LDI 2026 Perluas Wawasan dan Peluang Talenta Muda
Klikwarta.com, Jakarta - Bagi para peserta Lomba Debat Indonesia (LDI) 2026, kompetisi bukan hanya tentang memenangkan pertandingan. Di balik panggung debat, mereka menemukan pengalaman baru, bertemu teman-teman dari berbagai daerah, memperluas wawasan, hingga melihat peluang pendidikan dan masa depan yang lebih luas.
Pengalaman tersebut dirasakan Allesia Keiran The dari Bina Bangsa School PIK, salah satu Ten Best Speaker LDI 2026. Menurutnya, LDI memberikan kesempatan untuk bertemu dengan peserta dari berbagai wilayah yang sebelumnya mungkin tidak akan ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.
“Menurut saya, LDI sangat membantu karena membuka kesempatan untuk bertemu dengan begitu banyak orang dari berbagai daerah, terutama karena ini merupakan kompetisi tingkat nasional. Kita bisa bertemu dengan debater dari Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, dan berbagai daerah lainnya yang mungkin tidak akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Allesia, pengalaman dan prestasi yang diperoleh dari LDI juga dapat menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan. Sertifikat nasional yang diterbitkan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kemendikdasmen, menjadi salah satu bentuk pengakuan atas capaian peserta.
“Selain hadiah yang didapatkan ketika memenangkan LDI, kita juga mendapatkan sertifikat nasional yang diterbitkan oleh Puspresnas, Kemendikdasmen. Menurut saya, bahkan dengan menjadi bagian dari kompetisi dan finalis LDI, hal itu dapat membantu meningkatkan peluang untuk mendapatkan beasiswa maupun bersaing mendapatkan tempat di universitas-universitas terbaik di dunia,” katanya.
“Saya sangat menghargai pengalaman ini karena kemungkinan dapat membantu saya masuk ke universitas-universitas pilihan saya, bahkan mendapatkan beasiswa,” lanjutnya saat ditemui dalam acara penandatanganan Naskah Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pusat Prestasi Nasional dan International Global Network, Jakarta (9/9).
Cerita serupa disampaikan Gabrielle Angeline Stephanson Li dari SMAK 1 Penabur Jakarta yang meraih predikat Third Best Speaker. Baginya, prestasi menjadi bentuk penghargaan terhadap proses dan kerja keras yang telah dilalui.
“Dari perspektif internal, penghargaan atau prestasi juga bisa memberikan kepuasan diri atau self-fulfillment atas semua pencapaian dan kerja keras yang telah kami lalui. Ini menjadi hal yang membanggakan bagi diri sendiri,” ujar Gabrielle.
Tidak hanya soal penghargaan, Gabrielle merasakan perubahan dalam dirinya setelah mengikuti LDI. Ia menjadi lebih percaya diri dalam berdebat, memperoleh wawasan yang lebih luas, sekaligus membangun jejaring dengan peserta lainnya.
“Pengalaman juga memberikan wawasan yang jauh lebih luas. Kami sekarang menjadi lebih percaya diri dalam berdebat, memiliki pengetahuan yang lebih luas, dan juga memiliki koneksi yang lebih luas melalui prestasi yang kami raih di LDI,” tuturnya.
Pengalaman tersebut juga mendapat apresiasi dari orang tua peserta. Anastasia, orang tua salah satu finalis LDI, Ava Mikayla Emmanoelle, menilai kesempatan mengikuti kompetisi nasional telah memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan sekaligus belajar dari lingkungan yang lebih luas.
“Kami mengapresiasi Puspresnas, Kemendikdasmen yang telah memberikan kesempatan kepada anak-anak melalui Lomba Debat Indonesia, khususnya English Debate. Mereka dapat menyalurkan talentanya sekaligus mendapatkan pengalaman berkompetisi di tingkat nasional dan bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Anastasia, dari pengalaman tersebut, anak-anak kini memiliki kesempatan untuk berlanjut ke tingkat internasional. Sebanyak 15 Best Speakers LDI cabang ajang Debat Bahasa Inggris 2026 akan mendapatkan pembinaan lanjutan melalui kolaborasi Puspresnas dan International Global Network (IGN). Selanjutnya, dari pembinaan tersebut, tiga peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Januari 2027.
“Kami sangat mengapresiasi bahwa setelah tingkat nasional, kesempatan itu masih dilanjutkan melalui AYIMUN di tingkat internasional. Ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar lebih jauh sekaligus menjalankan tanggung jawab ketika mewakili Indonesia di tingkat internasional,” ujar Anastasia.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan prestasi anak tidak hanya diukur dari hadiah atau piala yang diperoleh. Ada proses panjang yang perlu dijalani, termasuk menjaga keseimbangan antara prestasi dan pendidikan.
“Bagi anak, prestasi bukan hanya tentang hadiah atau piala. Ada proses, pengorbanan, dan komitmen yang harus dijalani. Yang paling penting adalah bagaimana mereka tetap menjaga prestasi di sekolah karena tujuan utama mereka tetap belajar,” ujarnya.
Bagi para talenta muda tersebut, LDI menjadi lebih dari kompetisi. Pertemuan dengan peserta dari berbagai daerah, pengalaman berdebat, bertambahnya wawasan dan kepercayaan diri, hingga kesempatan menuju forum internasional menjadi bagian dari perjalanan yang dapat membentuk mereka untuk terus berkembang.
Pembinaan lanjutan melalui AYIMUN menjadi kesempatan berikutnya bagi para peserta untuk membawa pengalaman tersebut ke ruang yang lebih luas sekaligus belajar mengambil peran di lingkungan internasional. (**)








