BPPB Gelar Seminar Nasional Bahasa dan Sastra

Senin, 08/10/2018 - 13:55
Seminar Nasional Bahasa dan Sastra

Seminar Nasional Bahasa dan Sastra

Klikwarta.com - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) tengah mengadakan Seminar Nasional Bahasa dan Sastra, Senin pagi (08/10). Seminar dilaksanakan di Hotel Nala Sea Side, Pantai Panjang Bengkulu, selama dua hari ke depan. 

Acara dibuka langsung oleh Plt. Gubernur Rohidin Mersyah dengan didampingi Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Profesor Dadang Sunendar. Turut hadir Narasumber atau Pemakalah Utama Profesor Suminto A. Sayuti dari Universitas Negeri Yogyakarta dan Profesor Syafnil dari Universitas Bengkulu.

Adapun para pemakalah satu persatu memberikan materi kepada audiens dengan batasan masalah bertema “Tantangan Penelitian Bahasa dan Sastra Berbasis Kearifan Lokal Dengan Persepektif Global”. Ketiga pemakalah tersebut masing-masing mempresentasikan makalahnya dengan judul yakni “Kesulitan Penulis Indonesia dalam Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora untuk Menembus Jurnal Internasional Bereputasi Berbahasa Inggris”, “Pemertabatan Melalui Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia”, dan “Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran dan Peranannya dalam Pembangunan dan Penguatan Pendidikan Karakter Bangsa”.

Dalam seminar ,  BPPB mengajak tenaga pengajar dan para pemerhati Bahasa dan Sastra di Bengkulu, sama-sama mengkaji dan mengembangkan bahasa dalam kearifan lokal. Tersebut bertujuan untuk membangun generasi penerus yang berkebahasaan dan menjaga bahasa sebagai sistem komunikasi dan identitas sosial serta bersama-sama menjaga bahasa daerah sebagai warisan budaya.

Bagi para pemerhati Bahasa dan Sastra dituntut untuk lebih tajam dan berani berkolaborasi dalam memajukan aspek utama berkebangsaan, khususnya bagi para pemuda yang mana hal telah bersinggungan dengan Sumpah Pemuda pada bunyi ke-empat "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Wajar jika ini disebut menjadi salah satu latar belakang BPPB Sastra di Bengkulu dalam beberapa tahun belakangan memang lebih senyap dari tahun-tahun sebelumnya dan bila dibandingkan dengan daerah lain, Bengkulu tengah mengalami kemunduran dalam menyajikan Kesusastraan di kancah daerah. Hal ini berdasarkan kesadaran pemerhati Bahasa dan Sastra yang sedang vakum atau kurang tergerak dalam persaingan yang ada. 

Terlebih bagi para pelajar dan pembelajar yang masih begitu buta dalam mendelik kemajuan sastra. Padahal jika kita melihat, kemajuan sastra bisa menjadi salah satu tolak-ukur kemajuan budaya di daerah itu sendiri. 

Di lingkup bahasa sendiri, Bengkulu menjadi salah satu daerah yang memiliki kekayaan ragam budaya dan bahasa yang khas. Kita mengenal ada 4 bahasa daerah yang tersebar di pelosok bumi Rafflesia, yakni Bahasa Col, Bahasa Nasal, Bahasa Pekal, dan Bahasa Rejang.  Berikut sedikit gambaran dari ke-4 bahasa tersebut;

• Bahasa Col adalah bahasa yang digunakan suku Lembak, Lembak Delapan, dan Sindang Kelingi. Persebarannya meliputi bagian timur provinsi Bengkulu; kota Lubuk Linggau dan kecamatan Muara Kelingi, Musi Rawas di provinsi Sumatera Selatan. Bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini juga dikenal dengan nama bahasa Cul atau bahasa Sindang.

• Bahasa Nasal merupakan sebuah bahasa yang dituturkan oleh suku Nasal yang mendiami beberapa desa di kecamatan Maje dan Nasal di kabupaten Kaur, Bengkulu.

• Bahasa Pekal adalah bahasa daerah yang digunakan suku Pekal. Beberapa dialek dalam bahasa ini banyak dipengaruhi bahasa Minangkabau dan bahasa Rejang. Bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

• Bahasa Rejang adalah bahasa yang digunakan di Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Bengkulu Tengah. Bahasa Rejang pernah memiliki aksara tersendiri yang dikenal sebagai aksara Kaganga. Aksara Kaganga menyerupai aksara yang ada pada aksara Batak dan aksara Lampung.

Bahasa Rejang terbagi dari tiga kelompok dialek, yakni Rejang dialek Curup, Rejang dialek Kepahiang, dan Rejang dialek Lebong. Bahasa Rejang yang dituturkan di Kabupaten Bengkulu Utara termasuk Rejang dialek Lebong, dan di Kabupaten Bengkulu Tengah termasuk Rejang dialek Curup.

Kini bahasa Rejang dianggap satu bahasa yang membentuk kelompok tersendiri dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia.

Kepada para audiens yang didominasi oleh guru, Profesor Dadang meninggalkan pesan,” Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing,” seraya tersenyum disambut tepuk tangan seluruh peserta yang hadir.

Untuk itu, jika bukan kita, sebagai penerus bangsa yang berbudaya tinggi, siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan para leluhur. Tegakah jika kebahasaan asli Indonesia, khususnya Bengkulu, lambat laun mengalami pergeseran dan tidak menutup kemungkinan akan terpengaruh bahasa lain dari berbagai daerah maupun bahasa asing yang kemudian berpotensi malunya para pemuda-pemudi menggunakan bahasa asli daerahnya masing-masing. (Bisri) 

Berita Terkait