Foto : Istimewa
Klikwarta.com - Ditengah terik Jakarta Timur, Jimmi memanjat tangga besi dengan perkakas di tangan. Sejak pagi, ia telah memperbaiki tiga unit AC rusak. "Biar panas, yang penting keluarga bisa makan," ujarnya.
Bagi pria kelahiran tahun ini, setiap panggilan adalah harapan untuk rezeki untuk makan setiap hari. Bagi Jimmi, setiap panggilan yang datang dari pelanggan bukan sekadar panggilan kerja, melainkan dentang harapan.
Ia yang memulai karir sebagai teknisi AC pada 1990 silam, tak pernah menyangka bahwa tiga puluh lima tahun kemudian, tangannya masih setia membawa obeng dan tang ke rumah-rumah warga Jakarta. Usianya yang tak lagi muda justru menjadi saksi betapa tekadnya untuk memastikan anak semata wayangnya, tak perlu terjun ke lapangan pekerjaan di usia dini seperti dirinya.
“Saya ingin dia punya pilihan hidup yang lebih baik,” ucapnya, sembari menatap foto anaknya yang terselip di dompet usang.
Perjuangan itu tidak mulus. Di tengah pandemi 2020, tabungan pendidikan Dimas nyaris habis untuk biaya berobat istri tercinta, yang terkena tipus.
"Waktu itu, saya kerja 14 jam sehari. Bangun jam 3 pagi, pulang jam 11 malam. Tapi syukur, istri sembuh dan pelanggan mulai kembali," cerita Jimmi dengan mata berkaca-kaca. Ketekunannya tidak hanya menginspirasi keluarga. Di komunitas tukang AC Jakarta Timur, ia dijuluki "Mentor Tanpa Pamrih".
Namun, di balik ketangguhannya, tubuh Jimmi menyimpan derita. Bekas luka di betis kanannya akibat jatuh dari tangga setinggi 3 meter pada tahun 2018 menjadi saksi bisu betapa ia kerap memaksakan diri. Kini, lututnya kerap berbunyi "krek" saat menaiki tangga, tapi ia tetap menolak menggunakan jasa ojek online.
"Biaya servis AC kan sudah termasuk transport. Kalau naik ojek, untungnya berkurang," ujarnya dengan logika ekonomi yang ia pelajari secara otodidak.
Di rumah kontrakan berukuran 6x10 meter, ia menyimpan celengan kaleng bekas biskuit yang menjadi simbol harapan keluarga ini. Setiap hari, Jimmi menyisihkan Rp5.000 dari penghasilannya yang bisa mencapai Rp200.000/hari. "Ini untuk biaya wisuda anak saya. Sudah terkumpul Rp8 juta. Semoga saja cukup," harapnya sambil menutup celengan.
Senja itu, Jimmi pulang dengan baju penuh noda. Dimas menyambutnya dengan hasil nilai IPKnya selama semester tiga.
"Pak lihat, aku lulus semester ini dengan nilai IPK 3. Doain aku pak, semoga aku bisa lulus kuliahnya,” ucap anaknya. Jimmi hanya mengangguk, lalu memeluk erat putranya. Di sudut ruangan, istrinya tersenyum sambil menyiapkan air hangat untuk merendam kaki suaminya yang bengkak. "Banyak yang bilang saya kuno. Kenapa nggak cari kerja kantoran? Tapi saya bangga jadi tukang AC," ucap Jimmi.
Kisah Jimmi mungkin tidak akan masuk dalam buku sejarah. Namun, bagi pelanggannya, ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang membuktikan bahwa semangat juang sejati tidak diukur dari gelar atau kekayaan. Melainkan dari keberanian untuk terus bangkit meski dengan lutut yang berderak dan dompet yang kerap menangis.
Seperti AC yang ia perbaiki, hidup Jimmi adalah siklus tanpa akhir: panas yang harus diubah menjadi dingin. keputusasaan yang dikonversi menjadi harapan. Dan selama nafas masih mengalir, pria kelahiran 1965 ini akan tetap memanggul tangga besinya, melangkah di bawah terik Jakarta, dengan satu keyakinan selama ada kemauan, bahkan mesin paling rusak pun bisa kembali berdenyut. Semoga dari kisah ini terbit sebuah gemerlap cahaya yang bisa menerangi para pencari nafkah yang rela banting tulang untuk keluarganya dirumah.
Penulis : Dimas Satria Nugroho








