Nilai Tinggi, Akibat AI Di Mana Letak Kejujuran

Selasa, 20/05/2025 - 10:41
Foto hanya ilustrasi

Foto hanya ilustrasi

Oleh : Martha Ayu Winarno, mahasiswa Penerbitan (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta

Klikwarta.com - “Tugas bahasa Indonesia lo udah selesai belum?”

“Ah itumah ChatGPT aja, gampang. Nanti tinggal ubah sedikit aja kata-katanya biar gak ketahuan!”

Percakapan seperti ini semakin sering terdengar. Bukan hanya mahasiswa, pelajar di tingkat SD, SMP, dan SMA sudah tidak perlu bersusah payah mencari jawaban, mereka cukup mengetik pertanyaan, menyalin jawaban, dan tugas selesai dalam hitungan detik.

Di dalam ruang kelas, seluruh mahasiswa Penerbitan (Jurnalistik) kelas 4E sedang menunggu mata kuliah kedua. Sembari menunggu dosen yang akan datang, mahasiswa berbincang-bincang mengenai tugas yang belum selesai. Namun para mahasiswa tampak santai dengan tugas yang menumpuk, karena mereka mengandalkan ChatGPT untuk menyelesaikan tugasnya.

Aku mendengar salah satu mahasiswa berkata “Nanti cari jawaban di ChatGPT aja biar cepet selesai,” ucapnya santai. “Bener nih, kita tinggal cari di ChatGPT aja,” saut mahasiswa yang lainnya. Tidak bisa dipungkiri, dalam menyelesaikan tugas aku kerap kali menggunakan ChatGPT agar tugas dapat selesai dengan cepat. Dan aku yakin, hal yang sama juga dilakukan oleh mahasiswa dan pelajar lain.

Dalam keseharian kita, ChatGPT nyaris seperti teman sekelas yang selalu hadir di setiap tugas. Di ruang diskusi, di grup chat, bahkan di dalam ruangan kelas, kalimat “coba cari jawabannya di ChatGPT”, hal ini sekarang sudah menggantikan kebiasaan lama bertanya pada dosen atau membuka buku untuk mencari tahu jawaban. Kini AI tidak terasa asing, ia seperti bagian dari rutinitas belajar, bahkan kadang lebih dipercaya ketimbang sumber lain.

Kehadiran AI dalam dunia pendidikan memang membuka dilema. Di satu sisi, ia menawarkan efisiensi dan kemudahan dalam memahami materi, bahkan menyelesaikan tugas. Namun di sisi lain, apakah mahasiswa benar-benar paham dan mendapatkan ilmu atas pencapaian yang bukan hasil keringat sendiri?  AI dalam hal ini, bukan musuh. Ia adalah alat.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana alat itu digunakan. Ketika mahasiswa menggunakannya sebagai tumpuan utama, maka nilai kejujuran dan tanggung jawab seorang mahasiswa mulai pudar. Tugas akademik bukan hanya sekedar soal hasil akhir, tetapi tentang membangun karakter mahasiswa, melatih daya juang, dan berpikir kristis. Bukan hanya ilmu yang hilang, tetapi juga budi pekerti yang seharusnya tumbuh di dalam diri seorang mahasiswa.

Bukan AI yang perlu disalahkan, melainkan sistem dan budaya belajar itu sendiri. Ketika tugas lebih fokus pada hasil akhir, bukan kualitas, dan proses belajar yang dialami oleh mahasiswa. Maka, tidak heran jika mahasiswa mencari jalan pintas yang efisien.

AI akan terus berkembang. Akan selalu ada teknologi baru yang membuat hidup ini jauh lebih mudah dan praktis. Tapi pendidikan bukan hanya soal hasil akhir dan nilai yang bagus, pendidikan adalah sebuah proses panjang yang melatih kesabaran, kejujuran, dan etika dalam berpikir.

Inilah esensi budi pekerti dalam pendidikan, di mana ilmu bukan sekedar alat untuk mendapatkan sebuah nilai, tetapi bekal untuk masa depan. Maka, seberapa canggih teknologi, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi hal yang paling mendasar dari proses belajar.

Berita Terkait