Pulang untuk Membangun Papua, Kisah Dua Putra Daerah di Garda Depan Tim Ekspedisi Patriot 2026

Jumat, 24/07/2026 - 11:35
Foto : Istimewa

Foto : Istimewa

Klikwarta.com, Papua - Di banyak tempat, anak muda bermimpi meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik di kota-kota besar. Namun, pilihan itu tidak berlaku bagi Alexsander Leo Letsoin dan Dwi Sanjaya Rahayu Ohee. Ketika kesempatan datang melalui program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, keduanya justru memilih kembali ke pelosok Papua untuk mengabdikan ilmu, tenaga, dan harapan bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.

Bagi mereka, Papua bukan sekadar tempat lahir. Papua adalah rumah yang ingin mereka bangun bersama.

Alexsander, pemuda asal Merauke, Papua Selatan akan bertugas di Distrik Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Lulusan Universitas Musamus Merauke ini mengaku menjadi bagian dari Tim Ekspedisi Patriot bukan sekadar mengikuti program pemerintah, tetapi kesempatan untuk mengambil peran nyata dalam perubahan.

"Saya tidak ingin hanya menjadi penonton perubahan. Saya ingin menjadi bagian dari tim yang bergerak, membantu masyarakat, dan menciptakan cerita keren untuk Indonesia," ujarnya.

Lahir dan besar di ujung timur Indonesia membuat Alexsander memahami betul tantangan hidup masyarakat Papua. Keterbatasan akses, peluang ekonomi yang belum merata, hingga minimnya pendampingan bagi pelaku usaha kecil menjadi realitas yang ingin ia bantu ubah.

Karena itu, sebelum berangkat, ia telah menyiapkan program kerja yang berfokus pada penguatan UMKM masyarakat. Menurutnya, usaha kecil yang dikelola dengan baik mampu menjadi pintu masuk bagi meningkatnya kesejahteraan keluarga di kawasan transmigrasi.

"Saya ingin membantu usaha masyarakat menjadi lebih berkembang. Dari situ, masyarakat bisa lebih mandiri," kata Alexsander.

Persiapan keberangkatannya pun tidak rumit. Sebagai anak Papua, ia telah terbiasa dengan kondisi alam setempat. Namun, satu hal yang tak pernah luput dari tasnya adalah obat antimalaria.

"Yang paling penting saya siapkan adalah obat malaria karena risikonya cukup tinggi di beberapa wilayah Papua," ujar pemuda usia 23 tahun itu.

Semangat serupa juga terpancar dari Dwi Sanjaya Rahayu Ohee, dara kelahiran Jayapura lulusan Politeknik Negeri Jember. Bersama timnya, ia akan ditempatkan di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.

Bagi Dwi, menjadi bagian dari Tim Ekspedisi Patriot merupakan kesempatan emas untuk kembali mengabdi kepada tanah kelahirannya.

"Saya ingin mendedikasikan diri untuk pemberdayaan ekonomi di kawasan transmigrasi dan membawa perubahan positif di setiap wilayah yang kami kunjungi," tuturnya.

Ia meyakini, tantangan yang ditemui di lapangan justru menjadi ruang untuk melahirkan inovasi. Keterbatasan fasilitas tidak boleh menjadi alasan berhenti berkarya.

"Keterbatasan bisa menjadi ruang untuk berinovasi. Yang penting adalah membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat dan memahami budaya setempat," ungkap gadis 26 tahun itu.

Menurut Dwi, Tim Ekspedisi Patriot memiliki peran penting sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Melalui riset, pemetaan potensi wilayah, hingga penyusunan strategi pengembangan komoditas unggulan, hasil kerja para peserta diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi.

Ia juga menilai Program Transmigrasi Patriot menjadi bukti pembangunan kawasan transmigrasi kini tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, tetapi membangun ekosistem ekonomi yang melibatkan generasi muda sebagai motor perubahan.

"Program ini memberi ruang bagi anak muda untuk turun langsung, menganalisis potensi wilayah, dan menjadi bagian dari solusi pembangunan," ujarnya.

Sama seperti Alexsander, Dwi tidak memiliki banyak persiapan khusus menjelang keberangkatan. Berasal dari Papua membuatnya telah mengenal karakter wilayah yang akan ditempati. Namun, menjaga kesehatan tetap menjadi prioritas.

"Saya tetap mengonsumsi obat antimalaria sebelum berangkat ke Senggi. Selebihnya, tim kami sudah siap belajar dan bekerja bersama masyarakat," katanya.

Kisah Alexsander dan Dwi menjadi gambaran wajah Tim Ekspedisi Patriot. Program ini tidak hanya mengirim para sarjana ke kawasan transmigrasi, tetapi juga mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Di Papua, tempat keduanya akan mengabdi, tantangan pembangunan memang masih besar. Namun, di sanalah harapan juga tumbuh. Harapan itu hadir melalui anak-anak muda yang memilih kembali, bukan untuk mencari kenyamanan, melainkan menghadirkan perubahan.

Keberangkatan mereka membuktikan membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari pusat pemerintahan atau kota-kota besar. Perubahan juga lahir dari kampung-kampung di ujung timur negeri, ketika putra-putri daerah memutuskan pulang, bekerja bersama masyarakat, dan menyalakan harapan bagi masa depan tanah kelahirannya.

Itulah semangat yang dibawa Tim Ekspedisi Patriot 2026. Membangun kawasan transmigrasi bukan sekadar menjalankan program, tetapi menghadirkan generasi muda yang siap hidup bersama masyarakat, mendengar kebutuhan mereka, dan tumbuh bersama untuk mewujudkan kawasan transmigrasi sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. (**) 

Tags

Berita Terkait