Wamen LH Diaz Hendropriyono
Klikwarta.com, Jakarta - Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa mekanisme perdagangan karbon (carbon trading) dapat menjadi insentif bagi industri nikel untuk mempercepat proses dekarbonisasi. Hal ini disampaikan oleh Wamen Diaz saat penyelenggaraan Konferensi Nasional “Memperkuat Daya Saing Industri Nikel melalui ESG, Dekarbonisasi, dan Uji Tuntas Bisnis dan HAM” yang diadakan oleh organisasi Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) di Jakarta, Rabu (9/9)
“Carbon trading ini bisa menjadi cara untuk memberikan insentif kepada industri nikel untuk melakukan dekarbonisasi, setiap perusahaan kan pastinya mengeluarkan emisi, nanti ditetapkan oleh pemerintah hanya boleh berapa, kalau emisinya ternyata kelebihan, dia harus beli karbon dari pasar, tapi kalau kurang dari batas emisi, ini bisa memberikan insentif untuk sebuah perusahaan untuk menjual karbon,” jelas Wamen Diaz.
Dalam acara ini, Wamen Diaz menyampaikan bahwa pemerintah telah menetapkan sistem Emissions Trading System (ETS), yaitu mekanisme cap-and-trade yang diterapkan untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca sekaligus mengurangi polusi. Saat ini, penerapan ETS masih mencakup pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara dan ke depan akan terus didorong untuk diterapkan pada sektor perusahaan dan industri lainnya.
“Kita dorong sistem yang namanya ETS, ini sudah berlaku di PLTU batu bara tapi belum di PLTU biomassa, minyak, PLTP Geothermal, industri semen, nikel, dan lain sebagainya, ini yang perlu kita dorong bersama supaya ada yang namanya dekarbonisasi, ini perlu sistem cap-and-trade, batas emisi ditentukan oleh pemerintah atau Kementerian ESDM, lalu nanti perusahaan bisa jual,” ujar Wamen Diaz.
Untuk mendorong upaya dekarbonisasi, Wamen Diaz menyampaikan bahwa KLH/BPLH telah menyiapkan sistem registri dan berbagai kebijakan yang diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan perdagangan karbon agar dapat berjalan secara efektif.
“Dari sisi KLH, untuk perdagangan karbon ada sistem namanya SRUK (Sistem Registri Unit Karbon), itu sistem perdagangan karbon sudah kita launching, secara sistem kita sudah siap, secara peraturan, kita sudah siap,” tutur Wamen Diaz.
Wamen Diaz berharap penerapan sistem ini dapat mendorong upaya dekarbonisasi di industri nikel. Wamen Diaz juga menilai bahwa proses pengolahan nikel laterit menghasilkan emisi karbon dioksida yang tinggi. Oleh karena itu, langkah dekarbonisasi diharapkan dapat berkontribusi dalam menekan emisi gas rumah kaca (GRK) serta mengurangi dampak perubahan iklim akibat peningkatan konsentrasi GRK di atmosfer.
(Kontributor : Arif)








