Ilustrasi memberi (Sumber: Pexels.com/Erik Mclean)
By: Muhammad Fahrul Rozi
Stasiun memang tidak pernah sepi. Selalu saja ada orang yang lalu-lalang. Ada yang memang naik kereta untuk berangkat ke tempat kerja, ada juga yang sekadar ingin berkeliling saja.
Sabtu siang, aku bersama tiga orang temanku menunggu kereta arah Jakarta Kota lewat di Stasiun Depok Baru. Karena akhir minggu tidak ada jadwal kuliah, kami memutuskan untuk bermain bersama menghilangkan penat selama seminggu ini. Tidak butuh waktu lama, kereta pun datang dari arah Bogor. Perlahan kecepatan kereta tersebut menurun, hingga akhirnya berhenti. Pintu terbuka, penumpang bergantian turun dan naik.
Gerbong yang kami naiki tidak terlalu ramai, masih ada beberapa kursi yang kosong. Kami pun segera menempatinya. Setelahnya, klakson kereta berbunyi nyaring, dan kereta pun mulai meninggalkan peron. Tidak ada yang berbeda di perjalanan ini. Semua penumpang terdiam di balik masker mereka. Tidak ada pembicaraan antarpenumpang. Beberapa penumpang ada yang tidur, ada yang mengamati pemandangan lewat jendela, bahkan tak sedikit yang menunduk sambil memainkan handphone. Sesekali satpam datang memastikan kondisi tetap kondusif.
Sampai di Stasiun tujuan, kami segera turun dan keluar dari stasiun. Tujuan kami adalah Kota Tua. Jarak Kota Tua dari Stasiun Jakarta Kota tidak lah jauh. Jadi, tidak masalah untuk berjalan sebentar meski di bawah terik matahari.
Di sepanjang area Kota Tua, banyak berjejer gerobak pedagang yang menjajakan berbagai jenis makanan. Selain makanan, ada juga yang berjualan sandal, kaos, topi, dan lainnya.
Memasuki area dalam Kota Tua juga banyak yang berjualan. Mulai dari menjual barang berupa gelang dan cincin, hingga menjual jasa, seperti jasa lukis wajah dan jasa meramal garis tangan. Selain itu, ada juga manusia-manusia patung yang menggunakan kostum unik atau berdandan seperti karakter pahlawan. Terkadang ada anak-anak yang jahil mengganggu mereka yang sedang berpose layaknya sebuah patung.
Di kawasan Kota Tua juga terdapat Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Seni dan Keramik, Museum Bahari, Museum 3D, Museum Mandiri, dan Museum Bank Indonesia.
Semakin sore, semakin banyak pengunjung yang datang ke Kota Tua. Mereka datang bersama teman, pasangan maupun keluarga. Sesekali ada yang memintaku untuk memotret mereka.
Setelah menghabiskan hari di Kota Tua, kami pun pulang naik kereta tujuan akhir Bogor. Karena kami menaiki kereta beberapa detik sebelum pintu ditutup, kami tidak mendapat kursi untuk duduk. Setelah tiga gerbong kami lewati dan belum ada kursi kosong, akhirnya kami memutuskan untuk berdiri.
Penumpang silih berganti di setiap stasiun. Suasana dalam kereta semakin ramai. Mataku tertuju pada seorang wanita yang berdiri di depan kursi sambil berpegangan. Wanita yang menggunakan pakaian berwarna hijau tersebut sesekali tersentak karena hampir tertidur. Di depannya ada beberapa anak muda yang sibuk memainkan handphone. Mereka tidak menawarkan kursinya untuk wanita tersebut, bahkan melirik pun tidak.
Aku tidak bisa berbuat banyak karena aku pun belum mendapat kursi. Aku tidak bisa berhenti memperhatikan wanita tersebut, takut dia kehilangan keseimbangan karena mengantuk. Namun tidak berselang lama, ada seorang pemuda yang menawarkan kursinya untuk wanita tersebut. Aku menarik senyum dibalik maskerku.
Dari kejadian sederhana tersebut aku belajar bahwa jika kita tidak bisa menemukan orang baik, maka jadilah salah satunya. Terkadang kita memang membutuhkan sesuatu yang juga dibutuhkan orang lain, tapi untuk beberapa alasan tidak ada salahnya kita mengalah jika orang lain jauh lebih membutuhkan hal tersebut. (*)








