Tiga Wajah Seorang Guru : Mengajar, Menjaga, Menemani

Rabu, 21/05/2025 - 19:28
Foto : Istimewa

Foto : Istimewa

Oleh : Raisha Ananda (Mahasiswa Program Studi Jurnalistik asal Politeknik Negeri Jakarta)

Berjalan keluar hanya beberapa langkah dari Stasiun Depok Baru, sebuah lembaga kursus bahasa Inggris bernama English One berdiri setelah melakukan proses rebranding—nama lembaga ini sebelumnya adalah English First. Perubahan nama, tidak ikut mengubah semangat hidup pengajar di dalamnya. Kini, dibalut versi terbaru, English One lebih menciptakan ruang belajar yang hangat, enerjik, dan penuh warna.

Rossa, salah satu seorang pengajar muda perannya melebihi mengajar tata bahasa dan kosa kata, tetapi juga sebagai serve guarding representative. Artinya Rossa turut memastikan keamanan dan kenyamanan anak-anak di lingkungan English One baik di dalam kelas maupun di luar sekitaran lembaga.

“Aku mengajar bahasa Inggris untuk murid usia 3-18 tahun. Selain menjadi teacher, aku juga sebagai serve guarding representative yang memberi edukasi kepada teacher-teacher lainnya bagaimana cara menjaga murid yang kita ajari. Aku disini memberikan semacam pelatihan terhadap mereka, baik di lingkungan kelas maupun di luar kelas sekitaran English One” jelas Rossa.

Lingkungan Kerja yang Bersahabat

English One melebihi tempat bekerja mencari nafkah. Alasan utama Rossa betah selama bekerja disana adalah lingkungan tempat kerja penuh keakraban dan cenderung menggunakan bahasa informal. Perbedaan umur antara teman satu kantor terpaut 5-6 tahun lebih tua, interaksi yang tercipta selayaknya teman tongkrongan satu tipe bercandaan. Berbanding terbalik dengan tempat kerja Rossa sebelumnya, terlalu formal.

“Pertama kali aku disana aku langsung merasa nyaman, karena orang-orangnya suka bercanda asik cocok sama aku, adaptasinya lebih gampang dan lepas. Aku nggak perlu masang topeng pura-pura jadi orang lain, aku menjadi diriku sendiri, ” nada suara Rosa terdengar hangat mengenai proses adaptasi yang dia lalui. Sesama guru, rekan satu kantor, sekaligus sahabat yang saling mendukung.

Guru Internasional dan Perbedaan Budaya

Hidup selalu menyimpan tantangan dibalik sesuatu yang menyenangkan. English One memiliki program bernama “International Teacher” yaitu mendatangkan guru-guru internasional yang diambil dari negara native english speakers. Salah satunya datang dari Afrika Selatan. Siapa sangka melalui program ini, Rosa belajar pengalaman baru pentingnya menghargai perbedaan budaya antar negara.

Guru asal Afrika Selatan memiliki karakter outspoken, terlalu tegas, tidak ragu menyuarakan pendapat atau keluhan pada masalah yang dia hadapi. Bahkan sikap blak-blakan dia sampai membuat suasana satu kantor menuruti tingkahnya. Badmood? Ikut merasakan badmood. Happy? Ikut merasakan happy

Sistem mengajar international teacher dilakukan bergiliran kelas dari kelas satu ke kelas kedua. Ketika sistem ini berjalan, guru asli dari kelas tersebut jadi malas karena diajari sama dia. Pandangan jelek yang tertanam erat, menarik akar tidak suka sulit menembus sekat.

Alih-alih ikut menilai buruk, Rossa mencoba pendekatan intens mencari sesuatu yang baik melalui obrolan supaya memahami jelas karakter si international teacher.

“Mereka bilang si teacher international suka marah-marah, orang kampungan, gampang tersinggung. Tapi, pas aku ajak bicara sebenarnya karakter dia baik. Memang karakternya terlalu vokal, aku mengerti kenapa dia seperti itu setelah memperbanyak mengobrol sambil berbagi ilmu pengetahuan. International teacher menganggap bersikap vokal itu hal yang biasa di budaya negara dia. Hanya perbedaan budaya bukan masalah personal yang serius Aku tetap berinteraksi lebih, tidak mau menyinggung keterlaluan orangnya,” tambah Rossa.

Pengingat baru bahwa di dunia kerja penting menerapkan empati dan keterbukaan untuk memahami latar belakang orang lain, apalagi rekan satu kantor yang multikultural.

Penyesuaian Cara Mengajar Setiap Usia Murid

Seorang guru harus siap menghadapi murid dari berbagai kalangan usia. Setiap kelompok usia punya tantangan dan pendekatan berbeda.

Mengajari murid usia 3-6 tahun harus lebih ceria, lantang, semangat, dan ekspresif. Hindari suara pelan atau mereka tidak akan menaruh perhatian dengar. Energi yang dikeluarkan banyak supaya tetap fokus antusias belajar.

Meskipun masih tergolong anak-anak, usia 7-10 tahun memasuki kritis dan mudah bosan. Cara Rossa mengatasi permasalahan ini adalah membuat materi semenarik mungkin, melakukan banyak aktivitas interaktif yang bisa menghilangkan rasa cepat jenuh.

Penyesuaian paling sulit justru ada dari golongan usia remaja, usia. Musuh terbesar ponsel pintar. “Biasanya aku teriak-teriak di kelas, bukan teriak marah ya cuma volume suara aku dinaikkan biar mereka kembali mendengarkan dan ponsel mereka terabaikan.”

Proses mengajar kepada murid usia 16 tahun keatas mudah, mereka sudah mengerti konsep menghormati guru. Penyampaian materi lancar. Tahu kapan harus bermain dan belajar serius.

Peran Senior

Semua pengalaman mengajar di English One tidak lepas dari bimbingan guru-guru senior baik hati. Minggu pertama bekerja, tidak langsung turun bertemu sapa murid di kelas, Rossa melakukan observasi dahulu duduk di kelas-kelas berbeda dari kelas kecil sampai kelas besar yang dipegang guru senior. Memperhatikan cermat bagaimana guru senior mengatur kelas.

Tahapan observasi sukses dilewati, selanjutnya memasuki minggu kedua co-teaching. Rossa mengajar bersama guru senior, membagi pembelajarannya dua bagian. “Misalnya satu pelajaran durasi panjangnya 80 menit, berarti 40 menit guru senior dan 40 menit aku. Kita saling kerja sama menyampaikan materi,” jelas Rossa menurutnya peran senior di awal sangat besar dan penting dalam proses adaptasi dan menumbuhkan kepercayaan diri sebagai guru di lingkungan tempat kerja yang baru.

Suka dan Duka

“Aku senang banget kerja di sini karena cocok sama personality aku yang suka berinteraksi. Pekerjaan aku sebelumnya, cuma duduk di depan komputer, minim interaksinya. Di sini aku bisa ketemu banyak orang, menemukan hal baru setiap hari,” ucap Rossa antusias saat ditanya apakah menikmati pekerjaannya.

Sisi paling menyenangkan menurut Rossa adalah bertemu rekan satu kantor satu tujuan sama dan menjumpai beragam karakteristik murid-murid. Jadwal masuk kantor jam 1 siang, sisa pagi harinya digunakan menyiapkan bahan materi baru, sarapan, dan santai tipis-tipis. Pulang biasa jam 6 sore, ada kelas malam jam 8 malam.

Namun, masuk kerja hari akhir pekan paling menyita energi sosial.  Mulai jam 9 pagi hingga 6 sore. Terutama ketika ada kegiatan menyangkut marketing atau event. Semua lelah, hasil kerja payah, dibayar sepadan dengan momen pengalaman yang didapat.

Mengintip dinding gedung English One yang penuh cerita menarik, setiap guru adalah pelindung, sahabat, dan sosok inspiratif bagi murid-muridnya. Bahasa Inggris menjadi jembatan proses tumbuh memahami dunia satu sama lain.

Tags

Berita Terkait