Foto zaki sedang menjaga kandang dagangan hewan qurban
Klikwarta.com - Di sebuah rumah kontrakan sempit satu petak, Zaki duduk sendirian ditemani sepi yang tak pernah benar-benar pergi. Usianya baru menginjak dua puluhan, tapi hidup telah mengajarinya arti kehilangan dan bertahan. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil, dan sejak itu, Zaki memikul peran sebagai tulang punggung keluarga untuk menghidupi ibu dan adiknya yang masih belia. Ia hanya lulusan SMP, tapi kerja kerasnya tak pernah setengah-setengah. Saat nenek yang paling ia sayangi menghembuskan napas terakhir, Zaki benar-benar hidup sendiri. Namun ia tak menyerah.
Dari pekerja kasar penjaga kambing, Zaki perlahan dipercaya menjadi penjaja hewan qurban oleh pemilik lapak, bukan karena ijazah atau tampilan, tapi karena satu hal yang tak bisa dibeli: kejujuran. Di tengah gemuruh pasar hewan qurban yang penuh saingan, Zaki berdiri tegak membawa dagangan orang lain dengan nama baiknya sendiri. Inilah kisah seorang pemuda sebatang kara yang menjadikan kejujuran sebagai modal terbesar dalam hidupnya.
Sepi Dalam Keramaian
Sejak kepergian nenek yang ia sayangi, Zaki hidup dalam kesendirian, menempati kontrakan sempit berukuran satu petak, terpisah dari ibu dan adiknya. Dalam sepinya, Zaki berjuang memahami makna kehilangan, sembari tetap bertahan di tengah keramaian yang justru membuatnya merasa semakin sendiri.
Awal mula Zaki pindah ke kontrakan kecilnya bukanlah karena keinginan, melainkan keterpaksaan. Rumah peninggalan sang nenek tempat ia singgah sepeninggal ayahnya akan dijual oleh anak-anak almarhumah. Tak ada pilihan lain. Dengan tabungan seadanya, Zaki menguras habis simpanannya untuk membayar kontrakan. Hari demi hari ia lalui dalam kekurangan, nyaris tanpa pegangan.
Ironisnya, sejak pertama ia mengontrak, tak satu pun dari para anak nenek itu datang menjenguknya. Hubungan mereka hanya sebatas pesan singkat di WhatsApp, bukan untuk menanyakan kabar, tetapi untuk meminjam uang.
“nggak ada satupun dari anak nenek yang kekontrakan, paling ngechat cuma mau minjam duit” gumam zaki.
Zaki tak menyimpan dendam, hanya belajar menerima kenyataan: bahwa kadang, keluarga tidak selalu hadir sebagai tempat kembali. Walau begitu, Zaki berjuang keras demi menghidupi keluarga kecilnya yang tersisa.
Menjaga Kambing, Menjaga Hidup Keluarga
Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun 2021, aroma jerami basah dan suara kambing yang mengembik tak henti menyelimuti kawasan Cawang, Jakarta Timur. Di balik aroma khas itu, seorang pemuda bernama Zaki tengah menjalani malam-malamnya dengan menjaga kambing qurban.
Zaki, yang beberapa waktu terakhir harus berjuang seorang diri demi menghidupi sisa keluarganya, menerima ajakan temannya, Olis, untuk ikut bekerja sebagai penjaga kambing. Meski hanya bertugas sejak pukul 10 malam hingga 8 pagi, ia tak pernah sekadar duduk dan mengawasi. Dengan sigap, ia membersihkan kandang, menyapu jerami yang basah, dan memastikan setiap hewan berada dalam kondisi nyaman dan sehat "walaupun perjanjian saya sama sama bos cuma menjaga kambing, cuma karena saya orangnya punya inisiatif dan memelihara jadi seneng aja ngelakuinnya walaupun ga dikasih duit juga" ucapnya.
Bukan upah yang membuat Zaki tekun, tapi rasa tanggung jawab dan keinginannya untuk terus berguna meski dalam senyap malam "Kalau buat upah, selama 2 minggu bekerja itu dikasih Rp. 800.000 itu pun kotor, ya walau cuma segitu tapi tetap aja kebersihan kandang juga harus dijaga, biar sama-sama nyaman aja" Ujarnya .
Dalam menjalankan pekerjaannya sebagai penjaga kambing, ia tetap menerapkan prinsip kejujuran “Biar dikata cuma jaga kambing prinsip kejujuran juga harus dipakai, namanya gaji kecil begitu, pasti ada aja orang yang iseng sama duit, kalau kita jujur sewaktu-waktu bos butuh pekerja di Idul Adha selanjutnya jadi nama kita yang dicari buat kerja” ujar zaki.
Dan benar, ditahun 2023 Zaki mendapat kepercayaan dari pemilik lapak untuk membantu menjaga serta menjualkan kambing dagangannya. Zaki membantu dalam hal negoisasi harga, untuk keputusan harga tetap ditangan pemilik.
Miliki Lapak Sendiri
Tahun 2024 menjadi titik balik bagi Zaki. Setelah lama hanya menjadi penjaga kambing qurban, ia akhirnya memberanikan diri membuka lapak miliknya sendiri. Diberi nama “Yatim Farm”, usaha ini berdiri di Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan, dengan modal pas-pasan dan harga kambing yang terus melonjak.
Bagi Zaki, ini bukan sekadar tentang berjualan hewan qurban. Lapak itu ia bangun juga sebagai tempat berbagi. Ia mengajak teman-temannya yang belum punya pekerjaan untuk turut bekerja bersamanya. “Walaupun saya sudah punya lapak sendiri, nggak mungkin juga saya jalanin tanpa bantuan orang, makanya saya ajak teman-teman saya yang belum bekerja buat ikut berjualan, hitung-hitung bagi rezeki,” ucapnya dengan senyum kecil.
Dengan semangat yang tak surut dan harapan yang terus tumbuh, Zaki menjalani bisnis kecilnya. Yatim Farm bukan hanya tempat jual beli, tapi juga lambang perjuangan, persahabatan, dan ketulusan dalam berbagi.
Sendiri Tapi Tak Pernah Berhenti
Zaki mungkin bukan siapa-siapa di mata dunia. Ia hanya seorang pemuda tanpa gelar tinggi, tanpa rumah warisan, bahkan tanpa kehadiran keluarga yang utuh. Namun di tengah keterbatasan dan sunyinya malam-malam panjang di kontrakan sempit, ia membuktikan bahwa yang terpenting bukan apa yang dimiliki, melainkan apa yang diperjuangkan.
Dari menjaga kambing orang lain hingga membuka lapaknya sendiri, dari menyapu jerami hingga membagi rezeki kepada teman-teman yang senasib, Zaki melangkah dengan satu prinsip sederhana: jujur, bekerja keras, dan jangan pernah menyerah.
Di balik bau kandang dan teriknya lapak qurban, ada cerita tentang keberanian, tentang kehilangan yang diolah menjadi kekuatan, tentang seorang anak muda yang memilih bertahan ketika dunia seolah tak lagi berpihak. Yatim Farm bukan sekadar tempat jualan ia adalah bukti hidup bahwa perjuangan, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya.
Zaki tak lagi hanya menjaga kambing. Ia menjaga harapan untuk dirinya, keluarganya, dan siapa saja yang masih percaya bahwa dari tanah yang keras pun, tumbuh harapan yang lembut.








