(Foto Ilustrasi)
Oleh : Bintang Bagaskara Gunawan Putra (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
Pernahkah anda merasa terkalahkan oleh rasa malas akibat menggunakan media sosial terlalu lama? Mungkin sedikit cerita saya dapat menjadi inspirasi menaklukan rasa malas tersebut.
Bangun di suatu pagi saya berekspektasi untuk melakukan kegiatan yang dapat membantu saya untuk produktif, namun notifikasi dari handphone saya berkata lain. Saya membuka social media, menampilkan hiburan yang tidak bisa dilewatkan oleh mata. Menampilkan 30 detik video mengenai kelakuan konyol kucing, pada akhirnya pagi itu saya malas untuk produktif di pagi itu.Tak terasa 30 menit terlewatkan begitu saja, yang saya rasa baru 2 menit saya menonton video di ponsel saya.
Saya tidak menyangka hal kecil tersebut mempengaruhi hidup saya.
Kebiasaan berolahraga yang harusnya dapat memotivasi saya di pagi itu, kandas ketika saya membuka handphone untuk melihat hiburan yang berdurasi singkat. Mencoba hal baru singkat seperti membaca buku, hanya tersisa niat saja ketika melihat video motivasi dari akun media sosial yang bersebaran di internet. Tak disadari saya seketika menyerah ketika sudah nyaman saat melihat video-video itu.
Beberapa kali saya mencoba menahan kebiasan ini dengan memberikan pengalihan berupa membaca buku, namun cara itu tidak efektif karena saat membacu buku saya hanya bisa bertahan sekitar 5-10 menit selebihnya saya kembali lagi untuk melihat media sosial. Media sosial mempengaruhi pandangan saya dalam mencari informasi, terbiasa untuk mencari informasi yang singkat tanpa menggali lebih dalam tentang informasi yang saya cari tahu itu.
Mencari solusi lain saya mencoba untuk mematikan notifikasi pada ponsel saya, namun hal tersebut membuat saya tertinggal beberapa informasi penting yang harus saya baca dan tanggapi, mengakibatkan lambatnya interaksi antara saya dengan orang, organisasi, dan pekerjaan. Meskipun interaksi terhambat, saya merasa lebih nyaman karena tidak adanya distraksi dari media sosial yang membuat hari lebih senang dijalani.
Ketika mencari tahu berapa lamamembuka media sosial dalam sehari, saya terkejut melihat waktu penggunan saya dalam mengakses media sosial sekitar 6-7 jam sehari, berarti dalam saya menghabiskan ¼ waktu saya dalam sehari untuk melihat video-video singkat di media sosial saya. Padahal ¼ waktu dalam sehari bisa dimanfaatkan untuk belajar hal baru, memperaktikan ilmu yang saya pelajari, dan bertemu dengan orang baru.
Kebiasaan untuk melihat media sosial saat tidak tahu harus melakukan apa-apa menjadi permasalahan besar yang masih saya berusaha hindari. Saya takut bila hal ini tidak diubah akan mengganggu produktifitas saya dalam menciptakan sesuatu, sehingga mengganggu efektifitas waktu yang dapat saya manfaatkan dalam sehari-hari. Jika saya terus menjaga kebiasaan saya dalam menatap layar ponsel untuk melihat video-video yang tidak ada pembelajaran di dalamnya, maka saya telah membuang potensi saya untuk berkembang.
Melihat kebiasaan untuk menonton video pendek, saya memutuskan untuk memaksa algoritma dalam media sosial saya untuk menampilkan video edukasi mengenai pengetahuan umum dan fotografi, dengan begitu ketika saya sedang tidak melakukan apa apa dan memutuskan untuk membuka sosmed, video yang akan muncul adalah video pembelajaran yang tanpa saya sadari akan menambah pengetahuan pada diri saya sendiri.
Kebiasaan menonton video edukasi cukup menahan saya untuk tidak tertarik pada beberapa video tertentu, namun masih memunculkan keinginan untuk melihat konten video yang berbeda. Beberapa kali saya merasa bosan dengan konten edukasi, pada akhirnya saya mencari beberapa video informasi dan edukasi yang menggunakan format meme sebagai pendekatannya. Cara tersebut cukup membuat saya terhibur namun menciptakan keinginan untuk melihat meme tanpa unsur edukasi.
Saya mencari tahu mengenai fitur di ponsel saya yang dapat membantu saya tetap fokus tanpa terganggu dengan notifikasi, lalu saya menyetel penggunaan fitur diterapkan pada jam 6 pagi hingga jam 5 sore, fitur tersebut mempermudah saya dalam fokus menyelesaikan permasalahan, karena hanya beberapa aplikasi yang saya izinkan untuk mengirimkan informasi saat fitur tersebut dinyalakan.
Hasil yang diinginkan tidak terlepas dari niat dan keinginannya. Keinginan untuk mau mengendalikan kebiasaan bermedia sosial cukup kuat sehingga membuat saya bersemangat dalam memaksakan diri untuk mengatur penggunaan media sosial secara mandiri. Memanfaatkan fitur dari handphone, saya mampu mengurangi waktu penggunaan media sosial dalam sehari yang awalnya sekitar 6-7 jam dalam sehari berkurang menjadi 3-4 jam dalam sehari.
Aktivitas saya dipagi hari sudah mulai lebih produktif setelah menggunakan cara tersebut. Agar kebiasaan buruk tersebut terus mengurang, saya memutuskan untuk melakukan distraksi dengan berolahraga dan membaca sejumlah berita di pagi hari. Ketika di kampus pun saya berusaha untuk menghindari membuka ponsel saat pembelajran berlangsung, sehingga saya dapat lebih fokus dalam pembelajaran di kampus.
Di kampus saya mengurangi untuk mengcek segala macam informasi dari media sosial, kecuali informasi tersebut berasal dari beberapa grup dan beberapa orang yang memiliki kepentingan dengan saya di hari itu, sisanya akan saya abaikan dan saya buka ketika waktu senggang saja. Meskipun saya terkadang tertinggal beberapa informasi, setidakya pembelajaran dan pengembangan diri saya dapat lebih effisien.
Meskipun mengurangi penggunaan media sosial tidak memberikan dampak besar pada perkembangan saya dalam belajar, namun cara tersebut membuat saya bisa lebih fokus dalam mempelajari materi yang saya minati, sehingga efektifitas saya dalam belajar baik di kampus atau di rumah jauh lebih meningkat ketimbang sebelumnya.
Apabila Anda belum mengurangi waktu bermedia sosial, ada baiknya anda mulai lakukan. Manfaat mengurangi bermain media sosial tidak hanya pada keefektifan dalam belajar, namun juga berpengaruh besar untuk menunjang kesehatan terutama mata dan anggota tubuh. Tubuh butuh bergerak dan mata perlu istirahat, sehingga pengurangan media sosial dapat mempengaruhi perubahan pada kesehatan diri manusia.
Saya merasa media sosial adalah tempat terbaik untuk menumakan ide, pengetahuan, dan hiburan, namun dapat juga menjadi tempat terburuk untuk menghabiskan waktu dalam sehari-hari. Distraksi yang diberikan mampu membuat lupa waktu dan hilang fokus, sehingga menganggu proses pembelajaran yang masuk kedalam diri. Bijaklah dalam bermedia sosial sebelum Anda tenggelam dan terpengaruh oleh dopamine yang diberikan oleh media sosial.








