Ilustrasi. AI
Klikwarta.com, Timur Tengah - Perang antara Iran melawan aliansi Israel dan Amerika Serikat (AS) semakin tak terkendali. Memasuki hari ke-11, Selasa (10/3/2026), rentetan serangan rudal dan drone mengguncang kawasan Timur Tengah tanpa henti.
Langit Israel dilaporkan dipenuhi sirene peringatan setelah Iran meluncurkan gelombang serangan balasan ke sejumlah kota besar, termasuk Tel Aviv dan Yerusalem. Warga berlarian mencari perlindungan di tengah ancaman ledakan yang bisa terjadi kapan saja.
Tak hanya Israel, pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah juga menjadi target. Serangan simultan ini disebut sebagai salah satu yang terbesar sejak konflik pecah akhir Februari lalu.
Serangan Balasan
Di saat yang sama, militer Israel dan AS menggempur habis-habisan wilayah Iran. Sejumlah fasilitas militer penting, termasuk basis rudal dan pusat komando elit, menjadi sasaran serangan udara intensif sepanjang malam.
Ledakan dilaporkan terjadi di berbagai titik strategis, menandakan perang telah memasuki fase yang jauh lebih brutal.
Iran pun tak tinggal diam. Pemerintahnya mengklaim serangan mereka “sangat efektif” dan berhasil menembus pertahanan lawan—meski klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Konflik Melebar, Kawasan Ikut Terbakar
Situasi makin mencekam ketika konflik mulai merembet ke luar wilayah utama. Kelompok Hizbullah di Lebanon ikut menyerang Israel dari utara, memicu kekhawatiran perang multi-front.
Di kawasan Teluk, ketegangan meningkat tajam. Ancaman terhadap jalur vital Selat Hormuz membuat dunia waspada, mengingat jalur ini adalah urat nadi distribusi minyak global.
Harga Minyak Meroket, Dunia Deg-degan
Dampak perang langsung terasa ke ekonomi global. Harga minyak melonjak tajam hingga menembus USD 100 per barel, memicu kekhawatiran krisis energi baru.
Pasar global pun bergejolak, sementara negara-negara besar mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Dunia Menahan Napas
Hingga kini, belum ada tanda-tanda perang akan mereda. Justru sebaliknya, kedua pihak terus menunjukkan kekuatan penuh.
Seruan gencatan senjata dari berbagai negara belum membuahkan hasil. Dunia kini hanya bisa menahan napas, menunggu apakah konflik ini akan berhenti—atau justru berubah menjadi perang besar yang lebih luas. (*)








