Foto Yovita Arnelia Putri Rismanto
Oleh : Yovita Arnelia Putri Rismanto
Klikwarta.com - Hari itu, langit tak terlalu cerah, tetapi juga tak cukup muram untuk menyurutkan semangatku ke kampus. Seperti biasa, aku tiba pagi hari, menyesuaikan dengan jadwal mata kuliah pertama. Namun ada satu hal yang berbeda pada hari Selasa itu: jeda yang amat panjang menuju mata kuliah kedua bersama Pak Zae. Empat jam lamanya.
Sebagian teman memutuskan untuk pulang. Barangkali mereka lelah, barangkali mereka merasa menunggu terlalu lama hanya untuk satu mata kuliah. Jarak ke kampus pun tak bisa dianggap sepele bagi sebagian dari kami,termasuk aku. Keinginan untuk ikut pulang pun menggelitik, apalagi tubuh ini memang tengah letih. Tapi, entah dorongan dari mana, aku memilih tetap tinggal.
Menunggu itu melelahkan. Tapi kali ini, rasa lelah itu punya makna berbeda.
Jam menunjukkan pukul dua siang ketika Pak Zae akhirnya tiba. Ia melangkah masuk dengan senyum hangat seperti biasa. Hanya ada 11 orang dari 27 mahasiswa yang hadir. Di tangannya, ia menggenggam ponsel,bukan untuk dirinya, tetapi untuk mereka yang sudah pulang.
“Teman-teman yang sudah di rumah juga berhak mendapatkan ilmu hari ini,” ucapnya pelan namun penuh makna. Tak ada nada kecewa, tak ada amarah. Yang ada hanya ketulusan.
Sambil berdiri di depan kelas, ia mengajar dua arah: ke kami yang hadir secara langsung, dan ke mereka yang menyimak lewat layar. Sesekali ia menatap ponselnya, memberikan beberapa pertanyaan untuk mereka yang di rumah, meski responsnya tak selalu ramai. Ia tetap sabar. Tetap mengajar. Tetap berusaha adil membagikan ilmu, meski dalam keterbatasan.
Momen itu sederhana. Tapi di balik kesederhanaannya, tersembunyi makna yang dalam tentang budi pekerti.
Budi pekerti bukan sekadar sopan santun atau kata-kata manis. Ia hidup dalam tindakan. Dalam keputusan kecil yang kita buat ketika tak ada yang mengawasi. Dalam usaha untuk tetap hadir dan bertanggung jawab, seperti Pak Zae yang memilih mengajar meski separuh kelas kosong. Dan mungkin, seperti aku yang memutuskan untuk menunggu meski lelah menggoda.
Dunia kampus tak hanya tentang mata kuliah, nilai, dan tugas. Ia juga tentang pembentukan watak. Tentang belajar menjadi manusia seutuhnya,yang menghargai waktu, menghormati guru, dan memahami bahwa budi pekerti tak bisa diajarkan hanya lewat teori. Ia harus diteladankan.
Dan hari itu, Pak Zae mengajarkan budi pekerti dengan caranya sendiri. Tanpa ceramah panjang, tanpa penghakiman. Hanya lewat ketulusan, senyum, dan dedikasi untuk membagikan ilmu kepada siapa pun yang bersedia menerimanya.








