Foto Ilustrasi Sahabat (Sumber: Grid.ID)
Oleh : Abril Geralin
Klikwarta.com - Ketika malam datang, aku berharap itu akan mengusir sepi. Saat angin membelai, aku seakan terperangkap pada pekatnya rindu. Tak jarang, memang bayangmu selalu hadir disela-sela waktu, entah karena ceritaku atau memang aku selalu memikirkanmu. Ketika bayangmu hadir, terkadang hatikupun merasa senang karena melihatmu.
Dalam kejauhan aku melihatmu dalam bayang. Langkah demi langkah yang tak berhenti mencari cerita. Ketika raga yang tak lagi bersautan pada rembulan, hati kita saling berlomba memberikan doa untuk hal terindah. Sempat terfikir, hati ini sudah tak tertahan untuk melanjutkan. Lihainya bayangmu membuat fikiranku menjadi riuh.
Setiap harinya saat masuk sekolah, diriku selalu merasa senang. Dari mulai bernyanyi bersama saat tidak ada pelajaran, sampai pergi ke kantin saat guru tidak masuk. Dimana mustahil untuk terulang kembali. Sebuah perasaan serta angan tercampur dalam bangku sekolah. Hal-hal yang akan selalu jadi cerita di masa tua.
Rasa bahagia yang selalu membuncah, ketika sedang bersamanya. Bahkan sang waktu selalu terasa lebih cepat berjalan, membuat kami tak punya banyak kesempatan melakukan hal bahagia lainnya.
Sungguh, kasih dan rasa yang tak bisa tergambarkan. Apakah itu rindu dan kasih sayang, tak bisa dihilangkan ataupun diperjual-belikan. Beruntungnya aku sempat memilikimu, yang mampu mengiringi setiap pijak untuk diinjak, serta menjadi sosok pendamping ketika aku mulai menyerah. Dengan bayangmu berdendang bahagia pada malam dengan nyaman.
Sejatinya, hanya bayangamu yang bermuara dengan segala doa-doa, tempat merapal semua harapan, meski pada kenyataannya hanya ingatan yang meraja. Serupa malam yang kelabu, kerinduanku belum menemukan titik terang, seperti sebuah frasa yang membentuk menjadi satu kesatuan.
Bersamamu, melewati hari yang penuh liku. Layaknya lilin di tengah gulita, mampu menyinari cahaya dalam kegelapan. Seperti mentari pagi yang menghantarkan sinar kehangatan, lalu mengusir kebekuan. Saling mengenggam erat untuk menepis gundah dan nestapa. Bagiku engkau adalah jiwaku, serta senyummu bagaikan semangatku.
Sempat ku terfikir, bagaimana jika aku tanpamu, mungkin saja aku takkan sanggup menghadapinya. Aku percaya, bahwa kehadirannya menjadi sosok seseorang yang membantuku dalam meringankan setiap masalahku yang ada. Sebagai sosok yang lihai dalam penghibur laraku, serta menjadi rumah keduaku.
Berbagi kisah, tentang cita-cita namun bukanlah angan belaka. Cinta yang terguncang namun tertahan dalam jiwa. Harapan yang hendak digapai pada masa datang. Meski jarak dan waktu telah menjadi penghalang diantara kita, tak akan kubiarkan meluluhkan benang kasih yang sudah kita rajut bersama.
Wahai sahabat, meski bunga mulai berguguran, kasihku tetap untukmu. Walau terkadang dunia menjauh darimu, kudoakan kasih bagimu. Dalam relung hati ini terukir kenangan, sungguh indah berdandan menghiasi hati, mengenang seseorang yang tulus dalam mencintai. Karenamu, bersama merangkul satu sama lain, tak pernah sekalipun menyerah, untuk sampai menggapai tujuan.
Kasih sayang lembut yang diberikan, tak pernah lekang oleh waktu. Selalu membekas di ruang kalbu. Doa merupakan bentuk kasih sayangku membalas segala usaha yang telah ia berikan. Sejenak kuangkat kedua tanganku di setiap waktu shalat, memohon kepada sang pencipta atas segala tantangan serta impian yang ingin digapai. Simpan rapat rahasia yang pernah kubisikkan di malam itu. Malam indah yang sinarmu begitu sempurna. Cerita kita tidak akan pernah berakhir. Seperti purnama, karena purnama akan selalu ada pada setiap malam.








