Simson Manuhutu Menjaga Api Juang Ayahnya

Minggu, 18/05/2025 - 20:47
Simson Manuhutu memegang buku Biografi Onny Manuhutu (Dokumen Pribadi/Rio Ferdinand)

Simson Manuhutu memegang buku Biografi Onny Manuhutu (Dokumen Pribadi/Rio Ferdinand)

Penulis : Rio Ferdinand

Klikwarta.com - Di jantung Kota Surabaya, megah berdiri sebuah bangunan tua bercorak kolonial yang tetap bertahan melawan gerusan zaman: Hotel Majapahit. Di balik kemewahan arsitekturnya yang kini diperbarui, tersimpan satu peristiwa heroik yang tak lekang oleh waktu—penurunan bendera Belanda dan pengibaran Merah Putih di puncak hotel yang dulu bernama Hotel Oranje, sebuah simbol bahwa Indonesia benar-benar telah merdeka. Salah satu pelakunya adalah Onny Manuhutu, seorang pemuda berusia 18 tahun saat itu. Kini, sang anak, Simson Manuhutu, mengenang kembali peristiwa bersejarah itu sebagai warisan perjuangan dan semangat juang yang tak ternilai.

Pada 19 September 1945, hanya sebulan lebih setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hotel Yamato (nama saat itu) menjadi pusat perhatian publik. Bendera Merah Putih Biru Belanda dikibarkan kembali oleh kelompok NICA (Netherlands Indies Civil Administration), seolah menegaskan bahwa Belanda masih berkuasa. Namun, rakyat Surabaya menolak keras simbol itu. Mereka tahu, kemerdekaan bukan sekadar proklamasi di Jakarta, tapi perjuangan nyata di setiap jengkal tanah air.

‎Onny Manuhutu, pelajar teknik mesin dari Malang yang kebetulan berada di Surabaya, ikut dalam barisan pemuda yang marah. Bersama rekan-rekannya, ia menerobos masuk ke dalam hotel, memanjat tangga darurat dari belakang, hingga akhirnya mencapai puncak bangunan. Di sana, ia menurunkan bendera Belanda dan menyobek bagian birunya. Merah Putih pun berkibar gagah.

"Ayah saya tidak pernah menyombongkan dirinya sebagai pahlawan," ujar Simson Manuhutu dalam wawancara khusus. "Tapi beliau tahu, apa yang dilakukan hari itu akan menentukan harga diri bangsa."

Menurut Simson, ayahnya menyebut momen itu sebagai "situasi yang mencekam". Di hotel masih bercokol tentara Jepang, dan di dalam kamar-kamar masih ada orang-orang Belanda. Namun, api semangat kemerdekaan lebih besar dari rasa takut. Bahkan, Onny sempat menerima caci maki dalam bahasa Belanda dari orang-orang NICA yang menyaksikan langsung bendera mereka diturunkan.

Namun perjuangan itu tidak selesai di hotel. Saat kembali ke kamp interniran tempat keluarganya tinggal di Tambakredjo, Onny justru mendapat cercaan dari sanak saudara KNIL. Bahkan ibunya sendiri sempat mengecam tindakannya. “Mengapa mama sering menceritakan riwayat Pattimura kepada saya? Apakah dia bukan pejuang kemerdekaan?” tanya Onny pada tulisan buku Biografi nya. Jawaban ibunya hanya lirih, “Itukan supaya kamu tahu.”

Perjuangan Onny adalah juga kisah tentang konflik batin. Lahir dari keluarga KNIL dan hidup di bawah bayang-bayang Belanda, ia justru memilih menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia mencintai bangsanya melebihi darah dan warisan kolonial yang mengalir dalam keluarganya.

‎"Papa saya hidup dalam dua kutub yang saling berseberangan," kata Simson. "Tapi justru karena itu, semangat juangnya murni. Dia tidak dididik untuk menjadi nasionalis, tapi ia memilih untuk menjadi bagian dari Indonesia yang merdeka."

‎Peristiwa penurunan bendera itu pun menjadi pemantik pertempuran 10 November di Surabaya, yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Dari sebuah aksi simbolik di atas hotel, lahir perlawanan yang membawa pengakuan dunia terhadap kemerdekaan bangsa.

Kini, Hotel Oranje telah menjelma menjadi Hotel Majapahit yang mewah, dikelola oleh grup internasional, dengan kolam renang, restoran Jepang, dan suite termewah di Indonesia. Namun, di balik keanggunan fasilitasnya, masih terukir luka sejarah dan semangat juang pemuda-pemuda yang dulu bertaruh nyawa demi sehelai kain Merah Putih.

‎“Saya berharap pengelola hotel dan pemerintah tidak melupakan peristiwa 19 September,” ujar Simson. “Itu bukan sekadar sejarah, tapi nyawa dari tempat ini.”

‎Apa yang dilakukan Onny Manuhutu di usia 18 tahun adalah cermin dari apa yang dibutuhkan bangsa ini hari ini: keberanian, keteguhan hati, dan pilihan untuk berdiri di pihak yang benar, meski itu berarti menentang darah daging sendiri. Semangat juang bukan hanya soal perang dan senjata, tapi soal prinsip dan pengorbanan untuk masa depan.

‎Dan kini, ketika generasi muda mencari inspirasi di tengah hiruk-pikuk modernitas, kisah Onny dan bendera yang sobek itu adalah pelajaran hidup yang paling nyata. Seperti kata Simson: “Semangat itu harus tetap hidup. Kalau tidak, kita hanya akan jadi penumpang di negeri sendiri.”

‎Hotel Majapahit bisa saja berganti nama, pemilik, bahkan bentuk bangunannya. Namun kisah tentang seorang pemuda yang mendaki atapnya untuk mengibarkan Merah Putih tidak akan pernah usang. Itu adalah kisah tentang Indonesia sendiri. Sebuah negeri yang lahir bukan dari konsensus, tapi dari semangat juang yang tak pernah padam.

Tags

Berita Terkait