Cagar Budaya Koblen Tak Terurus, Cak Dedi: Nilai Budaya Harus Dibangkitkan 

Sabtu, 22/10/2022 - 21:00
Anggota DPRD Jatim, Hadi Dediyansah yang juga Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jatim di sela kegiatan napak tilas Partai Gerindra ke cagar budaya di eks Penjara Koblen, Sabtu (22/10/2022) siang.

Anggota DPRD Jatim, Hadi Dediyansah yang juga Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jatim di sela kegiatan napak tilas Partai Gerindra ke cagar budaya di eks Penjara Koblen, Sabtu (22/10/2022) siang.

Klikwarta.com, Jatim - Bangunan cagar budaya eks Penjara Koblen yang berdiri di Jl Koblen Kidul No 18, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut Kemerdekaan.

Penjara yang dibangun tahun 1930 oleh Pemerintah Kolonial Belanda tersebut, telah ditetapkan Pemkot Surabaya sebagai warisan cagar budaya. Penetapan itu tercantum dalam SK Wali Kota Surabaya nomor 188.45/ 251/ 402.1.04/1996. Meski telah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun kondisinya justru saat ini sangat memprihatinkan.

Hal itu ditegaskan Anggota DPRD Jatim, Hadi Dediyansah yang juga Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jatim di sela kegiatan napak tilas Partai Gerindra ke cagar budaya di eks Penjara Koblen, Sabtu (22/10/2022) siang.

Napak tilas jajaran pengurus Partai Gerindra yang dipimpin langsung Ketua DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad itu, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2022.

"Kami tentunya sangat prihatin sekali pada kondisi gedung-gedung atau tempat-tempat yang memiliki nilai-nilai sejarah. Sampai sekarang pemerintah kota maupun pemerintah provinsi tidak ada perhatian sama sekali," kata Hadi Dediyansah.

Kondisi tak terurusnya cagar budaya eks Penjara Koblen itu telah menjadi perhatian khusus Hadi Dediyansah sebagai anggota DPRD Jatim dari Daerah Pemilihan (Dapil) Surabaya. 

Menurut dia, dengan melihat kondisi penjara koblen sekarang, hal itu tak mencerminkan Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

"Ke depannya Surabaya jangan seperti ini, Kota Pahlawan. Tapi kota tidak ada artinya. Kota punya sejarah tapi terabaikan. Kota yang memiliki cagar budaya tapi tidak dilestarikan," tegas Cak Dedi sapaan lekat Hadi Dediyansah.

Kondisi ini menjadi kajian khusus bagi Cak Dedi untuk dapat mengembalikan kondisi semula cagar budaya tersebut. Mengingat Surabaya sebagai Kota Pahlawan tentunya menjadi motivator daerah-daerah atau provinsi lain.

"Artinya bahwa Surabaya adalah kota Pahlawan, kota yang berbudaya, kota yang memiliki nilai-nilai sejarah yang harus kita bangkitkan, yang harus kita kembalikan pada kondisi yang ada," jelas politisi Gerindra yang siap maju sebagai calon Walikota Surabaya di Pilkada Surabaya mendatang ini.

"Jadi jangan seperti ini. Ada cagar budaya sampai tak terurus sama sekali. Sampai hampir punah. Kemudian, yang menjaga, yang merawat, tidak ada perhatian. Yang memiliki nilai sejarah juga tidak ada perhatian," sambungnya.

Terlebih, kata Cak Dedi, tokoh pencetus Resolusi Jihad sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari pernah masuk ke dalam Penjara Koblen. Makanya, dalam moment Hari Santri ini, pihaknya ingin melihat langsung kondisi Penjara Koblen sekarang dengan masa lampau.

"Artinya, nilai sejarah apakah masih diperhatikan atau tidak. Nah, ini menjadi kajian kami agar ke depannya Surabaya bisa memperhatikan tempat-tempat yang memiliki nilai-nilai sejarah," tutupnya.

(Pewarta: Supra)

Berita Terkait