Hendra berjualan Capucino Cincau. (Foto: Istimewa)
Oleh : Khaylila Safitri
Klikwarta.com - Pukul tiga sore, ketika matahari mulai jinak dan bayang-bayang pohon memanjang di trotoar. Suara khas clink-clink dari sendok dan es batu terdengar dari pinggir jalan raya di kawasan Pondok Betung. Di sanalah, berdiri sebuah gerobak sederhana bertuliskan “Capucino Cincau Pak Hendra”.
Duduk di balik gerobak itu, Hendra Subarkah, menyambut setiap pembeli dengan senyum dan sapaan hangat.
“Silakan, Kak. Mau manis sedang atau ekstra?” tanyanya, sembari tangannya sigap meracik pesanan. Ia bukan sekadar pedagang kaki lima. Ia adalah simbol kesabaran, keramahan, dan kecerdasan interpersonal yang tulus hadir dalam rutinitas jalanan Tangerang.
Hendra adalah ayah dari tiga anak yang kini tinggal di rumah petak kecil di Pondok Aren. Dulu ia bekerja sebagai kuli bangunan, namun kondisi ekonomi yang tak menentu membuatnya berpikir ulang. Lima tahun lalu, ia memutuskan menjual minuman capucino cincau, terinspirasi dari anak pertamanya yang suka membuat eksperimen minuman di rumah.
“Awalnya malu, takut nggak laku,” kenangnya. Namun istri dan anak-anaknya memberinya semangat. “Bapak, asal ramah dan jujur, pasti ada yang beli,” kata anak sulungnya, yang kini kuliah dengan beasiswa.
Hari-hari pertama dilalui Hendra dengan ragu. Gerobaknya sempat digusur, kadang dagangannya basi, dan cuaca tak bersahabat. Namun satu hal yang selalu ia jaga, cara ia menyapa dan memperlakukan orang.
“Saya nggak punya spanduk besar atau promo-promo digital. Yang saya punya cuma sikap,” katanya.
Hendra menyadari bahwa menjadi pedagang bukan hanya tentang barang jualan, tapi juga tentang interaksi. Ia hafal nama pelanggan, tahu mana yang suka tanpa gula, dan sering menambahkan es batu ekstra untuk pembeli anak-anak.
“Saya ingin mereka pulang bukan cuma dapat minuman, tapi juga rasa dihargai,” ujarnya.
Pandemi sempat menghantam keras. Penjualan menurun, orang-orang takut keluar rumah. Tapi Hendra tetap datang. Ia membawa masker cadangan, menyediakan hand sanitizer di gerobaknya, dan bahkan memberi minuman gratis untuk petugas kebersihan jalan.
Dari sanalah, banyak orang mulai memperhatikan.
“Hendra itu beda. Dia bukan cuma jualan, tapi juga peduli,” kata Lina, pelanggan tetap yang bekerja di kantor pemerintahan. Ia sempat menuliskan kisah Hendra di status WhatsAppnya.
Proses Hendra tidak semulus batu akik. Ada pedagang lain yang merasa tersaingi. Pernah gerobaknya dilempar sampah plastik oleh oknum tak dikenal. Tapi Hendra menanggapinya dengan kepala dingin.
“Saya percaya, semua ada jalannya. Kalau kita sabar dan tetap baik, rezeki nggak akan ke mana,” katanya, sambil tetap tersenyum.
Di tengah tekanan itu, justru semakin banyak orang yang datang. Bukan hanya karena minumannya, tapi karena sikapnya. Ia bahkan diminta berbagi motivasi oleh komunitas pedagang kecil.
“Saya hanya cerita yang saya jalani,” ujarnya rendah hati.
Apa yang membuat Hendra bertahan bukan sekadar keuletan, tapi kemampuannya memahami orang lain. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus bicara. Ia tahu bagaimana membangun rasa percaya hanya lewat secangkir capucino cincau.
“Orang tuh nggak selalu butuh minuman. Kadang cuma butuh disapa dan didengar,” katanya.
Kecerdasan interpersonal yang ia miliki bukan hasil pelatihan formal, tapi dari pengalaman hidup. Dari jadi kuli bangunan, mengantar batu bata, hingga kini mengantar kebahagiaan dalam gelas plastik. Ia percaya bahwa hubungan antar manusia adalah investasi jangka panjang.
“Mereka yang datang hari ini, bisa jadi datang lagi besok. Kalau kita jaga hubungan baik, hidup juga jadi lebih ringan,” ujarnya.
Kini, Hendrat dikenal bukan hanya sebagai pedagang, tapi sebagai ‘ayah jalanan’ bagi banyak anak muda. Ia sering memberi semangat kepada pelajar yang mampir, bahkan membantu siswa SMK yang melakukan studi tentang UMKM. Salah satu pelanggan bahkan menuliskan namanya dalam makalahnya.
Setiap sore, suasana gerobaknya seperti ruang ngobrol mini. Anak-anak, pekerja kantoran, hingga pengemudi ojek online berkumpul, saling bertukar cerita, dan tentu saja, menikmati capucino cincau yang selalu disajikan dengan hati.
“Pak Hendra itu seperti terapi gratis,” canda seorang pelanggan tetap.
Hendra bercerita, suatu sore, hujan deras mengguyur Tangerang tanpa jeda. Gerobaknya basah kuyup, pelanggan sepi, dan dagangan tersisa hampir setengah.
“Kalau begini, saya rugi,” ujarnya pelan sambil megulang kejadian. Tapi bukannya mengeluh, ia malah menelpon istrinya di rumah. “Nanti capucino-nya kita bagi-bagi ke anak-anak di sekitar rumah saja, biar nggak mubazir,” katanya sambil tersenyum.
Sikapnya yang selalu berpikir ke depan dan tetap hangat dalam kesulitan membuat banyak orang kagum. Hendra dikenal tidak suka bicara kasar, apalagi membentak pembeli terlepas dari situasi yang ia hadapi.
“Pernah ada yang salah ambil pesanan dan marah-marah. Tapi Hendra malah minta maaf dan kasih bonus,” ujar Deni, ojek online yang sering beli minum di tempatnya. Respons lembut Hendra membuat suasana kembali teduh.
Dalam sehari, ia bisa bertemu lebih dari 70 orang dengan karakter berbeda. Ada yang cerewet, ada pula yang pendiam. Tapi Hendra selalu tahu bagaimana menanggapi mereka.
“Kalau yang banyak cerita, saya dengar. Kalau yang pendiam, saya cukup kasih senyum. Mereka tetap merasa dihargai,” jelasnya.
Di titik ini, kecerdasan interpersonal Hendra terbukti bukan sekadar kemampuan komunikasi, melainkan juga sensitivitas hati.
Ketika ditanya apa yang ingin ia wariskan kepada anak-anaknya? Hendra menjawab tanpa ragu.
“Jadilah orang yang bisa bikin orang lain nyaman. Rezeki bisa dicari, tapi hubungan baik itu harta paling mahal,” ujarnya.
Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi datang dari pengalaman yang panjang. Hendra tidak pernah menyesali keputusannya turun ke jalan. Justru, di sanalah ia menemukan makna. Makna tentang bagaimana kecerdasan sosial bisa menyelamatkan. Bukan hanya ekonomi, tapi juga hati dan relasi.
Hendra mungkin hanya satu dari ribuan pedagang kaki lima di Tangerang. Tapi dari gerobak kecilnya, ia menunjukkan bahwa menjadi manusia yang penuh empati dan ramah bisa membawa perbedaan besar. Bukan lewat selebaran atau iklan, tapi dari tatapan tulus, telinga yang mendengar, dan tangan yang menyajikan segelas capucino cincau dengan cinta.








