Sumber Foto : Buku Kejahatan dan Hukuman karya Fyodor Dostoevsky yang dibagi menjadi dua jilid
Penulis : Daffa Aulia Ahmad (Politeknik Negeri Jakarta)
Klikwarta.com - Aku harus membinasakan wanita lintah darat itu!” Mendengar kalimat tersebut, sontak para pembaca dapat lumut dalam ketakutan. Kita membuatnya semakin penasaran ketika membaca bait selanjutnya.
Di sudut kamar petak Saint Petersburg yang pengap, lengket oleh udara musim panas , Rodion Romanovich Raskolnikov menggigil. Kapak yang baru saja ia gunakan untuk membinasakan si rentenir tua Alyona Ivanovna dan saudara perempuannya yang polos, Lizaveta, teronggok bagai saksi bisu.
Kita bisa merasakan kejadian tersebut merupakan pergolakan moral Raskolnikov. Padahal, ia meyakini tindakannya tersebut sebagai sebuah pembuktian “manusia luar biasa”. Layaknya Napoleon, ia merasa berhak untuk melampaui moral manusia biasa. Namun, darah di tangannya tidak memberinya kebanggaan, melainkan kehancuran jiwa.
Ia hanya seorang pemuda miskin yang terperangkap dalam labirin teorinya sendiri. "Manusia Luar Biasa" yang mengizinkannya melampaui hukum moral demi tujuan yang ia anggap agung. Di sinilah, dalam ketakutan dan kesepian yang menyiksa, Fyodor Dostoevsky memahat salah satu eksplorasi paling dalam tentang ilusi kehendak bebas dan bahaya memisahkan diri dari ikatan kemanusiaan.
"Crime and Punishment" bukan sekadar kisah pembinasaan. Kita percaya bahwa itu merupakan kiasan. Kiasan terhadap bahaya dari keyakinan menaruh kebebasan mutlak dan penilaian diri yang tinggi adalah hal yang tidak benar. Terkadang, kehendak bebas bisa menjadi jerat.
Berkaca pada Sikap Narsistik Raskolnikov
Raskolnikov memahat idenya seperti sebuah dogma. Menurutnya, ada manusia biasa yang terikat moral, dan ada "Manusia Luar Biasa" seperti Napoleon.
Menurutnya, Napoleon bukan hanya berhak, tetapi diharuskan untuk "melangkahi darah" jika perlu demi ide besar mereka yang akan "menyelamatkan" atau "menggerakkan" umat manusia. Mereka berada di luar kebaikan dan kejahatan konvensional; kehendak bebas mereka adalah hukum tertinggi.
Konsep ini serasi dalam fenomena psikologis modern seperti "Narcissistic Grandiosity" (Kernberg). Individu dengan sifat ini memiliki rasa diri yang berlebihan, kebutuhan mendalam akan kekaguman, dan keyakinan akan keunikan serta hak istimewa mereka, termasuk hak untuk melanggar norma sosial.
Studi oleh Campbell, Foster, & Finkel dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan hubungan kuat antara narsisisme dan kecenderungan eksploitatif serta kurangnya empati. Hal tersebut sejalan dengan cara Raskolnikov memandang orang lain hanya sebagai alat atau penghalang bagi "kebesarannya".
Namun, Doestoevsky menampar tokoh fiksi ciptaannya. Raskolnikov dituntun untuk sadar sepanjang 800 halaman buku yang disadur oleh Penerbit Kakatua ke dalam bahasa Indonesia tersebut. Ia hanya membawa kematian sia-sia dan rasa bersalah yang menghancurkan. Teori kehendak bebasnya yang absolut justru menjadi sangkar yang paling sempit.
Kita merasa jalan penebusan yang ditempuh Raskolnikov sangatlah rumit. Ia tidak memulainya dengan pembenaran diri atau pelarian, tetapi dengan kehancuran ilusi kehendak bebasnya. Penyakit, halusinasi, dan rasa takut yang melumpuhkan adalah tubuh dan jiwanya yang memberontak terhadap teorinya sendiri.
Klimaknya bukanlah kemenangan, melainkan pengakuan. Pengakuan di hadapan Sonya, sosok karakter yang seakan diciptakan Doestoevsky untuk dapat mencintainya Raskolnikov. Setelah itu, di kantor polisi, Raskolnikov melepas klaim sebagai "Manusia Luar Biasa" dan kembali menjadi manusia biasa yang bersalah.
Selalu Ada Waktu untuk Menerima Diri
Pengakuan ini adalah pintu gerbang. Penebusan sejati datang bukan melalui kekuasaan atau kehendak bebas absolut. Namun, melalui penderitaan yang diterima dan kasih yang diberikan.
Melalui kerendahan diri, seseorang mampu merefleksikan diri. Serupa dengan Raskolnikov, ternyata sellau ada waktu untuk menerima dan memaafkan diri senditri.
Satu di antaranya adalah psikologi positif tentang "Humility" sebagai kekuatan karakter. Tangney mendefinisikan kepada kita bahwa kerendahan hati bukan sebagai rendah diri, tetapi sebagai kesadaran akurat tentang kemampuan dan keterbatasan diri, keterbukaan terhadap perspektif baru, dan apresiasi terhadap nilai orang lain.
Pengalaman Raskolnikov mencerminkan perjalanan menuju kerendahan hati yang menyakitkan namun membebaskan diri.
Kehidupan baru menanti Raskolnikov di penjara Siberia. Hidup di sana memanglah keras sebagai narapidana. Namun, sentuhan Sonya mengisyaratkan simbol kasih tanpa syarat dan pengorbanan, menjadi jembatan yang menghubungkannya kembali dengan kemanusiaan yang sempat Raskolnikov ingkari.
Pesan akhir Dostoevsky dalam "Crime and Punishment" adalah teguran halus. Namun, dahsyat bagi setiap zaman. Zaman ketika seseorang sering mengagungkan individualisme ekstrem untuk mendapatkan penilaian diri yang tinggi. Itu bukan jalan menuju kebesaran, melainkan jalan menuju kehancuran jiwa dan keterasingan.
Raskolnikov adalah gambaran diri kita. Ketika kita terlalu menilai diri dengan tinggi, kita jatuh dan berusaha memperbaiki diri. Kita berlutut di tengah lapangan, mencium bumi, dan menangis. Kita akhirnya bebas bukan karena berhenti merasa bersalah, tetapi karena berani mengakui bahwa kita hanyalah manusia.








