Potret Peyandang Disabilitas tersenyum
Oleh : Marlia Ayu Riyanti
Klikwarta.com - Setiap pagi, seorang gadis remaja dengan alat bantu yang di dengar terselip ditelinga dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju gedung sekolah. Dibalik langkah kecilnya, tersimpan tekad besar untuk membuktikan keterbatasan bukan menjadi alasan dalam berhenti berjuang menempuh pendidikan.
Lahir dengan gangguan pendengaran membuatnya hampir tidak diterima disekolah umum. Penolakan demi penolakan menghantam keluarganya, orang tuanya sempat pasrah dan akhirnya menemukan sebuah sekolah yang mengaku membuka ruang bagi siswa berkebutuhan khusus.
Namun perjuangan tidak berhenti disitu saja. Materi pelajaran yang disampaikan guru secara verbal menjadi tantang terbesar, mengharuskan belajar dengan menggunakan gerak bibir dan mengandalkan catatan serta gambar untuk memahami pelajaran. Duduk dibangku paling depan menjadi pilihan utama dengan setiap menggerakan mulut, guru bisa ia tangkap meski tak sepenuhnya jelas.
Sayangnya, fasilitas yang dimiliki sekolah jauh dari kata "ideal". Tidak ada guru pendamping, belum tersedia alat bantu visual yang memadai dan lingkungan sosial yang belum memahami cara berinteraksi dengan teman penyandang disabilitas. Namun semangatnya tak membuatnya padam. Setiap hari datang ke sekolah dengan penuh semangat dengan belajar yang lebih giat dari teman-temannya dan terus bersemangat dalam mencoba membuktikan kemampuannya.
Dukungan terbesar datang dari keluarganya. Meski kehidupannya dalam keterbatasan ekonomi, orang tuanya rela menyisihkan uang untuk membeli alat bantu dengar bekas dan membayar kursus bahasa isyarat. Mereka percaya pendidikan adalah satu-satunya jalan dalam membuka masa depan yang lebih baik bagi anak mereka. Perlahan guru-guru disekolah mulai belajar dan beradaptasi dari penggunaan papan tulis secara maksimal meskipun menyederhanakan penjelasan dari materi.
"Saya tidak ingin dikasihani. Saya hanya ingin diberi kesempatan yang sama" ucapnya dalam bahasq isyarat yang diterjemahkan dari ibunya. Baginya bisa membaca dan menulis dalam bentuk kemerdekaan. ia bermimpi ingin menjadi seorang guru dengan membantu anak-anak disabilitas lainnya agar mereka tak sendirian seperti yang ia rasakan dulu.
Di tengah sistem pendidikan yang belum sepenuhnya memadai bagi penyadang disabilitas, masih ada dari mereka yang tidak menyerah dalam mengejar pendidikan. Dalam sunyi, dalam diam mereka terus melangkah. Bukan sekadar hanya duduk dibangku sekolah tetapi untuk berdiri dengan tegak dalam mewujudukan masa depan anak bangsa.








