Pudarnya Kata 4 Ajaib dalam Kalangan Remaja

Kamis, 16/06/2022 - 12:03
Sumber Foto :  Pinterest

Sumber Foto : Pinterest

Penulis : Fini Nola Rachmawati

Perkembangan kehidupan di era yang sangat cepat, menyebabkan banyaknya etika maupun norma terabaikan, terutama pada etika budaya Jawa. Oleh karena itu, etika budaya Jawa harus dibiasakan oleh orang tua hingga generasi muda sejak dini.

Tata krama sangat penting di kehidupan masyarakat. Contohnya dari 4 kata ajaib ini yaitu mengucapkan kata permisi ketika kita melewati sekumpulan orang, mengucapkan kata tolong untuk meminta bantuan, mengucapkan kata maaf bila melakukan kesalahan dan mengucapkan kata terima kasih.

Tata krama yang semula berlaku dalam lingkungan terbatas, lama kelamaan dapat merambat ke lingkungan yang lebih luas. Tata krama telah menjadi bagian dari pergaulan sehari-hari, dan sekarang ini sudah hampir jarang orang masih mengucapkan kata 4 ajaib ini.

“Di jaman sekarang ini, banyak orang yang tidak memperdulikan etika tatakrama seperti ini yang dianggapnya tidak terlalu penting,” ucap  Nurlaila

Ia juga merasakan kalau 4 kata ajaib memang ini  jarang sekali digunakan. “Pernah waktu itu saya ketika saya sedang duduk duduk bersama tetangga, eh ada seorang anak muda yang lewat di depan saya tanpa mengucapakan kata permisi atau sedikit senyum kepada orang yang dilewatinya. Dia malah hanya berjalan lurus seperti tidak ada orang” tambah Nurlaila.

Gaya hidup kebarat-baratan atau biasa dikenal dengan Westernisasi merupakan suatu gaya hidup yang meniru kehidupan bangsa barat yang jelas tidak sesuai dengan budaya tata krama bangsa ini. Kebudayaan dari barat ini sangat mempengaruhi nilai-nilai tradisional bangsa Indonesia. Para remaja Indonesia saat ini mengikuti dan mencontoh kebudayaan luar negeri dan melupakan nilai-nilai tradisional Negara sendiri, salah satunya sopan santun.

Memang tak dapat dipungkiri, seiring dengan perkembangan zaman, tingkah laku para remaja berubah dari waktu ke waktu.  Rasa hormat terhadap orang yang lebih tua secara terang-terangan sering kali tak ditunjukkan.

Secara tidak langsung dengan kurangnya sikap sopan santun dan bertatakrama, jati diri kita sebagai bangsa indonesia sudah mulai luntur. Inilah masalah terbesar yang timbul dari hal sepele, perkara yang seharusnya kita perhatikan sejak kita masih kecil, hal yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua.

Memang, masih banyak orang dari bangsa ini yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dan tatakrama, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang telah melupakan tentang nilai-nilai itu. Pada dasarnya kita harus sopan dimana saja, kapan saja, dan dalam kondisi apapun serta sopan santun sudah menjadi kepribadian kita.

“Ini yang harus kita jaga kembali. Boleh mengikuti trend di luar negeri, tapi sewajarnya dan jangan lupakan nilai-nilai kesopanan itu,” ucap Nurlaila dengan tegas.

Nilai-nilai tradisional sebenarnya sangatlah penting bagi remaja itu sendiri. Nilai sopan santun yang dibawa remaja akan memberi dampak positif bagi mereka. Remaja yang menjaga kesopanannya di mana saja dan terhadap siapa saja akan dinilai lebih oleh orang lain dan hal tersebut menjadikan image yang bagus bagi remaja itu sendiri. Menjaga kesopanan juga menjanjikan masa depan yang lebih baik karena orang-orang akan menganggap kita tinggi dan bermartabat.

Namun, apabila kita berkaca pada kehidupan bangsa saat ini, sungguh ironis sekali, banyak sekali pergeseran yang dilakukan oleh anak-anak remaja mengenai budaya sopan santun ini. Di majalah, televisi, internet, tak jarang orang berani melakukan perilaku yang sebenarnya dianggap tidak sopan, namun sudah dianggap biasa.

Oleh sebab itu, mulai dari diri kita saja harus memperbaiki diri lalu kita menjadi contoh yang baik dikalangan kita agar mereka terpengaruh dengan kita sehingga tersebarnya kembali budaya tata krama yang sesuai dengan bangsa Indonesia. (*)

Tags

Berita Terkait