang dilontarkan bukan hanya menyakitkan tetapi juga tidak etis. Pengalaman dan perasaan setiap orang berbeda. Dengan perkataan seperti itu, secara langsung mencerminkan bagaimana saya tidak memandang dan mengerti perasaan orang lain.
Bantuan yang Tidak Dihargai
Salah satu teman saya Lia mengalami hal yang mungkin semua orang pernah merasakannya. Ia dikenal cerdas di tempat konsultasi dan sering diminta bantuan oleh teman-temannya.
“Waktu itu ada kejadian teman Lia minta jawaban dan Lia enggak kasi. Tapi, Lia mau bantu cari caranya. Sudah dibantu dan dia sudah tahu, enggak ada ucapan terima kasih keluar dari mulut dia, dan itu bukan sekali dua kali, tapi sering banget,” jelas Lia.
Hal ini mungkin dianggap sepele oleh beberapa orang, tetapi sangat berarti untuk mereka yang tahu cara menghargai. Dalam lingkup pertemanan, meminta bantuan adalah hal wajar. Berterima kasih adalah hal wajib sebagai bentuk menghargai dan menghormati orang lain.
“Terus Lia pikir, kalo menanggapi orang yang kayak gitu enggak akan ada habisnya malah menguras pikiran aja,” sambung Lia.
Diam Sebagai Senjata
Tak semua luka datang dari orang yang jahat. Namun sebaliknya datang dari lingkungan yang seharusnya baik dan aman. Inilah yang dialami Aulia, ia merasakan bagaimana rasanya tidak diperlakukan dengan baik oleh teman-temannya. Saat duduk di bangku SMP, ia pernah mendapat perkataan dan tuduhan jelek oleh beberapa temannya.
“Aku cuma diam dan enggak melawan apa pun karna waktu itu aku merasa paling rendah jadi enggak membalas dan cuma bisa diam,” ujar Aulia.
Namun, di saat dirinya sedang terpuruk. Ada teman yang membantu dan membela Aulia. Walaupun tidak memberikan efek jera yang panjang, Aulia bersyukur masih ada yang ingin membantunya.
Pengalaman ini menjadi titik balik untuk bertahan. Baginya tidak semua teman itu baik dan tidak semua yang jahat itu tidak baik. Dalam pertemanan, saling membela dan tidak menyakiti sangat dibutuhkan. Selain itu, menjaga kepercayaan satu sama lain dan tidak menyakiti, bukti kuat sebuah pertemanan sehat.
Privasi yang Diganggu
Selain soal menghargai perasaan teman, kita juga harus memahami batas privasi seseorang. Setiap orang memiliki kebutuhan, waktu, dan privasi. Bina seorang mahasiswi yang belum lama menghadapi perilaku temannya. Ia bukanlah orang yang nyaman berbicara lewat telepon. Namun, salah satu temannya kerap langsung menghubungi tanpa meminta izin.
“Setiap contact tuh langsung call tanpa izin buat call. Kayak sudah beberapa kali atau bahkan berteman lama, tapi kenapa belum sadar juga I'm not a call-person,” ujar Bina.
“Gue sudah beberapa kali juga bilang soal itu, tapi tetap dilakuin,” sambungnya.
Bagi sebagian orang, menelepon langsung adalah hal biasa. Tapi jika hal ini terus menerus dilakukan tanpa izin, akan mengganggu waktu dan privasi. Masalah privasi dalam pertemanan memang tidak selalu tampak mencolok. Namun justru karena terlihat sepele dan sering terabaikan.
Harus Tahu Diri
Saat kita sedang melakukan kerja kelompok, pastinya dibutuhkan kerja sama untuk menuju tujuan. Akan tetapi, dalam suatu kelompok karakter seseorang tidak bisa kita ubah. Maka penting untuk kita memahami terlebih dahulu bagaimana karakter tiap orang.
Bina turut menyampaikan permasalahannya saat di dalam kelompok. Ia mengalami konflik saat anggota kelompoknya tidak berkomunikasi dengan baik. Akibatnya, ia dan yang lain disalahkan.
“Memang posisinya kelompok ini enggak ada ketua, terus dia memang yang woro woroin. Eh di tengah-tengah nyiapin tugas malah kayak ngeluh,” ujar Bina.
“Dia sampe ngetik goblok atau bodoh. Padahal itu kan kerjaan kelompok ya, kenapa nyalah-nyalahin anggota yang lain, kan dia turut ikutan ada di kelompok itu loh,” sambungnya.
Dalam kerja sama, tanggung jawab tidak bisa dilemparkan sepihak. Seharusnya kita dapat menyadari kalau tanggung jawab di dalam kelompok harus dikerjakan bersama. Jika emosi, justru kata-kata tidak pantas muncul dan membuat suasana canggung.
Meski mengalami masalah pertemanan. Bina mengaku masih memiliki teman yang bisa menghargainya.
“Sebaliknya sama si B, dia di satu saat saja kita bisa ngobrol ataupun ketemu. Gue suka pas ketemu dia tetap nyambung dan bisa ngobrol lama karena kita saling ngerti boundaries plus batasan satu sama lain,” ungkap Bina.
Di sinilah pentingnya nilai pertemanan. Saat berteman bukan lagi soal berapa sering bertemu dan berkomunikasi. Tetapi soal seberapa paham dan tahu privasi atau pun perasaan satu sama lain.
Akrab Tidak Selamanya Saling Memahami
Dari semua cerita dan pengalaman, satu hal yang perlu diingat yaitu ketika kita tidak menjaga sikap, hubungan pertemanan perlahan menghilang. Mereka menunjukkan bahwa luka dalam pertemanan, sering kali tidak datang dari konflik besar. Justru sebaliknya dari hal kecil yang diabaikan.
Rusaknya kepercayaan, lelah untuk terus mengalah, dan rasa tidak dihargai merupakan dampak yang didapatkan, ketika kita tidak menggunakan perasaan dan logika. Berteman tidak cukup hanya karena sering bersama. Hubungan pertemanan akan kuat saat satu sama lain tahu kapan harus berbicara, bertemu, sampai empati.
Berteman bukan sekedar memiliki teman banyak. Akan tetapi menjadi seseorang yang layak untuk ditemani. Mungkin kita tidak terlalu sempurna, namun kita bisa memilih untuk menghargai sesama. Karena teman yang baik bukan hanya yang hadir saat senang, tapi juga tahu kondisi apa yang sedang dihadapi.








