(Ilustrasi dua orang anak laki-laki yang saling merangkul dan mengangkat tangan yang melambangkan kesenangan, sumber: freepik.com)
Oleh: Muhammad Briyan Prama Irwansyah, mahasiswa aktif Politeknik Negeri Jakarta
Aku punya teman yang baik, bisa dibilang terlalu baik. Tipe orang yang selalu bilang “iya” untuk hampir semua permintaan, meski dirinya sedang lelah, punya banyak urusan yang lain, bahkan kayaknya dia nggak sanggup buat ngelakuinnya. Aku pernah bertanya, “kenapa lu ngga tolak aja kalo keberatan?” Jawabannya selalu sama “ngga enak, nanti gua dibilang egois lagi.”
Awalnya aku berpikir ini cuma soal sopan santun biasa, tapi makin lama, aku melihat bahwa ada hal yang lebih dalam dari sekadar “bersikap baik”. Hal itu mengenai kecerdasan emosional yang belum ia miliki sepenuhnya. Dari situ aku belajar, kalau sebenarnya nggak enakan juga bisa jadi bentuk ketidakadilan pada diri sendiri.
Pernah suatu waktu, ketika aku sedang berbelanja bersama temanku. Ia terlihat sedang menanyakan sebuah kemeja kepada pedagang, namun pedagang itu kesulitan mencari ukuran yang sesuai dengan temanku. Ketika berhasil mencari dengan susah payah, ternyata harga yang ditawarkan terbilang mahal.
Dengan berat hati temanku tetap membelinya, bukan karena suka melainkan karena tak enak hati sudah dicarikan dengan susah payah. Ini memang bukan sebuah permintaan, namun tetap saja memberatkan hati dia dengan tidak mau menolak harga yang sudah diberikan.
Aku jadi sadar bahwa rasa “nggak enakan” itu kalau nggak dikelola bisa menjadi racun yang perlahan menggerogoti mental. Di situlah peran pentingnya kecerdasan emosional, bukan cuma mengatur emosi, tapi juga menjaga batasan diri sendiri.
Bukan Egois, tapi Bertanggung Jawab
Selama ini kita sering diajarkan untuk saling membantu dan menjadi orang baik. Tapi, jarang diajarkan untuk kapan harus berhenti dan kapan harus jujur pada diri sendiri. Padahal, menolak bukan berarti berhenti jadi baik. Dengan tahu batas kemampuan dan keberatan kita, kita jadi lebih bisa memberikan bantuan yang tulus dan berkualitas, bukan karena keterpaksaan.
Aku sering mengatakan kepadanya “kalo lu selalu bilang ‘iya’ demi orang lain, lama-lama lu ngga bakal punya kendali atas diri lu sendiri.” Tapi respon dia cuma senyum-senyum tipis, padahal aku tahu dia sedang memikirkannya dengan serius.
Dalam kecerdasan emosional, ada satu aspek yang penting yaitu assertiveness atau kemampuan untuk menyatakan apa yang kita mau, pikirkan, atau rasakan dengan cara yang tepat.
Lucunya, dari kasus dia, aku juga jadi sadar bahwa aku juga kadang suka “nggak enakan” walaupun dalam konteks yang berbeda. Kadang aku suka menunda bilang sesuatu karena takut bikin orang itu nggak nyaman. Ternyata, rasa “nggak enakan” itu bisa menjangkiti siapa saja.
Sebagai temannya, aku juga dapat pembelajaran bahwa bukan tugas kita untuk mengubah seseorang, tapi menemani mereka dalam prosesnya. Aku tidak pernah memaksa dia lagi untuk bilang “nggak”. Yang ku lakukan adalah selalu mengingatkan untuk menjaga dirinya sendiri, kalau capek istirahat, kalo keberatan harus bisa nolak.
Kita tumbuh di budaya yang menjunjung rasa sungkan, tapi lupa bahwa menghargai diri sendiri juga bagian dari empati. (*)








