Walikota Blitar Santoso Berikan Sambutan Pengarahan pada Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke- 29 Tahun 2022 (foto : Faisal NR / Klikwarta.com)
Klikwarta.com, Kota Blitar - Memaknai Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke- 29, Walikota Blitar Santoso berharap Kota Blitar terbebas dari kasus stunting atau gizi buruk dengan kata lain zero stunting case.
Ini ia tandaskan ketika Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar memperingati Harganas ke- 29 di Balaikota Koesoemo Wicitra, Senin (11/7/2022).
"Mudah-mudahan peringatan hari keluarga nasional ke 29 Kota Blitar harapan saya bisa zero stunting. Walaupun secara nasional sekarang ini masih 24 persen. Target dari Pak Jokowi, tahun 2024 jadi 14 persen, sementara kita sudah 12 persen. Saya sarankan kita tidak boleh berbangga diri dengan capaian ini tapi harus kita kejar terus agar benar-benar zero stunting," ungkap Santoso kepada wartawan seusai membuka peringatan Harganas ke- 29.
Pemkot Blitar melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Perlindungan Perempuan dan Anak, Keluarga Berencana (DP4AKB), lanjut Santoso, juga telah membuat sebuah aplikasi One Touch Stunting sebagai salah satu upaya menekan angka stunting di Kota Blitar.
"Stunting ini tidak bisa ditangani sendiri oleh dinas P3P2KB, tapi ini menjadi tanggungjawab kita bersama," tukasnya.
"Kita telah membentuk satu tim. Tim itu gabungan ya dari Bidan, dari dinas dan dari masyarakat. Itu akan terjun bersama-sama, terus memonitor mengunjungi dari keluarga yang stunting untuk mengintervensi. Terutama dalam hal ibu-ibu hamil pemberian vitamin gizi ya. Karena stunting itu bisa terjadi karena kekurangan gizi. Kalau gizi tercukupi Insya Allah stunting itu tidak akan terjadi," sambung Santoso.
Lebih dalam, ia menilai faktor lain yang mampu menimbulkan kasus stunting adalah berawal dari pernikahan dini. Karena perkawinan dini itu dipastikan belum siap mental dan melahirkan keturunan yang berpotensi mengalami stunting.
"Makanya kita libatkan anak-anak muda dalam bentuk bentuk genre itu supaya mereka bisa bersosialisasi dengan anak-anak sebaya. Karena perkawinan dini juga marak terjadi mereka belum siap mental tetapi siap menikmati indahnya rumah tangga," tutupnya.
(Pewarta : Faisal NR)








