Etika Berkomentar di Media Sosial, Saat Jari Bisa Melukai Lebih Tajam dari Kata

Selasa, 20/05/2025 - 09:12
Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

Oleh: Defia Amalia Putri mahasiswa dari Politeknik Negeri Jakarta, program studi Jurnalistik.

Perkembangan teknologi saat ini tak bisa dipungkiri telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Kehadiran media sosial seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan YouTube memberikan ruang terbuka bagi siapa saja untuk berekspresi dan berinteraksi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, di balik kebebasan tersebut, ada tantangan besar yang kerap luput dari perhatian yaitu etika dalam berkomentar.

Dunia digital memang memberikan kebebasan berekspresi, tetapi kebebasan tersebut tidak selalu disertai dengan tanggung jawab. Banyak pengguna media sosial merasa bahwa ruang maya adalah tempat yang bebas dari norma dan sopan santun. Padahal, komentar yang dilontarkan di media sosial sama nyatanya dengan ucapan langsung di kehidupan sehari-hari. Efeknya pun bisa lebih dalam, karena komentar itu tertulis, bisa dibaca berkali-kali, dan tersebar luas dalam hitungan detik.

Kasus Kim Sae-ron: Cermin Buruknya Etika Berkomentar

Contoh yang mencolok dari buruknya etika berkomentar di media sosial dapat kita lihat dari kasus Kim Sae-ron, aktris asal Korea Selatan yang sempat menjadi buah bibir publik setelah terlibat insiden mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Tak sedikit yang mengkritiknya, bahkan menghujat habis-habisan. Alih-alih memberikan kritik membangun, banyak komentar yang mengarah pada penghinaan personal seperti, “sangat memalukan” atau “cari perhatian banget sih”.

Komentar seperti ini menunjukkan betapa mudahnya masyarakat dunia maya melupakan empati dan memilih untuk menghakimi.

Padahal, Kim Sae-ron sudah meminta maaf secara terbuka dan menunjukkan penyesalan atas tindakannya. Ia juga menghadapi proses hukum dan kehilangan banyak proyek kerjaan. Namun, media sosial tetap ramai oleh komentar negatif yang tak jarang menyudutkan dan menyakitkan. Di titik ini, kita perlu bertanya: apakah kita berkomentar untuk memberikan masukan, atau sekadar melampiaskan emosi?

Kenapa Etika Berkomentar Itu Penting?

Etika berkomentar seharusnya tidak berbeda antara dunia maya dan dunia nyata. Kita tidak mungkin berkata kasar secara langsung kepada seseorang yang sedang tertimpa musibah. Namun mengapa di media sosial, hal itu terasa mudah? Salah satu alasannya adalah karena minimnya kontrol dan identitas yang samar, sehingga orang merasa bebas tanpa beban.

Padahal, setiap orang di balik akun media sosial adalah manusia nyata. Mereka memliki perasaan, keluarga, dan kehidupan yang tidak kita ketahui sepenuhnya. Komentar yang dianggap “sekadar candaan” atau “cuma opini pribadi” bisa berdampak besar pada kondisi mental seseorang. Tidak sedikit figur publik yang mengalami tekanan mental, bahkan sampai menarik diri dari dunia hiburan, karena tidak kuat menahan derasnya hujatan netizen.

Kritik tentu dibutuhkan, terutama terhadap tokoh publik seperti Kim Sae-ron. Namun, ada perbedaan besar antara kritik dan cacian. Kritik membangun bisa menjadi pemicu perubahan, sedangkan cacian hanya memperburuk keadaan. Jika seseorang sudah mendapat konsekuensi atas perbuatannya, memberi kesempatan untuk memperbaiki diri jauh lebih bijak daripada terus menjatuhkannya dengan komentar negatif.

Sayangnya, budaya cancel culture juga ikut memperburuk keadaan. Sekali seseorang melakukan kesalahan, ia bisa langsung “dihapus” dari dunia maya. Tanpa diberi ruang untuk menjelaskan atau memperbaiki diri, seseorang bisa kehilangan segalanya hanya karena opini publik yang terbentuk begitu cepat dan keras. Di sinilah pentingnya literasi digital dan empati dalam menggunakan media sosial.

Mengubah Budaya Komentar di Dunia Maya

Sebelum mengetik komentar, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: “Apakah ini akan membantu atau menyakiti? Apakah ini sesuatu yang berani katakan jika bertemu orang itu?” Jika jawabannya tidak, mungkin lebih baik tidak menuliskannya sama sekali. Media sosial akan menjadi ruang yang lebih sehat jika setiap penggunanya memiliki kesadaran ini.

Menjaga etika dalam berkomentar bukan hanya bertanggung jawab selebritas atau tokoh publik, tapi juga kita sebagai pengguna biasa. Karena setiap komentar memiliki potensi untuk mengangkat atau menjatuhkan seseorang. Kita tidak pernah tahu seberapa kuat mental seseorang yang membaca komentar kita. Bagi kita mungkin hanya satu kalimat, tapi bagi mereka, itu bisa jadi luka yang lama sembuhnya.

Mari kita ubah kebiasaan buruk ini dengan mulai dari diri sendiri. Gunakan media sosial sebagai ruang untuk saling mendukung, menyemangati, dan membangun. Jika mengkritik, lakukan dengan cara yang sopan dan jelas. Hindari menyerang fisik, latar belakang, atau kehidupan pribadi seseorang. Fokuslah pada tindakan dan berikan solusi jika memungkinkan.

Akhirnya, media sosial adalah refleksi dari siapa kita. Jika ingin menciptakan lingkungan digital yang sehat dan saling menghormati, kita harus mulai dari komentar yang kita tulis. Etika bukanlah batasan, tetapi kompas yang membimbing kita untuk tetap menjadi manusia yang beradab di tengah derasnya arus informasi.

Dengan menghargai sesama, kita turut menciptakan ruang digital yang lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, jejak digital yang kita tinggalkan bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Tags

Berita Terkait