Menganyam Kebersamaan di Gang Kecil Kota Bekasi
Oleh: Zahwa Luthfiyyahtul Aulia - Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta - Program Studi Penerbitan.
Sebuah kebiasaan sederhana tetap bertahan di pemukiman kecil pinggir kota Bekasi di tengah kehidupan modern yang semakin individualis, etika sering dianggap hanya sekadar teori saja. Namun, seorang ibu rumah tangga dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya, Bu Siti, menjadi pelopor kebiasaan makan bersama yang sekarang menjadi pengikat ibu-ibu warga Gamprit 2, gang Delima III. Tanpa disadari, kebiasaan makan bersama menjadi pembelajaran etika non-formal bagi ibu-ibu warga sekitar.
Pagi itu senyum hangat terlihat jelas di wajah Ibu Siti saat menatap layar ponsel yang menampilkan grup chat teman perkumpulannya. Bunyi dering notifikasi yang tak pernah berhenti itu seperti irama kecil yang menggiring hari bu Siti di pagi harinya. Dari layar ponsel itu, terkirim pesan demi pesan dari grup kecil yang ia buat bersama ibu-ibu tetangga di sekitarnya.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Bu Siti. Pesan yang tak banyak, namun penuh semangat: “Bu..ibu.. makan bareng lagi yuk, Bu! aku ada sambel kacang, bikin pecel sayur besok yuk!.” Ibu Siti pun membalas pesan grup kecil tersebut: “Ayo bu.. aku bawa gorengan bakwan jagung deh.” Senyum Bu Siti terlihat sumringah saat membalas pesan itu dan Ia segera menyiapkan bahan untuk masakan yang akan dibuat dan dinikmati bersama ibu-ibu besok.
Ibu Siti mengaku jika rencana makan bersama seperti ini sebenarnya sangat seadanya dan sederhana, bahkan bisa dibilang dadakan. Biasanya, ajakan makan bersama itu dibuat sehari atau beberapa jam sebelumnya, tanpa susunan acara resmi atau undangan khusus. Tetapi yang membuat bu Siti merasa spesial adalah antusiasme yang selalu datang untuk duduk, berbincang, sambil makan bersama secara terbuka.
Teras Kecil yang Membawa Kebersamaan
Matahari tampak mulai mencondongkan diri ke arah barat. Satu per satu tetangga bu Siti datang setelah bekerja dan menyempatkan diri untuk datang menikmati waktu bersama di tengah lelahnya sehabis bekerja. Semuanya berhenti sejenak, menanggalkan penat hari itu dengan sebuah perkumpulan sederhana makan bersama di teras rumah bu Siti.
“Awal mula ada perkumpulan seperti ini karena ada ajakan dari ibu-ibu lain yang ngajak saya ngemil bareng, ibu itu bernama Bu Teti,” ungkapnya sambil mengenang.
“Lalu awal mula makan bersama ini dilakukan sekitar tujuh tahun lalu, tahun 2018 sepertinya, tapi dulu personil masih banyak. Sekarang hanya beberapa saja” cerita Bu Siti. “Dan karena kebiasaan jadi saya gerakkan terus untuk perkumpulan makan bersama ini,” lanjutnya sambil tersenyum.
“Awalnya tidak ada rencana khusus membentuk perkumpulan seperti ini, semuanya mengalir begitu saja,” Ia tertawa kecil, menyadari jika spontannya yang sederhana bisa terus berlanjut sampai sekarang. Namun, di situ lah tercipta sebuah kebiasaan yang jauh berharga daripada sekedar makanan.
Dari celetukan ajakan sederhana yang dilakukan Bu Teti dan di lanjutkan oleh Bu Siti, tumbuh sebuah kebiasaan yang ternyata jauh lebih berharga daripada sekedar berbagi makanan. Kebiasaan ini telah menjadi dasar terbentuknya prinsip yang mempererat hubungan antar warga, serta menumbuhkan etika dalam bersosialisasi di lingkungan bertetangga.
Pelajaran Berharga dari Teras Rumah Bu Siti
Dari acara sederhana ini, Ibu Siti merasa telah mendapatkan banyak pelajaran berharga. Ia jadi lebih mengenal siapa tetangganya sebenarnya, bukan hanya dari wajah yang sekilas terlihat di jalan. Ada yang pendiam tapi perhatian, ada yang cerewet tapi selalu sigap membantu.
“Saya jadi tahu karakter mereka, siapa yang suka bantu kalau ada masalah, siapa yang suka mendengarkan cerita,” ucapnya dengan senyum tulus. Kebersamaan ini juga membuka mata bahwa setiap orang punya cerita dan beban masing-masing yang tidak terlihat.
Suatu waktu, saat ada tetangga yang sedang sakit dan tidak bisa memasak, tanpa diminta, ibu-ibu yang lain sudah datang membawa makanan dan mengunjungi untuk memberikan dukungan mereka.
“Kalau ada yang susah, kami angkat beban itu bersama. Itu yang saya paling senengin dari kebersamaan kita,” ujar Bu Siti dengan mata yang menampakkan cahaya kebanggaan.
Pertemuan makan bersama ini juga menjadi ruang belajar etika sosial yang hangat dan sangat alami. Tidak ada aturan ketat, tapi saling menghargai dan empati tumbuh dengan sendirinya. “Jadi kalo emang ada yang ga bisa, di sini kira terus rangkul dan ajak aja makan tanpa meminta pamrih dan menerima dengan tulus, tapi memang kadang ada yang menolak karena merasa tak enak tak membawa makan, tapi ya kami tetap terbuka dan ajak terus, sebenarnya ga masalah ga bawa makanan tuh,” ungkapnya dengan lirih.
Mewarisi Etika kepada Generasi Berikutnya
Terkadang anak-anak dari mereka ikut serta makan dan duduk bersama, belajar bagaimana pentingnya kebersamaan antar tetangga lewat hal kecil dan sederhana seperti membawa makan dan berbagi untuk dimakan bersama-sama. Merayakan dan menyaksikan langsung bagaimana orang dewasa membangun hubungan yang penuh perhatian dan kehangatan.
Bu Siti sengaja melibatkan anak-anak dalam kegiatan seperti ini. Menumbuhkan sikap dan sifat sejak dini selain akademis dan memahami etika pergaulan.
“Kadang banyak anak-anak kurang memahami etika pergaulan, jadi di ajak saja mereka makan bersama dan ikut ngobrol bersama,” ujarnya.
Bahkan untuk cara mengambil makanan pun diajarkan Bu Siti agar mereka memahami pelajaran etika.
“Memang ga sering anak-anak ikut, tapi sekali ikut ambil banyak, takut ga habis, jadi saya kasih tau untuk ambil secukupnya, kalau kurang ambil lagi, agar mereka belajar memikirkan orang lain,” ujarnya bijak.Iki (8), salah satu anak dari ibu-ibu yang sering berkumpul, tampak sumringah membawa sepiring nasi uduk buatan ibunya. “Aku suka kalau makan ramai-ramai gini,” ucapnya sambil duduk di lantai teras. Senyum kecilnya dan caranya menyenduk lauk dengan hati-hati menggambarkan antusiasme dan pelajaran sederhana yang ia serap dari suasana itu.
Kebersamaan di Tengah Dunia yang Sibuk
Kebiasaan kecil yang dirawat di teras rumah Bu Siti telah menjadi perlawanan sunyi terhadap kehidupan kota yang kian sunyi. Dari makanan yang tubuh kasih sayang, dari kebersamaan yang lahir pengertian. Saat banyak orang sibuk dengan gadget, pekerjaan, dan kesibukan masing-masing, momen berkumpul makan bersama membawa warna tersendiri.
“Sekarang orang-orang pada sibuk sampe lupa untuk bercengkrama duduk sama tetangga dan kumpul nikmati waktu bersama-sama,” katanya sambil senyum kecil yang terlihat di sudut bibirnya.
“Padahal kebahagian orang berbeda ya, tapi bisa datang dari hal yang sederhana, seperti makan bareng dan ngobrol santai, sungguh menyenangkan batin,” lanjutnya.
Dari sebuah teras rumah sederhana milik Bu Siti, kebersamaan tumbuh dari hal yang paling mendasar seperti sepiring makanan hangat dan niat tulus untuk berbagi. Tak ada meja mewah, tak ada hidangan berlimpah. Hanya sebuah lantai berwarna merah maroon dan hidangan seadanya disuguhkan dengan senyum ramah. Tapi justru dari sinilah, nilai-nilai yang sering hilang di tengah hiruk-pikuk kota yang sekarang kembali terasa momen saling menghormati, berbagi tanpa pamrih, berkomunikasi dengan santun, dan menjalani hidup yang sederhana namun penuh makna.
Bagi Bu Siti, meskipun tidak dilaksanakan setiap hari. Rutinitas makan bersama ini menjadikannya tempat untuk ruang belajar sosial, tempat empati, gotong royong, dan rasa syukur. Dari obrolan ringan hingga saling membantu dalam kesulitan, hubungan antar warga menjadi lebih kuat, lebih hangat, dan lebih bermakna. “Makanan mungkin yanga ada aja, tapi rasa bahagianya nggak kalah sama kaya acara beat,” kata bu siti dengan nadanya yang memancarkan humor.
Bu Siti percaya kebersamaan yang lahir dari ketulusan lebih berharga dibanding pesta yang hanya berlangsung sekali. Di teras rumahnya, rasa memiliki dan saling peduli tumbuh tanpa dipaksa. Momen-momen seperti ini mengingatkan kita bahwa kekuatan sebuah perkumpulan kecil tidak selalu dibentuk dalam program besar. Terkadang, hanya satu orang yang mau memulai, satu piring makanan yang dibagi, dan satu tempat yang terbuka untuk siapa saja, bisa menumbuhkan rasa ikatan dan menimbulkan pelajaran etika sosial yang baik.
Dari teras rumah sederhana, kita belajar bahwa etika bukan hanya sebuah pelajaran yang ada di bangku sekolah saja. Ia tumbuh dalam keseharian, dalam sikap berbagi, memahami, dan menghormati satu sama lain. Semua itu ternyata bisa dimulai dari sepiring nasi dan niat tulus untuk hidup berdampingan.
Mungkin tidak semua tempat bisa seperti pemukiman Bu Siti. Tapi setidaknya, di sudut kecil negeri ini, masih ada ruang-ruang kehidupan yang menjadi etika non-formal. Di sanalah, kita belajar bahwa kebahagiaan bisa hadir lewat kebersamaan, dan makna hidup sesungguhnya tumbuh dari etika pergaulan yang sederhana, tapi membekas dengan dalam.








