Foto Group of young Asian men and girl sitting together in urban street and laughing (Freepik.com)
Penulis: Annisa Naysilla Pramesta Putri
Setiap orang pasti menginginkan relasi yang sehat. Punya teman yang bisa mereka ajak ngobrol tanpa takut salah ucap, lingkungan yang nyaman, dan komunikasi yang saling menghargai satu sama lain. Tapi kenyataannya, menjaga hubungan baik bukan cuma soal sering ketemu atau seberapa akrab kita terlihat. Ada satu hal yang kadang terlupakan oleh kita semua, padahal sangat penting yaitu kecerdasan emosional.
Bisa dibilang kecerdasan emosional itu bukan berarti kita harus menutupi emosi. Bukan juga selalu terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Justru, orang dengan EQ (emotional quotient) tinggi tahu cara memahami perasaannya sendiri, bisa mengelola amarah, kecewa, bahkan sedih tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain. Dan mereka tidak lupa bahwa orang lain memiliki perasaan juga.
Mengelola Emosi Sama Dengan Membuka Peluang Relasi
Apakah kalian pernah merasa nyaman dengan seseorang yang tenang, sabar, dan bisa diajak berkomunikasi tanpa merasa diintimidasi? Pasti rasanya pasti seperti berada di ruangan yang aman bagi kalian. Orang-orang seperti itu biasanya memiliki kecerdasan emosional yang baik. Mereka tidak cepat naik darah, tidak reaktif, dan tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.
Sebaliknya, bayangkan kalau kalian mempunyai teman yang mempunyai emosi tidak stabil. Jika kalian salah bicara, mereka langsung sensitif. Bercanda sedikit, mereka anggap serius. Kalau tidak sesuai dengan maunya, mereka pun bisa marah-marah, dan merusak suasana. Pertanyaannya sederhana: apa kalian akan nyaman berteman dengan orang seperti itu?
Kalian mungkin saja berfikir masih bisa ditoleransi kalau mereka adalah orang yang bisa mengontrol emosinya. Tapi bagaimana kalau setiap pertemuan berubah jadi dramatis karena sikapnya? Perlahan, orang-orang akan memilih menjaga jarak. Dan dari situ, relasi mulai runtuh satu per satu.
Ketika Emosi Membuat Lingkaran Pertemanan Retak
Berkaca dari pengalaman saya sendiri. Saya pernah berada di tengah-tengah situasi seperti itu. Dalam lingkungan pertemanan, ada beberapa orang yang punya kecenderungan untuk membawa semua hal ke arah negatif. Mereka mudah tersinggung, cepat sekali merasa diserang, dan setiap kali ada yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, mereka marah-marah atau memilih diam berhari-hari.
Sebagai teman, pada awalnya saya mencoba mengerti. Tapi lama-kelamaan, bukan hanya saya, teman-teman lain pun mulai merasa kelelahan emosional. Suasana yang seharusnya hangat berubah jadi tegang. Kami jadi berhati-hati saat bicara, menghindari topik tertentu, bahkan merasa tidak bebas untuk jadi diri sendiri. Hingga akhirnya, tanpa harus ada pertengkaran, pertemanan itu pudar.
Kecerdasan Emosional Lebih Penting dari Sekadar Pintar Bicara
Banyak dari survei dan penelitian yang mendukung pentingnya kecerdasan emosional. Salah satu contoh nya adalah TalentSmart, lembaga yang fokus pada riset EQ, menemukan bahwa 90% orang dengan performa kerja terbaik memiliki EQ yang tinggi. Sementara itu, studi dari Yale University menyatakan bahwa orang dengan EQ rendah lebih sering terlibat konflik interpersonal dan cenderung mengalami isolasi sosial.
Adapun pendapat dari Daniel Goleman, tokoh yang memopulerkan istilah emotional intelligence, menjelaskan bahwa EQ mencakup lima komponen utama yaitu kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Semua ini bukan hanya dibutuhkan dalam dunia kerja, tapi juga dalam hubungan pribadi, keluarga, bahkan komunitas sosial.
Bukan Bawaan Lahir, Tapi Keterampilan yang Bisa Dilatih
Kabar baiknya, kecerdasan emosional bukan sesuatu yang statis. Ia bisa dilatih. Kita bisa belajar mengenali emosi sebelum bereaksi. Kita bisa melatih empati, belajar mendengarkan, mengatur nada bicara, dan memilih kata-kata yang tidak menyakiti orang lain. Hal-hal sederhana seperti memberi jeda saat marah, tidak menyela saat orang lain bicara, atau sekadar mengakui perasaan sendiri bisa menjadi langkah awal dalam mengenali emosi kita sendiri.
Beberapa sekolah dan tempat kerja mulai memperhatikan pentingnya EQ dengan menghadirkan pelatihan soft skill berbasis emosi. Tapi selebihnya, kesadaran ini harus tumbuh dari pribadi masing-masing.
Mengelola Emosi, Menjaga Hubungan
Relasi yang sehat bukan dibangun dari obrolan panjang atau pertemuan sesama kelompok. Ia dibentuk oleh rasa aman, saling menghargai, dan kemampuan untuk hadir dengan emosi yang terjaga. Kita bisa kehilangan banyak hal dalam hidup seperti pekerjaan, kesempatan, bahkan reputasi karena gagal mengatur emosi. Tapi yang paling menyedihkan adalah ketika kita kehilangan orang-orang baik di sekitar kita, hanya karena kita tak bisa menahan satu kata kasar atau satu reaksi yang berlebihan.
Maka dari itu, jika kalian ingin dihargai, dihormati, dan punya relasi yang luas, jangan hanya sibuk memperkaya pengetahuan. Belajarlah untuk mengelola diri kalian sendiri terlebih dahulu. Karena dalam hubungan apa pun, kemampuan emosional adalah modal utama untuk bertahan dan tumbuh bersama. (*)








