Ilustrasi mengantre/Sumber: pexels
Oleh : Bayu Ansar (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)
‘Antre’ atau ‘antri’ adalah kata yang sering kali salah dalam penulisannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata yang benar ditulis dengan cara ‘antre’. Oleh karena itu, kata ‘antri’ merupakan bentuk tidak baku dari kata ‘antre’.
Kata ‘antre’ memiliki arti berdiri berderet memanjang untuk mendapat giliran. Maka dari itu, tidak heran jika kata ‘antre’ sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masih banyak orang yang belum tepat saat menggunakan kata tersebut.
Kegiatan mengantre ini biasa ditemukan di tempat-tempat umum di mana banyak orang yang berinteraksi seperti, tempat makan, tempat ibadah, terminal, stasiun dan sebagainya.
Lalu, mengapa antre selalu diterapkan?
Tujuan antre adalah menertibkan pengunjung di suatu tempat agar tertib dalam menunggu gilirannya. Biasanya antre dilakukan dengan cara berdiri dan memanjang ke belakang, namun ada juga yang menggunakan nomor antrean dalam proses antrean.
Dalam hal tersebut, sering kali banyak yang menyelak urutan antre demi kepentingan diri sendiri. Namun, menyelak merupakan hal yang dilarang karena memiliki ganjarannya seperti keributan. Dalam mengantre akan selalu menemukan orang yang mengalah dalam antreannya kepada orang yang berada di belakangnya, hal tersebut disebut dengan istilah etika dalam mengantre.
Etika biasanya digunakan pada orang yang membutuhkan pertolongan pertama, lansia, ibu hamil, dan perempuan. Hal tersebut perlu dilakukan sebab mereka tidak miliki tenaga yang cukup saat mengantre dengan cara berdiri, hal terserbut juga biasa diterapkan saat berada di dalam kenderaan umum.
Jadi, budayakan lah mengantre dengan etika guna mewujudkan ketertiban dan kenyamanan saat berada di tempat umum. Antre merupakan hal kecil yang sangat berpengaruh dalam ketentraman kehidupan sehari-hari.








