Secangkir Emosi Tak Bertuan

Minggu, 25/05/2025 - 09:25
Ilustrasi Ayah dan Anak (Foto: Freepik.com)

Ilustrasi Ayah dan Anak (Foto: Freepik.com)

Oleh : Debby Alifah Maulida (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Klikwarta.com - Tuan, anakmu tak butuh uang. Memori bahagia masa remaja tak mampu dibeli dengan harga setinggi apa pun. Ia dirawat, tumbuh secantik rupa menjadi manusia yang paham berintuisi dengan baik.

Anak Remajamu, kawula yang tengah diselimuti rasa penasaran dengan dirinya sendiri. Ia butuh peranmu. Sebab Ayah bukan sekedar tulang punggung keluarga, namun juga sumber kepribadian anak.

Peran Ayah dalam kecerdasan emosional remaja sangat krusial. Ayah memiliki posisi penting dalam membentuk emosi anak. Bak pinang dibelah dua, Ayah adalah cermin emosi untuk putra-putrinya.

Ayah, anakmu layaknya sepucuk bunga. Ia butuh matahari untuk menyinari langkah nya. Ia butuh siraman kasih untuk menjaga cangkir emosinya agar tak berangsur rapuh.

Pilar Emosi Yang Tak Terawat

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI, Indonesia memiliki prevalensi gangguan mental emosional pada usia 15 tahun ke atas sebesar 9,8% dari tahun 2013-2018. Angka ini termasuk dalam kategori yang tinggi.

Angka tersebut menunjukkan usia remaja di Indonesia. Hal ini membuktikan remaja Indonesia kurang dapat mengelola emosi dengan baik. Mereka kehilangan pilarnya, mereka kehilangan arah jalannya.

Selain itu, mengacu pada data UNICEF tahun 2021, 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa figur seorang Ayah. Tenggelamnya sosok Ayah dalam dunia remaja akan berpengaruh pada perkembangannya, termasuk secara emosional.

Tanpa sosok Ayah, remaja akan larut dalam gelap. Hanya satu cahaya yang mampu menolongnya. Uluran tangan dan kasih sayang Ayah, cinta pertama untuk anaknya yang tengah belajar dewasa.

Sosok Ayah yang jauh dari pandangan akan menimbulkan pertanyaan untuk anak. Mengapa Ayah tak pernah bersama? Mengapa Ayah tak pernah jadi teman hidup yang baik dalam tiap momen anaknya?.

Pertanyaan-pertanyaan kecil yang hanya punya satu jawaban, peran Ayah. Pertanyaan itu akan menimbulkan keraguan dalam hati anak, cara mereka memandang hidup akan jauh berbeda.

Anak remaja cenderung kesulitan menjalin hubungan interpersonal. Rasa percayanya memudar karena wajah Ayah, panutan hidupnya tak pernah hadir. Mereka mengunci diri dalam emosi yang tak lagi terkendali.

Pulang Tuan, Rawat Pucuk Bungamu

Bagi anak perempuan, Ayah adalah wajah pertama bagaimana ia memandang sosok laki-laki yang baik. Jika cangkir emosi anak perempuan sudah dipenuhi oleh kasih sayang Ayah, ia tak akan mencarinya lagi di luar sana.

Namun, sebaliknya, cangkir yang senyap akan membuat anak perempuan haus akan kasih sayang. Ia akan menerima siapa pun untuk mengisi kosongnya cangkir itu, siapa pun yang mampu menerima dirinya, siapa pun yang membuatnya merasa lebih dihargai, siapa pun itu.

Tuan, siapkah kau kehilangan putrimu? Selapang apa relung hatimu untuk merelakan bunga secantik itu? Jatuh ia dalam pelukan nestapa. Hancur ia demi harapan yang fana. Pada akhirnya, putrimu, hanya boneka untuk para pemuja hawa nafsu yang tak kenal iba.

Tak hanya putrimu yang butuh diisi cangkirnya. Remaja laki-laki mu juga butuh dirawat perasaannya. Sedikit berbeda dengan perempuan, anak laki-laki yang tak mampu mengendalikan emosinya dengan baik cenderung melampiaskan hal tersebut dalam pergaulan.

Baginya, selama lingkungan itu mampu membuatnya merasa lebih nyaman dari rumah, maka selamanya itu lah tempat ia bernaung. Sebab rumah yang sebenarnya rumah tak mampu memberikan kehangatan yang seharusnya.

Hal ini tentu berbahaya. Tak semua pergaulan dapat dinilai baik. Sejak 1 Januari sampai 20 Februari 2025, sebanyak 437 anak harus berhadapan dengan hukum sebagai terlapor kasus pencurian, dilansir dari pusiknas.polri.go.id.

Data tersebut baru menunjukkan sedikit dari berbagai kasus tindak kenakalan remaja. Pergaulan yang salah akan membawa remaja jatuh dalam celaka yang nyata.

Ayah sudah sepantasnya menjadi cinta pertama putra-putrinya. Ayah sudah sepatutnya menjadi rumah untuk putra-putrinya. Ayah, seharusnya adalah sosok manusiawi yang menanam rasa dan karsa dalam kecerdasan emosional anak.

Rumah yang Harmonis, Cangkir Yang Terisi Manis

Keharmonisan Ayah dan remaja akan menciptakan kecerdasan emosional yang stabil. Remaja akan lebih mampu mengelola emosi dan mekar menjadi bunga yang lestari untuknya dan manusia-manusia di sekitarnya.

Remaja akan lebih merasa diterima, diperhatikan, dan percaya pada diri dan mampunya. Oleh sebab itu, peran Ayah sangat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang remaja. Peran Ayah dalam merawat kecerdasan emosional remaja merupakan hal yang serius.

Tanggung jawab mengurus anak bukan tanggung jawab tunggal seorang Ibu. Budaya patriarki yang mewabah di Indonesia perlu dibenahi. Ayah memiliki kewajiban yang setara dalam membesarkan anak.

Tak ada waktu yang pantas terbuang. Seorang Ayah semampunya harus meluangkan waktu untuk remaja. Dengan begitu, kehadiran Ayah akan terasa cukup untuk mengisi cangkir emosi yang kian menipis.

Interaksi kecil Ayah dan remaja juga menjadi momen yang tak ternilai harganya. Cara Ayah berkomunikasi dengan remaja akan membuat remaja merasa diterima dan didengarkan.

Bagi remaja, Ayah adalah telinga untuk tiap keluh kesahnya. Komunikasi yang terjalin dengan baik akan melahirkan keselarasan hati. Hubungan yang terjalin bukan sekadar ikatan darah, tapi juga ikatan rasa yang saling melindungi.

Remaja yang diterima dengan baik dalam keluarga nya cenderung mampu bersosialisasi dengan baik pula di luar rumah. Ia tak lagi mencari cinta yang hilang, cangkir emosinya sudah melimpah ruah.

Tuan, isilah cangkir emosi putra putrimu dengan penuh kasih. Rawat cangkir itu sepenuh hati. Biarkan anakmu mengenal cinta dari sosok yang dipanggilnya Ayah. Tumbuhlah ia sebagai pucuk bunga sejati yang mampu mengenali cangkir emosinya sendiri dan orang lain.

Tags

Berita Terkait