Potret Bu Marni dengan gerobak barang bekasnya (Foto : Istimewa/Dokumen Pribadi)
Oleh : Khaylila Safitri
Klikwarta.com- Di pagi yang hangat, saat roda gerobak itu mulai mengukir jejak di gang sempit daerah Pondok Ranji. Suara gemeretak roda kayu bersentuhan dengan aspal. Menciptakan irama khas yang hampir tiap hari terdengar. Di balik gerobak penuh barang bekas, berdiri sosok perempuan berkerudung lusuh, wajahnya ramah, kulitnya legam terbakar matahari. Namanya Ibu Marni, seorang pemulung yang sekaligus ibu tunggal. Tanpa disadari, seorang "ahli komunikasi" dalam balutan sederhana.
Tak banyak yang tahu, Ia dengan pekerjaan yang dianggap remeh. Ia justru punya kemampuan jauh lebih besar. Lebih dari sekadar memilah kardus dan botol. Ia mampu membaca suasana hati orang, meredakan konflik kecil di lingkungan, hingga membangun kepercayaan dengan tetangga dan pelanggan tetapnya. Ibu Marni bertahan bukan hanya karena tenaga, tapi karena kecerdasan interpersonal. Ia memiliki emampuan memahami, berempati dan berinteraksi dengan orang lain secara tulus.
Tahun 2017 suaminya meninggal karena kecelakaan kerja. Sejak itu, Ibu Marni mengambil alih peran sebagai pencari nafkah bagi tiga anaknya. Awalnya ia mencoba bekerja sebagai buruh cuci, tetapi hasilnya tak cukup. Hingga akhirnya ia memutuskan ikut tetangganya menjadi pemulung. “Orang bilang pekerjaan ini kotor, tapi ini halal,” ujarnya ringan.
Sejak awal, Ibu Marni menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekadar soal menemukan sampah bernilai jual. Ia harus tahu mana rumah yang bersedia memberinya barang bekas.
Ia juga harus tahu kapan waktu terbaik mendekati seseorang. Tak hanya itu, bagaimana ia harus paham menjaga kepercayaan. Di sinilah keterampilan interpersonalnya diuji dan diasah setiap hari.
“Saya belajar dari jalanan,” katanya suatu sore sambil duduk di pinggir trotoar, tangannya sibuk melipat kardus.
“Kalau kita datang-datang langsung ambil, orang bisa tersinggung. Tapi kalau kita ngobrol dulu, bantu sapuin halaman, kasih senyum, mereka malah nyariin kita.”
Pernah suatu hari, ada pemulung lain yang berbuat curang. Pemulung itu mengambil barang dari rumah "langganan" Ibu Marni. Pemilik rumah marah karena merasa dibohongi. Ibu Marni tak membalas dengan kemarahan. Ia mendatangi rumah itu, menjelaskan dengan sabar, bahkan meminta maaf atas kejadian yang bukan salahnya. Sikapnya membuat keluarga itu kembali percaya dan justru menambah bantuan mulai dari makanan hingga uang sekolah untuk anak bungsunya.
Interaksi semacam itu menjadi keseharian Ibu Marni. Ia peka terhadap nada bicara, ekspresi wajah, dan gerak tubuh orang lain. Ia tahu kapan harus diam dan kapan harus bercerita. Tanpa pendidikan tinggi, Ibu Marni mempraktikkan kecerdasan emosional dan sosial dalam bentuk paling nyata.
Puncak kisahnya terjadi saat awal pandemi COVID-19. Banyak rumah menolak didatangi orang asing. Pendapatan Ibu Marni anjlok. Tapi justru di masa itu, hubungan baik yang ia bangun selama ini membuahkan hasil. Para warga yang dulu menjadi "pelanggannya" malah menghubungi dia lewat WhatsApp. Bahkan enawarkan kardus yang bisa diambil sore hari. Beberapa ada juga yang memberikan bantuan sembako.
“Saya nggak nyangka, orang-orang yang dulu saya bantu sapuin halaman, sekarang gantian bantu saya,” ucapnya dengan suara bergetar.
Situasi itu membuktikan bahwa modal sosial yang dibangun lewat kecerdasan interpersonal menjadi penyelamat masa sulit. Tak hanya materi, tapi rasa aman. Dan merasa dihargai serta diterima di tengah lingkungan. Ditengah situasi maraknya yang mengabaikan kaum marjinal.
Kini, Ibu Marni sudah tidak lagi mendorong gerobaknya sejauh dulu. Anak-anaknya mulai bekerja. Ia lebih sering tinggal di rumah sambil menyortir barang. Namun, gerobaknya masih setia di depan rumah. Terkadang ia bosan dan kembali ke pekerjaan sebelumnya. Gerobak lusuhnya menjadi simbol hubungan yang dibangun dari hati ke hati.
Anak pertamanya bahkan bercita-cita menjadi konselor sosial. Anaknya terinspirasi dari cara ibunya membangun relasi. “Saya belajar empati dari Ibu,” katanya singkat.
Suatu siang, di sela aktivitas memilah botol plastik di pinggir jalan, Ibu Marni didatangi seorang ibu muda yang tampak panik. Anak balitanya tiba-tiba kejang saat bermain di depan rumah. Tanpa pikir panjang, Ibu Marni segera menghentikan pekerjaannya dan ikut membantu. Ia menggendong anak itu sambil memanggil ojek daring yang lewat.
“Kalau kita bisa bantu nyawa orang, nggak usah tunggu pakai seragam atau gelar,” katanya mengenang kejadian itu. Warga sekitar pun makin hormat padanya, melihatnya bukan lagi sekadar pemulung, tapi bagian dari mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, Ibu Marni juga jadi tempat curhat warga. Ada yang cerita soal anaknya yang kecanduan game atau suaminya yang sulit diajak bicara. Ada pula yang sekadar soal harga minyak goreng. Dengan sabar, Ibu Marni mendengar, menyimak, lalu memberi nasihat ala kadarnya. Bukan karena dia merasa paling tahu, tapi karena dia percaya bahwa orang yang didengar akan merasa dihargai. Itulah bentuk lain dari kecerdasan interpersonal yang alami.
Bahkan anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya memanggilnya “Nenek Kardus”. Bukan karena mengejek, tetapi karena mereka merasa nyaman dengannya. Setiap sore, Ibu Marni kerap duduk di bangku bambu depan rumah, mengajarkan anak-anak menyanyi lagu anak tradisional, atau bercerita tentang dongeng masa kecilnya di kampung. Kedekatan ini bukan hasil instan, tapi dibangun dari kehadiran yang konsisten dan hati yang terbuka.
Tak jarang, warga yang hendak pindah rumah menitipkan barang bekasnya langsung ke Ibu Marni. Mereka percaya ia akan menyalurkan barang-barang itu dengan cara yang bermanfaat, bahkan sering membaginya ke sesama pemulung lain yang lebih membutuhkan.
“Banyak yang ngasih barang bukan cuma buat saya, tapi buat saya terusin ke orang lain. Saya jadi jembatan,” katanya sambil tersenyum bangga.
Perilaku Ibu Marni menjadi contoh bahwa kerja sosial tidak selalu membutuhkan lembaga atau struktur formal. Ia melakukan semua itu dari gerobaknya, dari tangannya yang kapalan, dari matanya yang peka membaca kesedihan.
“Kalau kita bisa bikin orang nyaman, hidup jadi lebih ringan,” katanya, seolah menegaskan bahwa komunikasi bukan soal kata-kata saja, tapi juga soal niat dan kejujuran.
Di balik gerobak barang bekas, Ibu Marni mengajarkan satu hal penting. Bahwa manusia bukan hanya bertahan lewat otot dan logika. Tapi juga lewat relasi yang hangat dan kepercayaan yang dijaga. Di tengah dunia yang serba sibuk dan kompetitif, kecerdasan interpersonal justru menjadi kunci keberlanjutan hidup yang paling mendasar.








