Pola Asuh berpengaruh pada Komunikasi Anak Usia Dini?

Minggu, 20/11/2022 - 18:26
Sumber: Pexels/Pixabay

Sumber: Pexels/Pixabay

Oleh: Larassati Mustika Rochmasari (Mahasiswa Institut Pertanian Bogor)

Komunikasi yang dilakukan oleh manusia dalam berbagai kegiatan tentunya akan mempermudah kehidupannya, begitu pun komunikasi yang dilakukan oleh anak usia dini dengan orang tua maupun lingkungan sekitarnya. Lantas apakah peran pola asuh orang tua akan mempengaruhi komunikasi pada anak usia dini?

Anak usia dini adalah anak dengan rentang usia 0-8 tahun. Masa-masa ini biasa disebut golden age karena pada masa ini anak berada dalam proses pertumbuhan serta perkembangan yang sangat pesat dan tidak tergantikan di masa mendatang. Berdasarkan hasil penelitian di bidang neurologi, terbukti bahwa 50% kecerdasan anak terbentuk dalam kurun waktu 4 tahun pertama. Setelah anak berusia 8 tahun, perkembangan otaknya mencapai 80% dan akan mencapai 100% pada usia 18 tahun.

Di usia dini, anak-anak memiliki potensi untuk mempelajari sesuatu dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, tidak terkecuali belajar berkomunikasi untuk mendukung proses manajemen dalam keluarga. Kemampuan berbicara pada anak dimaksudkan membantu anak untuk berani mengungkapkan isi pikirannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi komunikasi pada anak adalah pola asuh orang tua. Menurut Baumrind (2002), terdapat empat macam bentuk pola asuh yang diterapkan oleh masing-masing orang tua, yaitu pola asuh otoriter, pola asuh demokratis, pola asuh permisif, dan pola asuh penelantar.

Anak-anak usia dini adalah individu yang belum sempurna secara mental. Seiring berjalannya waktu, perasaan anak akan semakin sempurna. Oleh karenanya, orang tua memegang peranan terpenting untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, yaitu mendengarkan, mengerti, menghargai, dan memahami perasaan. Salah satu penelitian mengungkapkan, terdapat gaya orang tua dalam berkomunikasi yang menghambat komunikasi anak, yaitu memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengkritik, menyindir, dan menganalisa.

Adapun komunikasi anak usia dini yang diharapkan adalah komunikasi efektif yang dapat menimbulkan pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan. Komunikasi yang efektif dalam keluarga sangat berarti dan penting dalam perkembangan anak usia dini, karena dapat menjadi jembatan penghubung untuk mempererat hubungan emosional orang tua dengan anak, penyampai pesan yang tepat, membantu pengembangan daya berpikir anak, menciptakan lingkungan yang ramah anak dan suasana yang lebih tenang dan hangat.

Agar komunikasi menjadi efektif antara orang tua dan anaknya, secara teoritis harus memenuhi beberapa unsur, yaitu berkomunikasi dengan berbicara secara terbuka, mendengarkan dengan penuh perhatian, menghindari kata jangan atau tidak, berkomunikasi dengan pandangan mata sejajar dan menggunakan kata-kata yang baik (Latif Et al., 2014). Apabila hal tersebut sudah dilakukan, maka akan terwujud komunikasi yang efektif antara anak dan orang tua.

Anak-anak usia dini yang belum sempurna secara mental dan pikiran juga dapat menjadi hambatan dalam komunikasi. Anak-anak seringkali belum mampu mengatakan apa yang dirasakan dan diinginkan karena keterbatasan kosakata sehingga anak lebih banyak menggunakan bahasa tubuh untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Apalagi saat ini kebutuhan dasar anak adalah untuk didengarkan, dimengerti, dihargai dan dipahami perasaannya, terutama oleh orang tua. Selama ini banyak orang tua yang menganggap bahwa orang tua lah yang harus didengar. Padahal, berkomunikasi yang baik dapat membangun hubungan yang baik pula.

Berkomunikasi dengan baik akan sangat membantu kita untuk saling memahami satu sama lain, menghindari kesalahpahaman, dan tentunya akan saling memberikan rasa nyaman. Dalam menghadapi hambatan-hambatan dalam berkomunikasi dengan anak usia dini, dibutuhkan strategi untuk menanganinya yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat anak, yaitu orang tua dan keluarganya. Dengan pola komunikasi yang tepat antara anak dan orang tua, menstimulasi anak dengan pembelajaran perbendaharaan kosakata yang direalisasikan dengan kegiatan belajar sambil bermain, dan juga prinsip interaksi aktif antara anak usia dini dengan orang tua, keluarga, atau orang lain.

Seiring berjalannya waktu, perasaan anak akan semakin sempurna. Oleh karenanya, orang tua memegang peranan terpenting untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, yaitu mendengarkan, mengerti, menghargai, dan memahami perasaan. Faktor keterlambatan komunikasi pada anak menjadi hambatan dalam komunikasi. Anak-anak seringkali belum mampu mengatakan apa yang dirasakan dan diinginkan karena keterbatasan kosa kata, maka anak lebih banyak menggunakan bahasa tubuh untuk ekspresikan perasaan dan pikirannya. Adapun strategi dalam menjalin komunikasi dengan anak usia dini, yaitu memilih pola komunikasi yang sesuai, memberi stimulus pada anak, pembelajaran bahasa dengan metode interaksi aktif, dan memilih lingkungan yang tepat. Selain itu, komunikasi yang baik dalam sebuah keluarga tidak terlepas dari peran orang tua. Oleh sebab itu, orang tua perlu senantiasa menambah pengetahuan mengenai parenting dan membina kehidupan keluarga yang harmonis sebagai upaya membentuk kepribadian anak usia dini.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, S. (2015). Komunikasi Pada Anak Usia Dini. WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 14(3), 230-240.

Baumrind, D. (1966). Effects of Authoritative Parental Control on ChilD Behaviour. Child Development, 37(4), 887-907.

Tags

Berita Terkait