Disiplin Waktu Kunci Sukses yang Sering Terabaikan

Selasa, 20/05/2025 - 11:08
Foto : Raissa Widiawati

Foto : Raissa Widiawati

Oleh : Raissa Widiawati, Mahasiswa Penerbitan (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta

Klikwarta.com - “Randi?” Saat daftar hadir dibacakan, tidak ada sahutan. Bukan karena menghilang, Tetapi karena ia selalu datang belakangan. Setiap kelas memiliki tokoh ikonik. Di kelas 4E, Randi bukan dikenal karena prestasi akademik atau jabatan organisasi. Ia dikenal karena keterlambatannya yang konsisten.

Setiap kali masuk kelas, Randi membawa senyum simpul dan langkah cepat, sembari menyalami dosen. Tapi jam tidak bisa ditipu. Ia sudah telat 15 menit dari jadwal. Seperti biasa, ia berucap, “Maaf, Pak. Tadi agak macet.”

Kata “macet” dalam kamus Randi bisa berarti bangun kesiangan, lupa menyiapkan tugas, atau terlalu santai menikmati pagi.

Pak Jon, dosen yang sudah terbiasa dengan polah Randi, hanya mengangguk kecil. Bukan karena menyetujui, tapi karena sudah terlalu sering menegur dan tak ingin mengulangnya lagi. Tidak ada marah-marah. Tidak ada bentakan. Hanya tatapan tenang yang tak bisa ditebak. Apakah kecewa, pasrah, atau barangkali berharap?

Randi bukan mahasiswa yang malas. Ia merupakan mahasiswa yang aktif, nilainya cukup baik, tugasnya selesai tepat waktu. Tetapi waktu bagi Randi, adalah tantangan. Ia sering datang terlambat, melewatkan pengantar materi, bahkan kadang membuat teman-temannya terganggu fokusnya.

Keterlambatan bukanlah kesalahan besar. Tapi jika terus dilakukan, akan membentuk kebiasaan dengan seiringnya waktu. Dari kebiasaan, terbentuklah karakter. Waktu bukan sekadar angka di jam digital, tapi cermin dari tanggung jawab dan budi pekerti seseorang.

Hingga suatu hari, Bapak Jon mengambil langkah tegas. Tanpa banyak bicara, ia menyampaikan aturan sederhana. “Mulai minggu depan, kelas akan dimulai tepat waktu. Yang terlambat, tidak boleh masuk.”

Randi mendengar aturan baru itu. Ia bahkan mengangguk ketika disampaikan. Tapi tubuhnya selalu kalah dari niat. Pagi hari tetap menjadi perlombaan yang gagal ia menangkan. Waktu terus jadi lawan.

“Padahal niatnya ingin berubah. Tapi ya gitu deh,” ujarnya suatu sore, menyeruput es teh sambil menatap jam tangan yang sudah lama jadi hiasan.

Namun minggu berikutnya, Randi datang 15 menit lebih awal. Ia duduk di bangku depan, membuka laptop, menyalakan PowerPoint, bahkan mengecek catatan materi minggu kemarin. Beberapa teman saling pandang. Heran lalu tersenyum. Tidak ada yang mencibir. Karena setiap perubahan sekecil apa pun layak dihargai.

Sejak hari itu, Randi hampir tidak pernah terlambat lagi. Ia belum sempurna, tetapi terus berusaha. Karena pendidikan bukan hanya soal siapa yang berubah dengan cepat, melainkan siapa yang sungguh-sungguh ingin belajar untuk berubah.

Budi pekerti tidak selalu harus dalam bentuk tindakan besar. Kadang ia hadir lewat hal kecil, seperti memilih untuk datang tepat waktu. Di ruang kelas, tidak hanya soal teknis, tapi bagian dari karakter seseorang. Datang lebih awal berarti siap menerima ilmu, menghargai dosen, menghormati teman, dan yang paling penting, menghargai diri sendiri.

Pendidikan sejati bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga bagaimana kita bersikap. Kadang, pelajaran paling berarti datang dari hal yang sederhana, seperti disiplin datang tepat waktu.

Sekarang, Randi tidak lagi dikenal sebagai si anak telat. Ia memang belum jadi yang paling disiplin, tapi setidaknya sudah mau berubah. Dan kadang, usaha kecil yang dilakukan terus-menerus jauh lebih berharga daripada perubahan besar yang cuma sebentar. Datang tepat waktu mungkin kelihatan sepele, tapi dari situlah kebiasaan baik mulai tumbuh pelan-pelan.

Tags

Berita Terkait