Ilustrasi
Oleh: Mila Rismaya Sriyatni (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
Berawal pada tahun 2021 silam, tepat pada tanggal 29 Juni, ketika bayang-bayang malam mulai menyelimuti, keheningan di rumah sakit pecah dengan suara napas terakhir ibu. Dalam dekapan saya, ia pergi dengan damai, meninggalkan sepotong hati yang patah. Saya merasakan berat tubuhnya yang kian ringan, seakan-akan jiwanya telah terangkat ke surga. Wajahnya yang dulu penuh kasih dan senyum kini membeku dalam kedamaian abadi.
Saat itu, waktu berhenti sejenak. Hanya ada suara isakan pelan dari kakak saya di pojok ruangan, menyaksikan perpisahan yang tak terelakkan. Kami tahu bahwa tugas berat menanti di depan. Tubuh ibu harus dibawa pulang ke tanah kelahirannya di Lombok, tempat di mana ia ingin beristirahat untuk selamanya.
Proses itu tidak mudah. Kami harus berhadapan dengan birokrasi yang rumit dan dingin. Setiap lembar dokumen terasa seperti beban tambahan di hati yang sudah penuh luka. Di tengah kesedihan, kami harus bersikap tegar, mengurus segala keperluan dengan kepala dingin. Kakak saya, yang biasanya tegar, tampak lebih rapuh dari biasanya. Matanya sembab karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis.
Pada hari keberangkatan, bandara penuh sesak dengan orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, bagi kami, dunia seakan terhenti. Kami membawa peti ibu dengan hati-hati, seakan-akan ia masih bisa merasakan setiap goncangan. Perjalanan dari Jakarta ke Lombok terasa seperti perjalanan melewati lautan kesedihan. Di dalam pesawat, saya menggenggam tangan kakak saya erat-erat. Kami berbicara sedikit, lebih banyak tenggelam dalam kenangan tentang ibu.
Ketika kami tiba di Lombok, kehangatan tanah kelahiran ibu menyambut kami. Udara desa yang segar sedikit menghibur hati yang pilu. Para tetangga dan kerabat telah berkumpul, menyambut dengan pelukan hangat dan tangis haru. Mereka membantu kami membawa jenazah ibu ke rumah duka. Di sana, doa-doa dipanjatkan, mengenang sosok ibu yang penuh kasih dan pengorbanan.
Proses pemakaman berlangsung dengan khidmat. Tanah merah Lombok menerima tubuh ibu dengan lembut, seolah-olah menyambut kembali anak hilang yang pulang. Ketika tanah terakhir menutupi peti, saya dan kakak saya saling menggenggam tangan, merasa sedikit lega bahwa ibu akhirnya beristirahat di tempat yang ia cintai.
Setelah pemakaman, rumah di Lombok dipenuhi dengan pelayat yang datang silih berganti. Wajah-wajah penuh belasungkawa dan pelukan hangat menjadi penghibur di tengah duka yang mendalam. Setiap orang memiliki kenangan indah tentang ibu, kisah-kisah kecil yang menyentuh hati kami. Mereka mengenangnya sebagai sosok yang penyayang dan penuh dedikasi, seorang wanita yang selalu siap membantu tanpa pamrih.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, kami duduk di ruang tengah yang sepi. Hanya suara gemerisik angin malam yang menemani. Di sudut ruangan, ada foto ibu yang diletakkan di meja kecil, dihiasi dengan bunga-bunga segar. Saya dan kakak saya terdiam, merenungkan perjalanan panjang yang baru saja kami lalui.
"Mungkin ini cara ibu untuk mengajarkan kita tentang arti keluarga," kata kakak saya dengan suara pelan. "Kita telah melalui ini bersama-sama, dan itu membuat kita semakin dekat."
Saya mengangguk, merasakan hal yang sama. Dalam kesedihan ini, ada kekuatan baru yang muncul dari ikatan kami sebagai saudara. Kami berdua tahu bahwa hidup harus terus berjalan, dan kami harus menjaga warisan ibu dengan baik. Meski ia telah tiada, semangatnya hidup dalam diri kami.
Hari-hari berikutnya di Lombok diisi dengan doa-doa dan ritual untuk mengenang ibu. Kami mengunjungi makamnya setiap hari, membawa bunga-bunga segar dan merenungkan hidupnya yang penuh makna. Setiap kunjungan adalah momen untuk berbicara dengannya dalam hati, untuk mengungkapkan rasa rindu dan kasih yang tak terhingga.
Namun, waktu tidak berhenti. Kami harus kembali ke Jakarta dan melanjutkan kehidupan kami. Perpisahan dengan tanah Lombok, tempat ibu beristirahat, terasa berat. Tapi kami tahu, di manapun kami berada, kenangan tentang ibu selalu menyertai.
Di Jakarta, rumah terasa berbeda tanpa kehadiran ibu. Setiap sudut mengingatkan kami pada kehangatan dan keceriaan ibu. Setiap sudut mengingatkan kami pada kehangatan dan keceriaan yang ia bawa. Kami berusaha menjaga rumah tetap hidup dengan semangat yang sama, mengisi kekosongan dengan kenangan indah. Kakak saya menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab, menggantikan peran ibu dalam banyak hal. Saya juga berusaha melakukan yang terbaik, menghargai setiap pelajaran yang telah ibu berikan.
Pada akhirnya, kehilangan ibu mengajarkan kami tentang ketangguhan dan cinta sejati. Meski ada kesedihan yang mendalam, ada juga kebanggaan atas sosok ibu yang luar biasa. Kami berjanji untuk melanjutkan hidup dengan membawa nilai-nilai yang ia tanamkan, untuk menjadi pribadi yang ia banggakan.
Setiap tahun pada tanggal 29 Juni, kami mengadakan doa bersama untuk mengenang ibu. Kami berkumpul sebagai keluarga, berbagi cerita dan mengenang momen-momen indah bersamanya. Ini menjadi tradisi yang menguatkan ikatan kami, mengingatkan bahwa meskipun ibu telah pergi, kasih sayangnya tetap hidup dalam diri kami.
Kehilangan ini, meski menyakitkan, juga mengajarkan kami tentang arti sebenarnya dari cinta dan keluarga. Kami menjadi lebih kuat, lebih dekat, dan lebih menghargai setiap momen bersama. Ibu, dengan segala cinta dan pengorbanannya, akan selalu menjadi bagian dari kami, membimbing langkah kami dalam setiap langkah kehidupan. Dalam setiap doa dan tindakan kami, ibu selalu hadir menjadi cahaya yang menerangi jalan kami menuju masa depan.








