Mengelola Emosi di Tengah Konflik Kerja Kelompok Kampus

Minggu, 25/05/2025 - 09:54
Foto: StartupStockPhotos (pixabay.com)

Foto: StartupStockPhotos (pixabay.com)

Oleh: Salsabila Az Zahra

Klikwarta.com - Ketika dosen memberikan tugas kelompok, tidak sedikit mahasiswa yang merasa stres. Alih-alih karena tugasnya, dinamika kelompok yang sering tak seimbang ada yang dominan, ada yang diam, bahkan tidak melakukan kontribusi sama sekali menjadi pemicu utama permasalahan ini.

Selain menimbulkan konflik internal, situasi semacam ini dapat menurunkan semangat kerja dan berdampak pada hasil tugas. Mahasiswa yang aktif kerap merasa terbebani karena harus menanggung sebagian besar pekerjaan, sementara yang pasif cenderung menghindar dari tanggung jawab.

Namun, di tengah situasi yang rentan menyulut emosi tersebut, seorang mahasiswa—sebut saja Nisa, memilih untuk tidak terpancing. Baginya, menjaga kestabilan emosi jauh lebih penting ketimbang meluapkannya. Dia menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dapat mendukung keberhasilan akademik.

Tetap Tenang di Tengah Ketimpangan

Hanisah Fasalindah, mahasiswa semester 4 Prodi Teknologi Hasil Pangan di salah satu universitas Yogyakarta, menghadapi tantangan berat dalam tugas kelompok  mata kuliah Lapang Pertanian Terpadu. Di mana, mahasiswa harus membuat proposal mengenai integrasi kuliah lapang yang sedang dilakukan, yaitu menanam jagung dan budidaya ternak ayam. Meski kelompoknya berjumlah tujuh orang, sayangnya hanya dua yang berpartisipasi mengerjakan tugas.

"Aku sebenernya marah karena proposal itu isinya 15 lembaran. Dikerjain dua orang berat banget, capek. Tapi aku lebih mentingin nilai daripada harus ngejar-ngejar mereka yang nggak ada pergerakan sama sekali," ujarnya.

Menyadari ada anggota yang pasif, dia lebih memilih untuk menghubungi secara personal dan bertindak tegas ketimbang melampiaskan amarahnya di grup chat. Mahasiswa bisa memilih tetap pasif, tetapi namanya tidak akan dicantumkan dalam proposal atau mengerjakan bagian yang belum tuntas dengan jangka waktu tertentu.

Tindakan yang dilakukannya menghasilkan solusi yang lebih efektif. Karena meluapkan emosi secara impulsif hanya akan memperburuk situasi, bahkan dapat menimbulkan konflik baru.

Dampak Positif yang Menular

Menurut Gie (2000: 77) self management merupakan dorongan yang berasal dari diri sendiri sehingga nantinya seseorang dapat mengendalikan kemampuannya untuk mencapai hal-hal yang baik, dan mengembangkan berbagai segi dari kehidupan pribadi agar lebih sempurna.

Orang dengan self-management tinggi akan berusaha agar bisa menanggulangi emosinya secara bijak. Mencari cara untuk menikmati pekerjaan jauh lebih baik ketimbang harus menyalahkan orang lain.

Secara tidak langsung, Nisa telah menerapkan prinsip self-management tersebut. Dia mengalah pada rasa amarahnya dan memilih untuk mengendalikan emosi demi tujuan yang lebih penting. Sikapnya memberikan dampak positif, dua anggota lain yang awalnya pasif akhirnya menunjukkan rasa tanggung jawab setelah dihubungi secara personal.

"Menurutku, kalau misalnya mereka beneran niat ngebantu, berarti mereka emang mementingkan tugas proposal itu. Karena orang yang beneran nggak mau ngerjain, mau dikasih teguran, diomelin, diricuhin atau disuruh berapa kali pun, kalau emang nggak niat, ya nggak bakal jalan," tuturnya. Dia juga mengungkapkan bahwa proposal tersebut mendapat nilai cukup bagus dengan total mahasiswa aktif sebanyak empat dan tiga lainnya pasif.

Mengalah Bukan Berarti Kalah

Pengalaman Nisa di dunia perkuliahan mengajarkan bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu teori dan praktik, melainkan wadah pembelajaran emosional yang sangat berharga. Situasi kerja kelompok yang penuh tekanan dapat menjadi ladang latihan bagi mahasiswa agar lebih mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan bijak.

Kemampuan ini tentu tidak datang begitu saja. Butuh kesadaran, latihan, dan keberanian untuk menahan diri. Namun, saat berhasil dikuasai, kecerdasan emosional dapat menjadi bekal yang akan terus berguna, bahkan setelah masa kuliah usai di tempat kerja, dalam hubungan sosial, hingga kehidupan pribadi.

Kecerdasan emosional bukan tentang memendam, melainkan memilih cara terbaik untuk merespons. Bukan tentang menghindari konflik, tetapi menyelesaikannya dengan cara positif. Hasil baik berawal dari proses yang sehat, dan proses yang sehat dimulai dari emosi yang terjaga.

Tags

Berita Terkait