Ilustrasi Ketenangan dalam Kecerdasan Emosional (Sumber: freepik.com)
Oleh : Tatu Hudia
Bukan hanya Kecerdasan Intelektual atau Intellegence Quotient (IQ), kecerdasan yang sama pentingnya untuk dipelajari dan dikembangkan adalah kecerdasan emosional. Ada orang yang memang memiliki kecerdasan emosional sejak lahir, tetapi ada juga yang perlu berusaha melatih dan meningkatkannya.
Undang-undang Jasa Notaris (UUJN) menganggap usia 18 tahun merupakan titik perubahan seseorang dari remaja menjadi dewasa. Di sisi lain, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) menentukan seseorang dianggap dewasa pada usia 21 tahun atau sudah menikah. Sayangnya, hingga kini peraturan yang tertulis tidak menjamin tolak ukur kedewasaan seseorang.
Saat menjadi dewasa, seseorang menganggap dirinya maupun diri lain telah matang dalam kecerdasan emosional. Sebab, kecerdasan tersebut membantu bersosialisasi dengan baik, membuat keputusan yang bijak, dan mampu menghadapi situasi sulit. Namun, apakah banyak orang yang sudah menyadari kecerdasan emosionalnya? dan bagaimana orang itu akan bertindak?
Bertindak Ketika Menyadari Teguran
Seseorang bisa berada di fase belum menyadari pentingnya Kecerdasan Emosional atau Emotional Quotient (EQ). Talitha (20) sebagai mahasiswa psikologi semester 4 pernah merasa senang saat berbuat hal yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Misal, saat mengikuti rapat organisasi mahasiswa.
Ia sering merasa bosan saat mendengarkan diskusi dan perdebatan antarmahasiswa. Sudah menjadi kebiasaan, tubuhnya akan mencari kenyamanan dengan mengalihkan fokus untuk membuka ponsel, menjelajahi media sosial, dan bermain games.
Salah satu ciri kecerdasan emosonal ialah ketika seseorang berempati untuk melihat dan mendengarkan lingkungan sekitarnya. Sayangnya—secara tak sadar dan tanpa berpikir panjang—sikap tak acuh itu membuat Talitha lupa sekitar dan hanya fokus dalam kesenangan diri sesaat. Lalu yang menjadi titik kesadarannya untuk menghilangkan kebiasaan tak acuh adalah teguran.
Dalam peristiwa serupa, seseorang menegurnya. Orang itu berkata, “Lagi main apa? Seseru itu kah sampai berhasil ngalahin atensi kamu di ruangan ini?” Saat itu, ucapannya tidak Talitha anggap sebagai sindiran.
Kemudian hari, alunan suara yang sebelumnya dianggap basa-basi menjadi dengungan tak berakhir di kepala—dikenal dengan istilah overthinking. Tiap lontaran kata selalu menempel di ingatannya hingga membentuk kesadaran, “kok bisa aku nggak sadar? Kenapa bisa seegois itu demi menghilangkan bosan, padahal ada cara lebih bermanfaat lainnya untuk mengatasinya?”
Siapa pun pasti akan merasa kecewa jika pendapat yang mereka sampaikan tidak didengar. Saat itu Talitha belum menyadari dan tidak mencoba untuk berada diposisi mereka. Sikap tak acuh dan tak pikir panjang itu langsung menjadi pelajaran dalam memulai perubah untuk meningkatkan kecerdasan emosionalnya.
Proses yang Membutuhkan Konflik
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengenali, memahami, mengelola, dan memengaruhi emosi, baik pada diri sendiri maupun diri orang lain. Oleh karena itu, perlu usaha mengolahnya agar bersatu di dalam kebiasaan. Sewaktu-waktu fase ini sulit sekaligus mudah untuk dihadapi.
Menjadi sulit ialah wajar, sebab tidak mudah merubah kebiasaan yang telah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Lalu, menjadi mudah juga akan semakin wajar jika memiliki sikap optimis untuk memotivasi perubahan dalam kecerdasan emosional. Kunci kesuksesan menyerap kecerdasan ini ialah fokus dalam melihat efek positif jangka panjangnya.
Salah satu fase yang mengingatkan Talitha betapa sulit menjaga emosional tetap rasional ialah konflik di lingkungan pertemanan. Perbedaan pendapat bukan hal yang baru terjadi dalam suatu hubungan. Saat kecerdasan emosional belum tinggi, maka konflik yang berputar akan sulit terpecahkan.
Ketika marah, siapa pun akan fokus dalam penyebab kekacauan—mencari-cari kesalahan yang dimiliki lawannya. Tiap kalimat yang dilontarkan sudah menjadi template untuk menyakiti satu sama lain, seperti “kalau kamu seperti ini, pasti hal itu nggak bakal terjadi!”, “jangan sok tau! Kelakukan kamu aja belum benar!”, bahkan kepercayaannya pun mulai memudar “enak aja nuduh! Memangnya punya bukti?”, “aku sudah bilang, tapi kamu nggak pernah mau mendengarkan!”.
Hawa canggung dan gengsi berhasil memberi jarak ketika perdebatan sudah berakhir. Sayangnya, bukan jalan keluar yang ditemukan, melainkan jalur putus nan rusak yang mencerminkan konflik tak selesai. Jelas merupakan hasil akhir yang buruk.
Saat itu Talitha berpikir menghindar dan menjauh dari lawan ialah cara paling tepat. Namun, waktu yang berjalan dan semakin menjauhkan dari masa konflik malah menimbulkan ketidaknyamanan. Maka kuncinya? Turunkan ego, bersikap tenang, meminta maaf, kembali menceritakan ulang konflik dengan perspektif masing-masing, dan berusaha memahami lawan tanpa menyalahkan.
Memulai untuk melakukan memang tidak mudah, tetapi saat dijalankan rasanya lebih ringan. Kecerdasan emosional bukan hanya tentang mengontrol emosi, melainkan saat ia berusaha berpikir terbuka dan kritis dalam menghadapi tantangan. Selain itu, kecerdasan ini bukan tentang kesabaran saja, melainkan keberanian untuk bertindak dalam meneggakan kedamaian.








