Foto istimewa
Klikwarta.com, Berlin 25 April 2025 – Satuan Kerja (Satker) Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Berlin sukses menyelenggarakan kegiatan "Sosialisasi Lanjut Studi di Jerman" pada 25 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Webinar Series Atdikbud di seluruh dunia serta Wakil Delegasi Tetap (Wadetap) RI untuk UNESCO, yang bertujuan memberikan informasi komprehensif mengenai sistem pendidikan di berbagai negara akreditasi Atdikbud dan program Wadetap RI di UNESCO.
Antusiasme masyarakat Indonesia terhadap pendidikan di Jerman terus meningkat signifikan. Data terbaru dari Bundesministerium für Forschung, Technologie und Raumfahrt (BMFTR)/Kementerian Penelitian, Teknologi dan Ruang Angkasa Jerman mencatat sebanyak 5.591 mahasiswa Indonesia terdaftar di institusi pendidikan tinggi Jerman hingga tahun 2024/2025. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah mahasiswa terbanyak dari kawasan Asia Tenggara di Jerman. Sedangkan jumlah azubi (peserta Ausbildung) hingga akhir Tahun 2023 adalah sebanyak 2.139 orang.
"Jerman menawarkan berbagai jalur dan fleksibilitas bagi lulusan SMA/SMK dari Indonesia untuk melanjutkan studi, mulai dari Ausbildung, Duales Studium, hingga pendidikan tinggi pada jenjang sarjana, magister, dan doktor," ungkap Dr. rer. nat. Roniyus Marjunus, Atdikbud KBRI Berlin, dalam paparannya di hadapan sekitar 260 peserta webinar. Roniyus menekankan keunggulan kompetitif sistem pendidikan Jerman yang menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa Indonesia.

"Sebagian besar perguruan tinggi di Jerman tidak mengenakan biaya kuliah (tuition fee), melainkan hanya biaya semester (semester fee) yang akhirnya juga akan kembali ke mahasiswa dalam bentuk tiket transportasi umum," jelasnya.
Keunggulan ini menjadikan Jerman sebagai destinasi studi yang sangat menarik, terutama bagi mahasiswa yang ingin mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi dengan biaya terjangkau.
Dalam webinar yang diikuti sekitar 260 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, Satker Atdikbud KBRI Berlin menghadirkan enam narasumber dengan latar belakang yang beragam. Mereka adalah Gerald Murib (azubi di Flugwert Biberach GmbH), Eunice Stacy Tiolamon (alumni Duales Studium DHBW Lörrach), Fictor Marcelbrian (mahasiswa sarjana di FH Aachen), Megan Fiona (mahasiswi magister di TU Darmstadt), dan Betari Qalhata Ratrianto (kandidat doktor di Universität Bonn). Diskusi dipandu oleh Gennesaret Tjusila, kandidat doktor di TU Berlin sekaligus Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman.
Keberagaman jenjang pendidikan dan jalur studi para narasumber memberikan gambaran komprehensif tentang berbagai peluang yang tersedia di Jerman, mulai dari pelatihan vokasional hingga riset tingkat doktoral. Para narasumber berbagi pengalaman pribadi mereka selama menempuh pendidikan di Jerman, termasuk tantangan adaptasi budaya, peluang pengembangan karir, serta manfaat akademik dan profesional yang diperoleh. Pengalaman nyata mereka memberikan inspirasi sekaligus panduan praktis bagi calon mahasiswa Indonesia.

"Penting bagi calon azubi maupun mahasiswa untuk memahami secara menyeluruh persyaratan serta prosedur pendaftaran, dan menjalani proses tersebut secara mandiri guna menghindari kesalahan atau miskomunikasi," tegas Roniyus dalam paparannya.
Ia menambahkan, "Satker Atdikbud KBRI Berlin bersama organisasi mahasiswa Indonesia di Jerman senantiasa siap memberikan informasi dan pendampingan bagi generasi muda Indonesia yang berminat melanjutkan studi di Jerman." Pesan ini penting mengingat semakin banyaknya kasus penipuan atau miskomunikasi dalam proses pendaftaran studi ke luar negeri.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif dan antusias, di mana peserta mengajukan berbagai pertanyaan seputar biaya hidup di Jerman, proses pengajuan visa pelajar, peluang bekerja paruh waktu sambil kuliah (hingga 20 jam per minggu), sistem kesehatan mahasiswa, akomodasi, serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari mahasiswa Indonesia di Jerman.
(Narahubung: Roniyus Marjunus – Atdikbud KBRI Berlin: education@indonesian-embassy.de)








