Mencari Arah di Tengah Kesepian

Sabtu, 08/06/2024 - 17:51
Ilustrasi anak bungsu mencari arah_pinterest

Ilustrasi anak bungsu mencari arah_pinterest

Oleh: Febriansah (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Di tengah kelamnya kehidupan, ada kalimat yang sering terbesit dalam pikiran manusia.”Apakah aku terlalu jauh mengejar semua ini?”

Lahir seorang putra kecil dari keluarga sederhana. Aku adalah anak itu. Saat kedua orang tua menunggu kehadiran ku, ada harapan-harapan untuk mereka tetap menghidupkan ku.

Meski pada awalnya aku tidak mengerti banyak hal, mereka mengajari aku arti hidup mandiri. Ketika teman-temanku diantar oleh orangtuanya ke sekolah, aku belajar harus melakukannya sendiri. Orangtuaku bekerja keras untuk memastikan aku mendapat pendidikan yang layak.

Saat aku tumbuh remaja, aku mulai menyadari betapa beratnya beban yang mereka tanggung. Aku harus bisa melakukan semuanya sendiri. Aku harus bisa menjaga diriku sendiri, belajar, dan menyelesaikan masalah-masalahku tanpa banyak bantuan dari mereka. Meskipun aku tahu mereka melakukannya demi aku.

Kata orang anak bungsu itu anak yang dimanja. Ada saat-saat di mana aku merasa kesepian. Aku menutup diri dan tidak membagikan masalahku kepada orangtuaku. Tidak banyak berbicara dengan mereka membuatku merasa terluka, tetapi aku harus kuat demi melihat perjuangan mereka. Meskipun terus mengejar mimpi-mimpiku, aku seringkali acuh dengan perasaan orangtuaku. Aku selalu diam atau marah ketika mereka bertanya, tak pernah benar-benar menyadari apa yang sebenarnya aku inginkan.

Meskipun mereka selalu memberikan nasihat, bagiku itu kurang. Aku merasa butuh perhatian lebih dari mereka. Aku ingin mereka mendengarkan dan memahami perasaanku, bukan hanya memberikan nasihat. Tapi mereka seringkali menganggap remeh perasaanku, berpikir bahwa selama aku mendapatkan nilai yang baik dan tidak membuat masalah, semuanya baik-baik saja. Namun, di dalam hatiku, ada kekosongan yang sulit diisi.

Sejauh ini, aku berada di titik terendah dalam hidupku. Aku merasa diriku hilang arah, terus berjalan tanpa tujuan seiring bertambahnya usia orang tuaku. Sebagai anak bungsu, aku merasa harus bisa bertahan demi mengejar mimpi-mimpiku, meskipun semakin hari mimpi itu terasa semakin jauh.

Di sisi lain, aku merasa jauh dari Tuhan. Aku merindukan kedekatan spiritual yang pernah aku rasakan, tetapi kini aku merasa terputus. Dalam keheningan malam, aku sering bertanya pada diriku sendiri, "Lantas apa yang harus aku lakukan?" Setiap kali berdoa, aku merasa kata-kataku hanya melayang di udara, tanpa ada jawaban.

 Aku merindukan saat-saat di mana aku bisa merasa tenang dan yakin bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang mendukungku.

Aku tahu aku harus bangkit. Aku harus menemukan cara untuk mendekatkan diri kembali kepada Tuhan dan kedua orang tuaku. Mungkin dengan cara itulah, aku bisa menemukan arah dan kekuatan untuk terus berjalan. Aku ingin bisa berbicara dengan mereka, membuka diri, dan merasakan kehangatan keluarga yang selama ini terasa hilang.

Suatu hari, ketika aku tertidur. Aku mendengar suara ucapan doa dari orang tua ku. “Permudahkan lah jalan untuk anak ku yaallah, sehatkan selalu dan lancarkan rezekinya.”  “Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzabannar.”

Air mata mulai mengalir di wajahku. Selama ini aku merasa sendiri, tidak menyadari bahwa mereka pun merasakan beban yang sama. "Aku juga minta maaf," kataku, suaraku bergetar. "Aku sering merasa marah dan kesal, tapi sebenarnya aku hanya ingin perhatian lebih dari kalian."

Malam itu menjadi titik balik bagi aku dan kedua orang tua ku. Kami mulai berbicara lebih terbuka, saling mendengarkan dengan hati yang tulus. Aku mulai memahami bahwa mereka melakukan itu yang terbaik , dan mereka pun mulai memahami perasaanku yang sebenarnya.

Perlahan, aku mulai menemukan kedamaian dalam diriku. Aku kembali mendekatkan diri kepada Tuhan, menemukan ketenangan dalam doa. Aku menyadari bahwa meskipun hidup penuh dengan tantangan dan kesulitan, dengan cinta dan pengertian, kita bisa menemukan jalan keluar. Dan di tengah perjalanan ini, aku menemukan jawabannya. Aku tidak pernah terlalu jauh mengejar mimpiku, selama aku selalu ingat untuk kembali kepada mereka yang mencintaiku dan Tuhan yang selalu ada untukku.

Kini, aku tidak hanya mengejar mimpi-mimpiku dengan semangat yang baru, tetapi juga berusaha untuk menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi orang lain. Aku belajar bahwa kadang-kadang, yang kita butuhkan hanyalah kehadiran orang-orang yang mencintai kita dan keyakinan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Saat aku melihat kembali perjalanan hidupku, aku merasa bangga akan diriku sendiri. Setiap tantangan dan rintangan telah membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat . Aku tahu masih banyak hal yang harus aku capai, tetapi dengan dukungan keluargaku dan Tuhan, aku yakin bahwa aku bisa meraih apapun yang aku impikan. Perjalanan ini masih panjang, tetapi kini aku lebih siap untuk menghadapinya dengan hati yang penuh cinta dan keyakinan.

Tags

Berita Terkait