Jejak Peradaban Masa Lalu di Pura Dhali Agrahita

Kamis, 30/03/2023 - 16:35
Pura Dhali Agrahita

Pura Dhali Agrahita

Klikwarta.com, Malang - Pura Dhali Agrahita yang berlokasi di Dusun Sebaloh, Desa Pandesari, Pujon, Malang, berada paling atas di antara perbukitan sekitarnya. Pura tersebut berada di persilangan Gunung Kawi, Gunung Dorowati, Gunung Anjasmoro dan Gunung Arjuno.

Suwondo, pecinta budaya, mengeksplorasi keberadaan Pura yang meninggalkan jejak peradaban masa lalu, dan jejak itu diduga segaris dengan era Kerajaan Majapahit. Wiji, sesepuh Pura tersebut menceritakan seputar keberadaan pembangunan tempat ibadah hingga jejak peradaban masa lalu, kamis (30-3-2023).

K

Dijelaskan Wiji, berdirinya Pura berawal dari aspirasi warga Sebaloh, Ngroto, Ngabab dan Tawangsari yang tidak memiliki tempat ibadah disekitarnya, dan setiap beribadah mereka menempuh perjalanan sekitar 35 km menuju Pura Dwijawarsa Gunung Buring (tahun 1960an). Pada masa itu, moda transportasi darat sangat minim, mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama 3 jam lebih.

"Dulunya, orang-orang sini berjalan kaki ke Pura, waktu itu tidak ada kendaraan bermotor, kalau ada, itu cikar. Butuh 3 jam lebih berangkatnya, kalau ditambah pulangnya, 6 jam lebih,"jelas Wiji.

Lanjutnya, di tahun 1967, ibu Arbaiyah menghibahkan lahan untuk digunakan sebagai Pura. Saat itulah mulai pembangunan bertahap dilakukan, sekaligus pemberian nama Pura.

"Pura ini dinamakan Dhali Agrahita waktu itu, Dhali berasal dari tempat ini yang disebut Puthuk Dhali, Agra artinya kebahagiaan, Hita artinya jalan. Awalnya tidak seperti ini, masih bentuk Pager Penyengker, semua terbuat dari bambu," kata Wiji.

N

Di tahun 1984, dilakukan renovasi keseluruhan, dari pembangunan Candi Bentar, Puri Agung dan Padmasari, ketiganya dibangun secara gotong royong. Berlanjut tahun 1985, Perhutani membuka akses jalan menuju Pura, dan ujungnya, tahun 1998, renovasi kembali dilakukan, dan hasil renovasi inilah yang saat ini terlihat.

"Dulunya, kita jalan kaki dari bawah ke atas, sekitar 100 meter lebih, lewat jalan setapak, bukan jalan yang sekarang. Baru tahun 1985, Perhutani membuka jalan dari bawah ke atas (menuju Pura),"ungkapnya.

N

Dikatakan Wiji, jumlah umat Hindu di Dusun Sebaloh tercatat 65 KK (kepala keluarga), mereka berbaur dengan umat lain. Di Pura ini, terdapat Padmasana setinggi 7,5 meter yang difungsikan untuk pemujaan.

Selain itu, ada Meru Tumpang Telu setinggi 7,5 meter sebagai sarana manifestasi Tuhan. Disampingnya, ada Panglurah untuk memuja leluhur (kawitan). Tidak jauh, ada Gedong Simpen untuk menyimpan barang disakralkan.

Disekitar lokasi tersebut, ada Pemujaan Pemangku, Balai Pawedan untuk pendeta melafalkan Wedha. Di pura ini, ada Qori Agung atau Gelung Qori yang dibagi 3 fungsi, yaitu Nista Mandala (keduniawian), Madya Mandala (kegiatan religi) dan Utama Mandala (kegiatan sembahyang).

"Disini juga ditemukan benda-benda dari peradaban masa lalu, rujukannya ke era Kerajaan Majapahit. Ada genta, ada benda-benda lain berkaitan sarana ibadah, ini semua disimpan Pemangku,"jelas Wiji.

Lanjutnya, dulu benda-benda tersebut diletakkan di Pura, namun setelah pernah terjadi upaya pencurian dan penjualan ilegal, seluruh benda-benda itu disimpan Pemangku. 

Terkait penjualan, sekitar tahun 1980an, salah satu benda dijual secara ilegal, setelah itu si penjual maupun si pembeli mengalami gangguan yang tidak bisa dinalar. Ujungnya, benda itu dikembalikan kepada Pemangku saat itu, dan memohon pengampunan.

Tak cuma itu, pernah terjadi hal-hal supranatural dari pengunjung yang melakukan perbuatan tidak baik, yaitu meminta nomor (SDSB hingga togel). Pengunjung tiba-tiba terlempar keluar dari Pura, dan mengakui bersalah kepada Pemangku.

"Kami persilahkan siapa saja yang berkunjung kesini, kami welcome kepada siapa saja. Banyak yang datang kesini, kami selalu berpesan, bebas asal sopan, jangan memohon yang tidak baik,"pungkas Wiji. (red)

Berita Terkait