Wamen Atip Dorong Penguatan Pendidikan Berbasis Spiritualitas dan Kepedulian Lingkungan

Kamis, 30/07/2026 - 12:57
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat

Klikwarta.com, Bandung - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, mendorong penguatan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, kearifan lokal, dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai upaya menyiapkan generasi yang mampu menjawab berbagai tantangan global di era multipolar. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara pada  _International Conference on Islam in the Malay World (ICON IMAD XV) Malay-Islamic Eco-Theology and Cultural Resilience in the Multipolar Era: Educational Implications_ pada Senin (27/7) di Bandung.

Menurut Wamen Atip, dunia saat ini menghadapi tiga tantangan besar, yakni krisis ekologi akibat perubahan iklim, krisis budaya yang ditandai memudarnya identitas lokal, serta tantangan pendidikan yang masih didominasi pendekatan sekuler-materialistik. Kondisi tersebut perlu dijawab melalui sistem pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai-nilai spiritual, dan kearifan lokal. 

“Pendidikan harus meletakkan Allah sebagai pusat, manusia sebagai penjaga, dan alam sebagai amanah. Tujuan kita adalah menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, spiritual, dan bertanggung jawab secara ekologis (_ecologically responsible_),” ujar Atip. 

Tujuan tersebut diwujudkan melalui penguatan literasi ekologis, kecerdasan spiritual, dan penguatan identitas budaya peserta didik. Implementasinya dilakukan melalui integrasi _Fiqh al-Bi’ah_ dalam Pendidikan Agama Islam, pemanfaatan pantun, hikayat, dan peribahasa sebagai media pembelajaran, penguatan integrasi sains dengan nilai-nilai _Al-Qur’an_, hingga pembelajaran berbasis proyek yang mendorong peserta didik terlibat langsung dalam pelestarian lingkungan. Selain itu, sekolah juga didorong menjadi institusi yang ramah lingkungan dan memanfaatkan media digital untuk memperluas edukasi mengenai kepedulian terhadap lingkungan. 

Selaras dengan upaya tersebut, Kemendikdasmen juga terus memperkuat ekosistem pendidikan melalui berbagai program, salah satunya revitalisasi satuan pendidikan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang aman, sehat, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik. “Kami menargetkan revitalisasi 80.000 satuan pendidikan sampai akhir tahun ini. Salah satu syarat mutlaknya: wajib ada toilet yang layak. Toilet sekolah adalah cerminan peradaban,” tegasnya.

Wamen Atip juga menambahkan bahwa pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga perlu memperkuat nilai-nilai yang membentuk karakter peserta didik agar mampu menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat. “Ekoteologi Islam Melayu menawarkan alternatif bagi dunia: pembangunan yang disertai spiritualitas, kemajuan yang disertai nilai-nilai,” ungkap Atip. 

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Aan Hasanah, menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi fondasi dalam membangun kesadaran peserta didik untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari karakter. Menurutnya, pendidikan perlu menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan bukan semata karena aturan, melainkan sebagai karakter yang tertanam dalam diri peserta didik. Nilai-nilai tersebut dapat diperkuat melalui pemanfaatan kearifan lokal yang telah diwariskan masyarakat selama berabad-abad. 

“Alam bisa memenuhi kebutuhan manusia (_need_), tapi alam tidak akan pernah bisa memenuhi keserakahan manusia (_greed_). Pendidikan harus menjadi kompas moral bagi perilaku manusia terhadap semesta,” ujar Aan Hasanah.

Menutup paparannya, Wamen Atip mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun pendidikan yang mampu menjawab tantangan masa depan melalui penguatan kurikulum, pendidikan guru, pelestarian kearifan lokal, serta pemberdayaan sekolah dan masyarakat sebagai pusat resiliensi ekologis.

“Ekoteologi Islam Melayu bukan tentang kembali ke masa lalu, tapi peta jalan menuju masa depan. Kita harus memberdayakan setiap sekolah dan masjid menjadi pusat pertahanan ekologi,” tutupnya. (**) 

Berita Terkait